Tampilkan postingan dengan label Bacaan Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bacaan Islami. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Maret 2017

5 Tanda Ibadah Shalat Diterima

Shalat adalah tiang agama. Bagian Pondasi dari Agama Islam. Shalat adalah amal yang paling pertama ditanya oleh Allah di hari kiamat.
Kwalitas iman seseorang dalam Islam dapat diukur dengan komitmennya terhadap pengamalan ajaran yang ada, baik itu yang berkaitan dengan kehidupan pribadi maupun sosial kemasyarakatan. Shalat sebagai salah satu dari rukun Islam tentu merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan bagi setiap muslim. Namun lebih dari itu sebetulnya shalat tidak hanya merupakan kewajiban tetapi juga merupakan kebutuhan bagi kaum yang beriman, karena shalat merupakan tiang agama.

Begitu pentingnya kedudukan shalat dalam syari’at Islam, sehingga shalat merupakan kewajiban yang pertama kali harus dilaksanakan setelah seorang muslim mengakui kebenaran atas keberadaan Tuhan, yakni Allah Swt. dan shalat itu akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi orang yang mampu menyelami makna shalat, sekurang-kurangnya ia akan merasa sangat dekat dengan Tuhannya.

Shalat dalam Islam mempunyai kedudukan yang sangat penting, sehingga Rasulullah menyatakan bahwa shalat tiang agama Islam.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

اَلصَّلاَةُ عِمَادُ الدّيْنِ فَمَنْ اَقَامَهَا فَقَدْ اَقَامَ الدّيْنِ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدّيْنِ

Artinya: “Shalat adalah tiang agama. Barang siapa yang menegakkan shalat,maka berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat berarti ia merobohkan agama”. (HR. Bukhari Muslim)

Tugas seorang hamba adalah beribadah kepada Allah Swt. Salah satunya adalah shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Shalat dikatakan sah, apabilah rukun dan syaratnya terpenuhi. Akan tetapi Tidak ada yang bisa menjamin dan tidak ada yang tahu pasti apakah shalat yang kita lakukan diterima oleh Allah atau tidak walaupun secara hukum fiqih sah..

Siapakah di antara kita yang diterima shalatnya? Dan seperti apa tanda-tanda orang yang diterima shalatnya?

Adapun tanda-tanda yang isyaratkan diterimanya shalat, sebagai berikut :

Dalam hadis Qudsi, juga disebutkan mengenai orang-orang yang diterima shalatnya oleh Allah Swt.

“Sesunggunya Aku (Allah Swt.) hanya akan menerima shalat dari orang yang dengan shalatnya itu dia merendahkan diri di hadapan-Ku. Dia tidak sombong dengan mahkluk-Ku yang lain. Dia tidak mengulagi maksiat kepada-Ku. Dia mengisi sebagian siang dengan berzikir kepadaku. Dia menyayangi orang-orang miskin dan orang-orang yang menderita. Aku akan tutup shalat orang itu dengan kebesaran-Ku. Aku akan menyuruh malaikat untuk menjaganya. Dan kalau dia berdoa kepada-Ku, Aku akan memperkenankannya. Perumpamaan dia dengan mahkluk-Ku yang lain adalah seperti perumpamaan firdaus di surga.”

1. Orang yang Selalu Merendahkan diri.
Shalat yang dilakukan dengan merendahkan diri. Maksudnya, salat secara khusyuk, menjiwai, takut dan merendahkan diri di hadapan Allah.

Contoh: Sayidina Ali bin Abi Thalib setiap mau salat, tubuhnya gemetar, wajahnya pucat pasi. Seseorang bertanya, "Ada apa dengan engkau, ya Amirul Mu'minin?"

Beliau jawab, "Engkau tidak tahu bahwa sebentar lagi aku akan hadapi waktu amanah." 

Beliau melanjutkan, "Shalat adalah suatu amanah Allah yang pernah ditawarkan kepada langit, bumi, bukit untuk memikulnya. Tetapi, mereka menolaknya karena khawatir akan mengkhianatinya, dan sekarang aku mengembannya.”

Tidak jauh beda dengan Sayyidina Ali, Khalifah Umar bin Khattab yang dikenal sangat gagah berani bahkan ditakuti setan pun senantiasa bercucuran air mata setiap melaksanakan salat.


2. Orang yang Tidak Sombong dengan Makhluk Allah yang lain.
Jadi, tanda orang yang diterima shalatnya ialah tidak takabur (sombong). Takabur, menurut Imam Ghazali, ialah sifat orang yang merasa dirinya lebih besar daripada orang lain. Kemudian ia memandang enteng orang lain itu. Boleh jadi ia bersikap demikian dikarenakan ilmu, amal, keturunan, kekayaan, anak buah, atau kecantikannya.

Kalau anda merasa besar karena memiliki hal-hal itu dan memandang enteng orang lain, maka anda sudah takabur. Dan shalat anda tidak diterima. Bahkan dalam hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,

“Takkan masuk surga seseorang yang didalam hatinya ada rasa takabur walaupun sebesar debu saja.”

3. Orang yang Bisa Menahan Nafsu.
Apabila shalatnya tersebut mampu menjadi alat kontrol untuk mengendalikan hawa nafsunya.

Sabda Rasulullah Saw, "Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah dari kejelekan dan kemungkaran, maka shalatnya hanya akan menjauhkan dirinya dari Allah"

Hadits lain, "Nanti, pada hari kiamat, ada orang yang membawa shalatnya di hadapan Allah. Lalu shalatnya diterima dan dilipat-lipat seperti dilipat-lipatnya pakaian yang kotor dan usang. Lalu shalat itu dilemparkan ke wajahnya."

4. Orang yang Selalu Banyak Berdzikir.
Shalat tersebut menjadi motivasi untuk semakin banyak berdzikir mengingat Allah serta menambah amal ibadah lagi.

Dalam surat Al-Mulk, "Allah akan menguji kamu siapa yang paling baik amalannya.”

5. Orang yang Menyayangi orang-orang Miskin.
Kalau di terjemahkan dengan kalimat modern, hal ini berarti orang yang mempunyai solidaritas sosial. Dia bukan hanya melakukan rukuk dan sujud saja, tetapi dia juga memikirkan penderitaan sesamanya. Dia menyisihkan sebagian waktu dan rezekinya untuk membahagiakan orang lain.

Rasul Saw bersabda, ”Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan dekat dengan surga. Sedangkan orang yang bakhil atau pelit, jauh dari Allah, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka.

Demikianlah sahabat bacaan madani tentang tanda diterimanya amal ibadah shalat seseorang. Mudah-mudahan ibadah shalat kita diterima Allah Swt. Aamiin.

Kamis, 09 Maret 2017

Sengsaranya Orang yang Menerima Kitab dari Sebelah Kiri di Akhirat

Seluruh manusia akan dikumpulkan kelak di padang Mahsyar setelah hari kiamat dan berbangkit. Setiap manusia akan dihisab dan timbang seluruh amalnya selama hidup di dunia. Setelah selesai penimbangan amal perbuatan, akhirnya kitab perbal amal akan diberikan dan diterimakan kepada masing-masing terdakwa yg bersangkutan, hal itu telah benar-benar dijelaskan di dalam Al Qur'an dengan tegasnya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan, “Yang tampak dari perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, umat manusia akan mengambil/menerima kitab catatan amal mereka dengan tiga cara: dengan tangan kanan, dengan tangan kiri, dan dari balik punggung.”

Akan tetapi, yang tampak, ini adalah perbedaan sifat saja. Orang yang menerima kitab catatan amal dari balik punggungnya ialah orang yang menerima kitab catatan amalnya dengan tangan kirinya. Artinya, dia menerima dengan tangan kiri sembari menjulurkannya ke arah belakang punggungnya karena ia termasuk golongan kiri. Adapun ia mengambil kitab catatan amal itu balik punggungnya karena ketika di dunia, Kitabullah mendatanginya namun dia membalikkan punggungnya. Jadi, adalah adil baginya jika kitab catatan amal diletakkan di balik punggungnya pada hari kiamat. (Syarah Aqidah Wasithiyah, 2/150—151)

Adapun sengsara orang-orang yang menerima kitabnya dari sebelah kiri di jelaskan Allah Swt dalam Al-Qur'an.

Allah Swt Berfirman :
وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ .وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ .يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ .مَا أَغْنَىٰ عَنِّي مَالِيَهْ ۜ .هَلَكَ .عَنِّي سُلْطَانِيَهْ .خُذُوهُ فَغُلُّوهُ .ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ .ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ .إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ .وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ .فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هَاهُنَا حَمِيمٌ .وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنْ غِسْلِينٍ .لَا يَأْكُلُهُ إِلَّا الْخَاطِئُونَ

"Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: "Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku".
(Allah berfirman): "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa" (QS. Al-Haqooh : 25-37)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir di Jelaskan :
Dan inilah berita tentang orang-orang yang sengsara, jika salah seorang diantara mereka diberi buku catatan amalnya dalam persidangan kelak dari sebelah kirinya, Pada saat itu yang ada hanyalah penyesalan yang tiada terhingga . Maka dia berkata "Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku ini, Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku", Dia tidak dapat menerima kenyataan yg amat buruk terhadap dirinya.

Serta dia berkata :"Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu, Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku", artinya dia berharap bahwa kematian adalah akhir segala-galanya dan tidak dimintai pertanggunganjawab. serta dia berkata bahwa harta dan kekuasaanya di dunia tidak bermanfaat sama sekali dan tidak dapat menghindarkan dirinya dari azab Allah Swt, serta tidak ada sesuatupun penolong terhadap dirinya.

Kemudian Allah Swt berfirman: "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala, Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta", yaitu Allah memerintahkan Malaikat Zabaniyah untuk mengambilnya dan menyeretnya dengan kasar di padang Mashar, kemudian dibelenggulah tangan, serta dibelitkan rantai dilehernya, dimana panjang rantai tersebut sepanjang 70 hasta, Ibnu Abbas berkata yaitu ukuran hastanya Malaikat. untuk kemudian di seret, dan kemudian diceburkan kedalam Neraka Jahannam yang menyala-nyala.

"Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini", yaitu dahulu dia tidak memenuhi hak Allah terhadap dirinya, berupa ketaatan dan Ibadah kepada-Nya, serta tidak memberikan manfaat kepada sesama makhluk dan tidak menunaikan Hak-hak mereka, yaitu hak berbuat baik dan memberi bantuan dan pertolongan dalam kebaikan dan ketakwaan.

"Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa", yaitu tidak ada satupun penolong baginya dari Azab Allah serta tidak ada seorang pemberi syafaat pun baginya.

Serta tidak ada Makanan lain kecuali dari darah dan nanah. Qatadah mengatakan, yaitu makanan yg paling buruk untuk para penghuni neraka, Ali bin Abi Thalhah mengatakan, yaitu nanah yang berasal dan keluar dari tubuh para penghuni neraka, itulah makanan untuk para orang-orang kafir dan pelaku dosa-dosa besar.
(Sumber Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Haqooh)

Penyebab Kebinasaan Seseorang

Pada dasarnya, dunia dengan segala kenikmatan yang terdapat di dalamnya bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Ia boleh saja dinikmati, namun tidak menyimpang dari ketentuan Allah swt. Bila tidak, umat ini justru akan tenggelam dalam kenikmatan itu yang membuatnya menjadi binasa. Rasulullah Saw sudah mengingatkan soal ini kepada para sahabat yang berarti kepada kita semua dalam salah satu sabdanya,

"Akan datang suatu masa di mana kamu akan diperebutkan oleh umat lain sebagaimana makanan lezat diperebutkan oleh orang yang lapar". Para sahabat bertanya, "Apakah saat itu jumlah kami sedikit ya Rasulullah ?" Beliau menjawab, "Tidak, bahkan jumlah kamu banyak, tetapi seperti buih di lautan karena kalian terserang penyakit wahn." Mereka bertanya lagi, "Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Terlalu cinta dunia dan takut kepada mati" (HR. Abu Dawud)

Manakala kita tidak ingin mengalami kebinasaan, maka tidak ada pilihan kecuali terus melakukan gerakan perbaikan dan melestarikan nilai-nilai kebaikan yang sesuai dengan ketentuan Allah dan RasulNya, Allah Swt berfirman,

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Huud:117)

Adapun yang menyebabkan kebinasaan seseorang di jelaskan oleh Rasulullah Saw melalui sabdanya yang berbunyi,

Dari Abu Hurairah Ra. ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, "Akan datang suatu zaman saat itu orang yang beriman tidak akan dapat menyelamatkan imannya, kecuali bila dia lari membawanya dari puncak bukit ke puncak bukit yang lain dan dari suatu gua ke gua yang lain. Maka apabila zaman itu telah tiba, segala mata pencarian (pendapatan kehidupan) tidak dapat diperoleh kecuali dengan melaksanakan sesuatu yang menyebabkan kemurkaan Allah Swt. Apabila ini telah terjadi, maka kebinasaan seseorang adalah dari sebab mengikuti kehendak isteri dan anak-anaknya. Kalau ia tidak mempunyai isteri dan anak, maka kebinasaannya dari sebab mengikuti kehendak kedua orang tuanya. Dan jikalau orang tuanya sudah tidak ada lagi, maka kebinasaannya dari sebab mengikuti kehendak familinya atau dari sebab mengikuti kehendak tetangganya".

Sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah Saw, apakah maksud perkataan engkau itu?" (kebinasaan seseorang karena mengikuti kemauan isterinya, atau anaknya, atau orang tuanya, atau keluarganya, atau tetangganya). 

Nabi Saw menjawab, "Mereka akan menghinanya dengan kesempitan kehidupannya. Maka ketika itu lalu dia menceburkan dirinya di jurang -jurang kebinasaan yang akan menghancurkan dirinya." (HR Baihaqi).

Kita tidak pernah dilarang untuk memenuhi kemauan istri, anak, orang tua maupun keluarga, selama kemauan mereka itu masih dalam kewajaran dan tidak melanggar syari’at Allah dan Rasulnya.

Akan tetapi perlu diingat apabila telah melanggar aturan Allah dan rasulnya. Maka inilah yang menyebabkan kebinasaan dirinya. Keterangan Benar sekali sabda Rasulullah Saw ini. Banyak orang yang mengetahui perkara-perkara yang diharamkan dalam agama namun oleh karena mengikuti kemauan isteri, anak, orang tua, famili atau tetangganya, dia sanggup menceburkan diri ke dalam jurang kemaksiatan demi untuk memuaskan hati mereka. Sebagai contoh korupsi atau mencuri untuk memenuhi kemauan istri, anak, orang tua, keluarga maupun tetangga.

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang hadits Rasulullah Saw yang menjelaskan tentang penyebab kebinasaan seseorang. Mudah-mudahan kita semua di jauhkan dari sifat yang demikian. Aamiin.

Rabu, 08 Maret 2017

Pemabuk Akan Di Tuangi Minuman dari Sungai Ghuthah dan Thinatul Khabal di Neraka

Larangan minum khamr (minuman keras), diturunkan secara berangsur-angsur. Sebab minum khamr itu bagi orang Arab sudah menjadi adat kebiasaan yang mendarah daging semenjak zaman jahiliyah. Mula-mula dikatakan bahwa dosanya lebih besar daripada manfaatnya, kemudian orang yang mabuk tidak boleh mengerjakan shalat, dan yang terakhir dikatakan bahwa minum khamr itu adalah keji dan termasuk perbuatan syaithan. Oleh sebab itu hendaklah orang-orang yang beriman berhenti dari minum khamr.

Begitulah, akhirnya Allah mengharamkan minum khamr secara tegas. Adapun firman Allah Swt yang pertama kali turun tentang khamr adalah :

يَسْئَلُوْنَكَ عَنِ اْلخَمْرِ وَ اْلمَيْسِرِ، قُلْ فِيْهِمَا اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّ مَنَافِعُ لِلنَّاسِ، وَ اِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَا، وَ يَسْأَلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ، قُلِ اْلعَفْوَ، كَذلِكَ يُبَيّنُ اللهُ لَكُمُ اْلايتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ. 

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafqahkan. Katakanlah, "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu berfikir.” (QS. Al-Baqarah : 219)

Di dalam hadits riwayat Ahmad dari Abu Hurairah diterangkan sebab turunnya ayat tersebut sebagai berikut : Ketika Rasulullah Saw datang ke Madinah, didapatinya orang-orang minum khamr dan berjudi (sebab hal itu sudah menjadi kebiasaan mereka sejak dari nenek moyang mereka). Lalu para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw tentang hukumnya, maka turunlah ayat tersebut. Mereka memahami dari ayat tersebut bahwa minum khamr dan berjudi itu tidak diharamkan, tetapi hanya dikatakan bahwa pada keduanya terdapat dosa yang besar, sehingga mereka masih terus minum khamr. Ketika waktu shalat Maghrib, tampillah seorang Muhajirin menjadi imam, lalu dalam shalat tersebut bacaannya banyak yang salah, karena sedang mabuk setelah minum khamr. Maka turunlah firman Allah yang lebih keras dari sebelumnya, yaitu :

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا لاَ تَقْرَبُوا الصَّلوةَ وَ اَنْتُمْ سُكرى حَتّى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ. 

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati shalat padahal kamu sedang mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” (QS. An-Nisaa' : 43)

Kemudian orang-orang masih tetap minum khamr, sehingga mereka mengerjakan shalat apabila sudah sadar dari mabuknya. Kemudian diturunkan ayat yang lebih tegas lagi dari ayat yang terdahulu :

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْآ اِنَّمَا اْلخَمْرُ وَ اْلمَيْسِرُ وَ اْلاَنْصَابُ وَ اْلاَزْلاَمُ رِجْسٌ مّنْ عَمَلِ الشَّيْطنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ اْلعَدَاوَةَ وَ اْلبَغْضَآءَ فِى اْلخَمْرِ وَ اْلمَيْسِرِ وَ يَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَ عَنِ الصَّلوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ. 

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah : 90-91)

Dari ayat-ayat diatas, sudah jelas bahwa Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan khamr dengan pengharaman yang tegas. Dan bahkan peminumnya dikenai hukuman had. Rasulullah SAW menghukum peminum khamr dengan 40 kali dera.

Dari Anas bin Malik Ra, berkata :
"Bahwa Nabi Saw pernah didatangkan seorang lelaki yg telah meminum khamar/arak, lalu beliau menderanya dengan 2 tangkai pohon kurma sebanyak 40 Kali." (HR. Muslim No.3218)

Kelak orang-orang yang meminum khamr yang meninggal dalam keadaan belum bertaubat akan mendapat siksa di neraka. Sebagaimana Sabda Rasulullah Saw,

“Ada 3 golongan yang tidak masuk surga: yaitu orang yang terus menerus meminum arak, memutuskan hubungan silaturrahim, dan mempercayai sihir. Dan siapa yang mati sebagai pecandu minuman keras niscaya Allah Swt menuanginya dari sungai ghuthah." Ada yang bertanya: “Apakah sungai ghuthah itu?” Beliau Rasulullah Saw menjawab: “Sungai yang mengalir dari kemaluan wanita pelacur yang berbau busuk dimana bau tersebut menyakiti para penghuni neraka." (HR. Ahmad 4/399 dan dishahihkan al-Hakim)

Rasulullah Saw juga bersabda,

“Sesungguhnya Allah Swt berjanji untuk orang yang meneguk minuman keras akan meminumi dia dari thinatul khabal. Mereka bertanya: “Apakah thinatul khabal itu? Beliau Rasulullah Saw menjawab: “Yaitu keringatnya penghuni neraka atau perasan penghuni neraka.” (HR. Muslim 2002, an-Nasa`i 5709, dan Ahmad 3/361)

Demikianlah sahabat bacaan madani ayat dan hadits yang berkaitan dengan khamr. Mudah-mudahan kita dan keluarga kita di jauhkan dari mengkonsumsi khamr dan sejenisnya. Aamiin.

Makanan Roh agar Selalu tetap Sehat

Roh atau ruh adalah unsur non-materi yang ada dalam jasad yang diciptakan Allah Swt sebagai penyebab adanya kehidupan. Roh atau ruh merupakan suatu hakikat yang tidak berada dalam koridor ruang-waktu dan tidak memiliki tipologi materi, maka ia tidak berada dalam cakupan indera lahiriah dan penglihatan kasat mata.

Roh seperti tubuh-juga dapat berada dalam berbagai keadaan. Imam Ali kw berkata, "Sesungguhnya tubuh mengalami enam keadaan; sehat, sakit, mati, hidup, tidur, dan bangun. Demikian pula roh. Hidupnya adalah ilmunya, matinya adalah kebodohannya., sakitnya adalah keraguannya, dan sehatnya adalah keyakinannya, tidurnya adalah kelalaiannya, dan bangunnya ialah penjagaannya." (BiharAl-Anwar 61:40)

Seperti tubuh, roh pun memerlukan makanan. Mulla Shadra tidak menyebutnya makanan. Ia menyebutnya rezeki. Ia berkata, 'Setiap yang hidup perlu rezeki, dan rezeki arwah adalah cahaya-cahaya ilahiah dan ilmu-ilmu rabbaniah.' (Mafatih AI-Ghaib 545)

Untuk meningkatkan kualitas roh, supaya ia sehat dan kuat, kita perlu memberikan kepadanya cahaya-cahaya ilahiah dalam bentuk zikir, doa, dan ibadat-ibadat lainnya seperti salat, puasa, dan haji. Pada Bulan Ramadhan, kita berusaha menerangi roh kita dengan berbagai makanan rohani. Kita mandikan roh kita dengan proses pensucian batin, seperti istighfar, mengendalikan hawa nafsu, dan menjauhi kemaksiatan. Karena itu Nabi saw bersabda,

'Bulan Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan atas kamu puasanya dan disunnahkan bagimu bangun malamnya. Barangsiapa yang berpuasa dan melakukan salat malamnya dengan iman dan ikhlas, Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu." (Dalam riwayat lain) "la akan keluar dari dosa-dosanya seperti ketika ia keluar dari perut ibunya."

Kita menghidupkan roh dengan ilmu-ilmu rabbaniah. Inilah yang kita maksud dengan dimensi intelektual dari keberagamaan kita. Ada ilmu-ilmu yang membantu kita untuk memelihara kesehatan tubuh kita seperti ilmu gizi, kedokteran, ekologi, dan sebagainya. Di samping itu, ada ilmu-ilmu yang menolong kita untuk menyehatkan roh kita: ilmu-ilmu tentang Al-Quran dan Sunnah (syariat), ilmu-ilmu tentang cara mendekatkan diri kita kepada Allah (thariqat), dan ilmu-ilmu berkenaan dengan pengalaman rohaniah (haqiqat).

Seperti tubuh, roh yang tidak diperhatikan dan dipelihara, roh yang kekurangan makanan akan menjadi roh yang lemah, sakit-sakitan, dan akan dikuasai setan. Roh yang sakit tampak dalam gejala-gejala seperti kegelisahan, keresahan, kebingungan, hidup yang tidak bermakna, hidup tanpa tujuan, kosongan eksistensial. Pendeknya, roh yang sakit tampak dalam hidup yang tidak tentram. Al-Quran melukiskannya,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha : 124)

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan diberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An'am : 125).

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang makanan atau konsumsi roh agar selalu sehat. Mudah-mudahan kita selalu bisa memberikan makanan roh kita. Aamiin. oleh : Prof.Dr.KH. Jalaluddin Rakhmat

Laporan Malaikat Kepada Allah Tentang Orang yang Berzikir

Zikir merupakan perintah Allah yang dapat memberikan keselamat di dunia dan di akhirat. Ketentraman yang didambakan akan terwujut bagi orang yang gemar berzikir. Zikir juga menghilangkan kemunafikan, mengusir setan perusak hati, menguatkan iman seorang hamba, membersihkan hati dari karat dosa, dan zikir termasuk ibadah yang disukai oleh Allah. Zikir juga menjaga hamba terjatuh pada kehinaan.

Subhanallah, begitu besar rahasia zikir bagi kehidupan manusia, hingga baginda Rasul Saw tidak pernah lepas dari berzikir. Semua waktunya beliau pergunakan untuk berzikir kepada Allah. Karena itu, berzikirlah kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring, sakit atau sehat, lapang atau sempit, diwaktu malam atau siang hari, di dalam rumah atau di luar rumah, di daratan atau di lautan, diwaktu kaya atau miskin, dengan pelan-pelan atau terang-terangan, intinya dalam setiap keadaan. Jika ini yang kita lakukan dalam menjalani kehidupan ini, insyaallah hidup kita akan tenang dan tentram.

Allah memuliakan orang yang senang mengingat Allah. Allah akan mengingat orang yang mengingat-Nya.

فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ 

“Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku (Allah) akan ingat kepadamu.”  (QS. Al-Baqarah: 152)

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa malaikat selalu mencari majelis zikir serta berkumpul dengan orang-orang yang berzikir sampai selesai.

Dari Abu Hurairah Ra: Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkahi lagi Maha Tinggi memiliki banyak malaikat yang selalu mengadakan perjalanan yang jumlahnya melebihi malaikat pencatat amal, mereka senantiasa mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka mendapati satu majelis zikir, maka mereka akan ikut duduk bersama mereka dan mengelilingi dengan sayap-sayapnya hingga memenuhi jarak antara mereka dengan langit dunia. Apabila para peserta majelis telah berpencar mereka naik menuju ke langit.”

Rasulullah Saw melanjutkan: “Lalu Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menanyakan mereka padahal Dia lebih mengetahui daripada mereka: Dari manakah kamu sekalian?”

Mereka menjawab: “Kami datang dari tempat hamba-hamba-Mu di dunia yang sedang mensucikan, mengagungkan, membesarkan, memuji dan memohon kepada Engkau.”

Allah Swt bertanya lagi: “Apa yang mereka mohonkan kepada Aku?”

Para malaikat itu menjawab: “Mereka memohon surga-Mu.”

Allah Swt bertanya lagi: “Apakah mereka sudah pernah melihat surga-Ku?”

Para malaikat itu menjawab: “Belum wahai Tuhan kami.”

Allah Swt berfirman: “Apalagi jika mereka telah melihat surga-Ku?”

Para malaikat itu berkata lagi: “Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu.”

Allah Swt bertanya: “Dari apakah mereka memohon perlindungan-Ku?” 

Para malaikat menjawab: “Dari neraka-Mu, wahai Tuhan kami.”

Allah Swt bertanya: “Apakah mereka sudah pernah melihat neraka-Ku?”

Para malaikat menjawab: “Belum.”

Allah Swt berfirman: “Apalagi seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku?”

Para malaikat itu melanjutkan: “Dan mereka juga memohon ampunan dari-Mu.”

Beliau bersabda kemudian Allah berfirman: “Aku sudah mengampuni mereka dan sudah memberikan apa yang mereka minta dan Aku juga telah memberikan perlindungan kepada mereka dari apa yang mereka takutkan.”

Rasulullah Saw melanjutkan lagi, lalu para malaikat itu berkata: “Wahai Tuhan kami! Di antara mereka terdapat si Fulan yaitu seorang yang penuh dosa yang kebetulan lewat lalu duduk ikut berzikir bersama mereka.”

Rasulullah Saw berkata, lalu Allah menjawab: “Aku juga telah mengampuninya karena mereka adalah kaum yang tidak akan sengsara orang yang ikut duduk bersama mereka.” (HR. Muslim)

Demikianlah sahabat bacaan madani hadits tentang malaikat selalu mencari majlis-majlis zikir serta berkumpul dengan orang-orang yang berzikir tersebut. mudah-mudahan kita selalu bisa berzikir kepada Allah Swt. aamiin.

Selasa, 07 Maret 2017

4 Kali Rasulullah Saw Bolak Balek Memberi Syafa’at Kepada orang Mukmin

Syafaat berasal dari kata asy-syafa’ (ganda) yang merupakan lawan kata dari Al-witru (tunggal), yaitu menjadikan sesuatu yang tunggal menjadi ganda, seperti membagi satu menjadi dua, tiga menjadi empat, dan sebagainya. Ini pengertian secara bahasa.

Sedangkan secara istilah, syafaat berarti menjadi penengah bagi orang lain dengan memberikan manfaat kepadanya atau menolak mudharat, yakni pemberi syafaat itu memberikan manfaat kepada orang itu atau menolak mudharatnya.

Syafa’at yang dimaksud disini adalah syafa’at yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw dan merupakan syafaat terbesar yang terjadi pada hari Kiamat. Tatkala manusia dirundung kesedihan dan bencana yang tidak kuat mereka tahan, mereka meminta kepada orangorang tertentu yang diberi wewenang oleh Allah untuk memberi syafa’at. Mereka pergi kepada Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa. Tetapi mereka semua tidak bisa memberikan syafaat hingga mereka datang kepada Nabi Saw, lalu beliau berdiri dan memintakan syafaat kepada Allah Swt, agar menyelamatkan hamba-hamba-Nya dari adzab yang besar ini. Allah Swt pun memenuhi permohonan itu dan menerima syafaatnya.

Dari Anas bin Malik ra. bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda : "Orang-orang mu'min berkumpul pada hari Qiamat, mereka diberi ilham atau mereka sedih, dimana Sa'id ragu mereka berkata :

"Seandainya kita mohon syafa'at kepada Tuhan kita, hingga Dia melonggarkan kita ditempat kita ini".

Lalu mereka datang kepada Adam dan berkata : "Engkau Adam adalah bapak manusia. Allah telah menjadikanmu dengan tangan-Nya, Dia telah menyuruh Malaikat-Nya untuk sujud kepadamu, mohonkanlah syafa'at bagi kami disisi Tuhan agar melonggoarkan kami ditempat kami ini", 

Maka Adam menjawab : "Aku tidak menempati tempat itu -ia menyebutkan dan mengadukan kepada mereka akan dosanya yang telah dilakukannya, maka ia malu akan hal itu- akan tetapi datanglah kalian pada Nuh. Sesungguhnya ia permulaan Rasul yang dibangkitkan Allah kepada penduduk bumi". 

Lalu mereka datang kepadanya, maka Nuh menjawab : "Aku tidak menempati tempat itu". Dia menyebutkan permohonan kepada Tuhannya yang tidak ada ilmu baginya, ia malu akan hal itu -akan tetapi datanglah kalian kepada kekasih Tuhan, Ibrahim !".

Lalu mereka datang kepadanya, maka Ibrahim menjawab : "Aku tidak menempati tempat itu, akan tetapi datanglah kalian kepada Musa, hamba yang telah diajak bercakap-cakap oleh Allah, dan Allah memberikan Taurat kepadanya !".

Lalu mereka datang kepadanya, maka Musa menjawab : "Aku tidak menempati tempat itu ia menyebutkan bahwa ia membunuh jiwa yang tidak membunuh- akan tetapi datanglah kalian kepada Isa, hamba dan Rasul Allah, kalimah dan ruh Nya !",

lalu mereka datang kepadanya, maka 'Isa menjawab : "Aku tidak menempati tempat itu, akan tetapi datanglah kalian kepada Muhammad Saw hamba yang telah diampuni dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian !".

Rasulullah saw. bersabda : "Mereka datang kepadaku, maka aku pergi, kemudian aku berjalan diantara dua barisan dari orang-orang mu'min, lalu aku minta izin kepada Tuhanku, maka Tuhan memberi izin kepadaku. Ketika aku melihatNya, aku sujud, lalu Tuhan meninggalkan aku sesuai dengan kehendak Allah untuk meninggalkan aku.”

Kemudian dikatakan : "Bangkitlah Muhammad, berkatalah akan didengar, mohonlah maka kamu akan diberi, dan mohonlah syafaat, maka akan diberi syafa'at !".

Maka aku memuji Nya dengan pujian yang telah di-ilhamkan Allah kepadaku untuk memuji Nya, kemudian aku mohon syafa'at, lalu Allah membatasinya kepadaku. Maka aku memasukkan mereka ke surga. Lalu aku kembali untuk yang kedua kalinya, maka ketika aku melihat Tuhanku aku sujud. Lalu Allah meninggalkan aku sesuai dengan kehendak Nya untuk meninggalkan aku. Kemudian dikatakan kepadaku :

"Bangkitlah Muhammad, berkatalah, akan di dengar, mohonlah maka kamu akan diberi, dan mohonlah syafa'at, maka akan diberi syafa'at !". Maka aku memuji Nya dengan pujian yang telah di-ilhamkan Allah kepadaku untuk memujiNya, kemudian aku mohon syafa'at, lalu Allah membatasinya kepadaku. Maka aku memasukkan mereka ke surga."

Kemudian aku kembali untuk yang ketiga kalinya. Ketika aku melihat Tuhanku, aku sujud, lalu Dia meninggalkan aku sesuai dengan kehendak Allah untuk meninggalkan aku. Kemudian dikatakan :

"Bangkitlah Muhammad, berkatalah akan didengar, mohonlah maka akan diberi dan mohonlah syafa'at akan diberi syafa'at !". Maka aku mengangkat kepala, lalu aku memuji Nya dengan pujian yang telah di-ilhamkanNya kepadaku. Kemudian aku mohon syafa'at lalu Tuhan membatasinya kepadaku, maka aku memasukkan mereka ke surga,”

Kemudian aku kembali untuk yang ke empat kalinya, lalu aku berkata : "Wahai Tuhan, yang masih tinggal hanyalah orang yang telah dicegah oleh Allah Al Qur'an". (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang syafa’at Nabi Saw di hari akhirat. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang mendapat syafaat Nabi Muhammad Saw. Aamiin.

Ketika Munkar Dan Nakir Menanyai orang Beriman dan yang Ingkar

Malaikat Munkar dan Nakir adalah dua diantara sepuluh Malaikat yang wajib diketahui dan diimani keberadaannya. Tugas keduanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada para mayat yang baru saja di kubur.

Menurut ajaran Islam, setelah kematian dari setiap jiwa akan menuju ke alam barzakh atau alam kubur, dimana si mayat akan dibolehkan kembali bangkit dan berbicara ketika ditanya oleh kedua-dua Malaikat Munkar dan Nakir, walaupun tubuhnya telah hancur. Pertanyaan akan dimulakan yakni selepas proses pengkebumian telah. Malaikat Munkar dan Nakir akan menanyakan beberapa pertanyaan kepada mayat.

Barra' bin Azib meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW telah bersabda : "Ada dua malaikat yang akan menanya si mayat. Kedua-duanya akan menyiasat si mayat dengan terperinci. Inilah rintangan terakhir yang dihadapi oleh mayat".

Apabila si mayat dapat menjawab kesemua pertanyaan, maka terdengarlah seruan : "Benarlah engkau"

Selepas itu datanglah seorang yang cantik, wangi dan pakainnya indah dan berkata : "Gembiralah anda mendapat rahmat Allah Swt dan Syurga yang cukup menyenangkan". 

Kemudian mayat itu berkata : "Engkaupun beruntung mendapat nikmat daripada Allah Swt, siapakah engkau ?" 

Jawabnya : "Akulah amal solehmu. Demi Allah Swt sepengetahuanku, engakau sangat taat mengerjakan suruhan Allah dan menghindari perbuatan maksiat, maka Allah pun memberi ganjaran kepadamu"

Kemudian terdengarlah seruan : "Berilah dia pakaian daripada Syurga dan bukakan kepadanya pintu ke Syurga. Kemudian diberilah dia pakaian daripada Syurga dan dibukakan pintu-pintu Syurga"

Kemudian mayat itu berdoa : "Ya Allah, segeralah qiamat, semoga aku berjumpa dengan keluargaku dan mendapat hartaku"

Sedangkan orang-orang kafir, apabila sudah menghadap ke akhirat, turunlah  kepadanya Malaikat yang sangat kejam dan memakai pakaian api dan baju daripada aspal. Apabila rohnya keluar semua malaikat yang berada di antara bumi dan langit serta Malaikat yang berada di langit melaknatinya. Semua pintu-pintu langit terkunci karena tidak ada yang suka roh tersebut lalu di hadapannya.

Ketika roh itu mau naik, para Malaikat pun mencampak semula roh itu ke bumi karena amal jahatnya. Kemudian ada yang berkata : "Ya Allah, hambamu yang bernama ini tidak diterima oleh langit dan bumi."

Lalu Allah Swt berfirman : "Pulangkan dia, dan campakkan ke tempat yang telah Aku sediakan. Aku sudah menyediakannya sesuai dengan firmanKu (yaitu Surah Thaha ayat 55)"

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain," (QS. Thahaa :55)

Maka mayat orang kafir itupun dapat mendengar suara selipar ketika orang yang menghantarnya mau pulang, sehinggalah dia mendengar pertanyaan : "Siapa Tuhanmu, Siapa nabimu dan apa agamamu ?"

Dia akan menjawab : "Saya tidak tahu."

Kemudian disebutnya lagi  "Saya tidak tahu" dan begitulah setiap kali pertanyaan dikemukakan kepadanya.

Selepas itu datanglah orang yang sangat bodoh, berbau dan berpakaian buruk dan berkata : "Rasakanlah kemurkaan dan siksa Allah Swt." 

Mayat kafir tadipun bertanya : "Siapa engkau ?"  

Jawab orang bodoh itu : "Akulah amal jahatmu. Engkau selalu mengerjakan maksiat kepada Allah serta tidak mahu mentaati perintah Allah, oleh karena itu Allah memberi balasan yang setimpal kepadamu"

Mayat kafir itupun berkata : "Engkaupun mendapat kemurkaan Allah Swt."

Kemudian datang seorang yang tuli, bisu dan pekak membawa tukul daripada besi yang teramat berat yang tidak mampu diangkat  dan dipikul oleh manusia dan jin. Kalau dipukulkan kepada gunung niscaya runtuhlah gunung itu. Lalu dia memukul mayat itu sekali pukul terus menjadi debu. Setelah itu dikembalikan rohnya dan dipukul lagi di antara kedua belah matanya sehingga didengar oleh seluruh penduduk bumi kecuali jin dan manusia.

Setelah itu terdengar suara : "Berikan pakaiannya daripada api dan bukakan pintu ke neraka." Kemudian diberilah dia pakaian daripada api dan dibukakan pintu neraka.

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang malaikat Mungkar dan Nakir saat menanyai mayat orang yang beriman dan kafir di alam barzakh. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dapat menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir kelak di alam barazakh. Aamiin.