Tampilkan postingan dengan label lima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lima. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Mei 2017

Sadari, Tak Ada Rumah Tangga yang Tanpa Ujian

Rumah tangga sakinah bukanlah yang terbebas dari ujian. Rumah tangga sakinah adalah yang mampu menghadapi ujian bersama seraya berpegang teguh pada syariat-Nya.



Seorang artis lawas yang kini telah paruh baya, pernah diundang di sebuah acara talkshow di TV swasta nasional. Ia telah mengalami tiga kali pernikahan. Pernikahan pertama dan kedua kandas di usia yang terbilang singkat, di mana usia sang artis juga masih belia. Di ujung acara, sang artis meninggalkan pesan yang membuat penonton terhenyak. “Kalau boleh menasihati, seandainya anak saya dalam pernikahannya mengeluhkan hal seperti saya dulu, maka saya akan menasihatinya untuk bersabar dan tidak perlu bercerai. Karena sebetulnya memang tak ada alasan untuk bercerai. Masalah itu sebetulnya muncul dari diri saya sendiri.”



Hakikat Ujian dalam Pernikahan

Sepanjang perjalanan pernikahan yang tak mengenal batas, selama itu pula akan ada ujian datang. “Tak ada rumah tangga yang tanpa ujian,” tegas pemerhati keluarga dan konselor Jogja Family Center (JFC), Cahyadi Takariawan. Oleh sebab itu, menurut Cahyadi, dalam Islam, ujian rumah tangga adalah keniscayaan dan tantangan yang harus dihadapi semua orang.

“Adakalanya ujian adalah sarana peningkatan kualitas,” ujar Cahyadi. Misalnya, ketika seorang istri menemui hal yang tidak menyenangkan dari suaminya, jangan mudah untuk berpikir pisah atau cerai. Sebab, menurut Cahyadi, “Itu pertanda lemahnya kesungguhan dalam menjaga keutuhan rumah tangga.”

Ujian juga harus dipandang sebagai rahmat dari Allah swt. Karena tak ada manusia yang lepas dari dosa, maka Allah menetapkan salah satu cara pembersihan dosa manusia dengan ujian-ujian yang diberikannya. Jika tak ada ujian, manusia akan sulit bersyukur dan jarang terbersihkan dosanya. “Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap Muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya,” (HR Bukhari).

Meski tak selalu, ujian dalam pernikahan juga hadir sebagai bentuk teguran Allah swt terhadap pelanggaran di masa terdahulu. “Saya sangat yakin bahwa kebahagiaan itu adanya di dalam jiwa kita. Dan hanya Allah yang bisa memberikan rasa bahagia itu. Maka semua proses sejak awal (niat dan caranya) harus selalu memenuhi tuntunan-Nya,” papar Cahyadi.



Islam, Landasan dan Solusi dalam Rumah Tangga

Islam adalah landasan sekaligus solusi bagi berbagai persoalan, termasuk dalam rumah tangga. Jika kita menjadikan Islam sebagai satu-satunya solusi dalam menghadapi badai rumah tangga, maka di samping menuai pahala, juga menyelesaikan masalah dan menguatkan cinta suami dan istri. Berikut cara Islami menyikapi ujian rumah tangga:



      Husnuzhan kepada Allah
Seperti telah disinggung di atas, seyogianya ujian juga merupakan bentuk perhatian Allah kepada hamba-Nya. Firman Allah, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah swt mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS Al-Baqarah: 216).



      Qana’ah dan bersabar
Ujian rumah tangga kadang datang berupa keterbatasan atau bahkan keterpurukan ekonomi keluarga. Di sinilah sifat qana’ah (menerima apa adanya dalam hal kebendaan atau duniawi) sangat dibutuhkan. Ia adalah rahasia kebahagiaan, yang tidak menjadikan kesempitan duniawi sebagai sumber percekcokan apalagi perceraian.



      Hindari caci maki dan kekerasan fisik
Konflik juga bagian dari ujian rumah tangga. Rumah tangga tanpa konflik ibarat masakan tanpa bumbu. Tapi jika bumbu terlalu banyak, masakan jadi tidak enak. Agar konflik tak semakin memanas dan berkepanjangan, hindari caci maki dan kekerasan fisik pada pasangan.

Cacian dan makian, jelas Cahyadi, akan menimbulkan luka batin yang lebih menyakitkan daripada kekerasan fisik, walau tidak mengucurkan darah. Meski begitu, kekerasan fisik juga amat tercela. Tindakan kekerasan fisik yang dilakukan dalam keadaan emosi akan sangat membahayakan keselamatan pasangan. “Tidak pantas dua orang yang berhimpun atas nama cinta, saling melukai dan mencaci. Tidak patut hal tersebut dilakukan oleh manusia yang bertakwa,” Cahyadi menegaskan.



      Jangan menampakkan konflik
Salah satu dampak negatif media sosial adalah semakin mudahnya seseorang mengumbar masalahnya di muka umum. Sedang kesal dengan suami, ditumpahkan di Twitter. Bahkan ada suami istri yang bertengkar dan saling melempar cacian di Facebook. Mereka tidak peduli pada teman di jaringan mereka yang menonton ‘pertunjukan’ tersebut.

Menurut Cahyadi, konflik dengan pasangan semestinya dikelola di ruang privat sembari mencari solusi bersama, bukan diumbar melalui jejaring sosial. Sudah semestinya seseorang mempunyai rasa malu jika aibnya diumbar. Selain itu, menampakkan konflik di muka umum, berpotensi memunculkan pihak ketiga yang berniat jahat dan ingin memperkeruh masalah.



Jika permasalahan atau ujian rumah tangga datang berulang, berdamailah dengan ujian tersebut. “Karena dalam rumah tangga, setiap hari bertemu dengan orang yang sama. Wajar jika persoalan yang ditemukan sering kali berulang,” jelas Cahyadi. Terakhir, Cahyadi berpesan, “Salah satu ujian dalam rumah tangga adalah mencintai orang yang sama dalam waktu lama.” Nah, tentu kita semua ingin lulus dalam ujian tersebut bukan?

Aida Hanifa

Wawancara: Didi Muardi



Sumber: Majalah Ummi, Bahasan Utama 1 08-XXVIII Agustus 2016

 Foto ilustrasi : Google

Sumber : http://www.ummi-online.com/sadari-tak-ada-rumah-tangga-yang-tanpa-ujian.html

70 Persen Masalah Rumah Tangga Akibat Gagal Komunikasi

Awalnya bercakap-cakap biasa dengan pasangan, akhirnya malah berujung pertengkaran. Sahabat Ummi pernah mengalami hal yang tak mengenakkan tersebut? Hati-hati, jika pertengkaran tersulut, tak jarang kata-kata buruk pun keluar dan akan sangat menyakitkan untuk diingat.

Konselor dan trainer Rumah Keluarga Indonesia (RKI) yang juga penulis buku seri Wonderful Family, Cahyadi Takariawan, S.Si, Apt,mengungkapkan bahwa 70% persoalan suami istri dipicu oleh kegagalan komunikasi.



Antisipasi Perbedaan Sejak Awal

Jika komunikasi yang sehat adalah salah satu kunci kebahagiaan rumah tangga, maka pertengkaran menjadi unsur yang paling merusak hubungan. Mengapa? Pertengkaran kerap timbul ketika pasangan sering merasakan ketidakcocokan atau tidak sekufu satu sama lain.

Apa itu sekufu? Dalam Islam, kufu adalah kesepadanan. Walau tidak termasuk dalam rukun nikah, tapi ia dipandang perlu karena bisa menumbuhkan keharmonisan pernikahan. Idealnya, masalah sekufu sudah melalui pertimbangan yang masak sejak awal menikah. Karena jika ini diabaikan, ia bisa berpotensi menghambat komunikasi pasutri di kemudian hari. Faktor kekufuan ini antara lain, perbedaan tingkat intelegensi dan pendidikan, jauhnya perbedaan usia, perbedaan latar belakang satus sosial, dan yang paling penting adalah perbedaan prinsip hidup dan beragama.

Hikmahnya, menurut Cahyadi, “Komunikasi menjadi lebih terbuka dan lancar jika pasangan sekufu. Bicara lebih nyambung, tanpa sekat, dan tanpa beban ‘kelas’.”

Kecuali perbedaan masalah agama yang tak bisa ditolerir dalam Islam, banyak pasangan yang tetap melangsungkan pernikahan walau tidak sekufu. Alasan cinta, menikah karena ibadah atau dakwah dan lainnya, kerap meneguhkan mereka memasuki jenjang pernikahan di tengah perbedaan. Namun keteguhan ini, jika tidak diiringi dengan antisipasi komitmen dan komunikasi yang sehat sejak awal, maka perlahan akan membuat pernikahan rapuh.

Memang tak ada rumah tangga yang bebas dari pertengkaran. Karenanya seiring pernikahan, kesepadanan itu tetap harus dicari, ditumbuhkan, dan ditemukan, bahkan setelah berpuluh tahun membina rumah tangga.



Bersama Hindari Badai

Kehidupan manusia yang dinamis dan zaman yang terus berubah tak ayal mengubah kehidupan seseorang. Gaya hidup, pola pikir, kepentingan, orientasi pun bisa berubah. Maka tidak heran, belasan tahun menikah baru timbul ketidakcocokan. Jika pernikahan tidak dilandasi dasar yang kokoh seperti komitmen ibadah dalam mempertahankan rumah tangga, maka perubahan-perubahan yang terjadi tadi akan menjadi badai tak berkesudahan bagi pernikahan. Bagaimana menghadapi badai dalam relasi suami istri ini?



  Tuntutan ekonomi
Rumah tangga yang tak ditopang dengan nafkah yang memadai sangat mungkin goncang. Masalah ekonomi menjadi pemicu terbesar kasus perceraian di banyak daerah di Indonesia.

Menyikapinya, Cahyadi mengatakan bahwa istri berhak meminta nafkah dari suami karena nafkah memang menjadi kewajiban suami. “Namun jika suami tidak mampu mencari nafkah disebabkan udzur syar'i misal sakit parah atau kendala manusiawi seperti dipenjara, tentu istri tidak patut menuntut kepada suami,” jelas trainer dan Konselor Jogja Family Center (JFC) ini. Agar bisa melalui badai bersama, dibutuhkan sikap keterbukaan dan kebersamaan dalam mencari solusi. Misalnya dengan istri ikut bekerja atau berwirausaha, bersama menguatkan lagi ibadah kepada Allah, seraya tetap saling menghargai satu sama lain.



  Ujian kesetiaan dan cemburu
Era media sosial yang memudahkan seseorang terhubung dengan sosok masa lalu juga teman-teman baru, ditambah peningkatan taraf hidup, membuat kesetiaan dan perselingkuhan menjadi ujian baru bagi rumah tangga kini. Namun tak bisa dianggap tidak setia, menurut Cahyadi, sepanjang proses yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. “Namun jika kita punya bukti bahwa pasangan selingkuh, wajib diingatkan dan ditegur dengan cara yang baik, jangan dibiarkan karena itu pelanggaran,” tegasnya.

Khusus bagi yang rentan terserang cemburu, pahami bahwa pasutri memang harus mempunyai rasa cemburu, namun mestiproporsional. Rasulullah saw pun melarang cemburu yang berlebihan. Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, cukup bagimu Shafiyyah, dia itu begini dan begitu (pendek).” Rasulullah menjawab, “Sungguh engkau telah mengucapkan satu kata, yang seandainya dicampur dengan air laut, niscaya akan dapat mencemarinya.” (HR Abu Dawud).



  Kehidupan seks yang tak membahagiakan
Walau banyak yang lebih penting dari aktivitas seks dalam relasi pasutri, namun mengabaikannya bisa mengurangi kasih sayang. “Seks harus bisa dinikmati bersama oleh pasangan suami istri, maka perlu keterbukaan jika ada masalah dalam hal ini,” saran Cahyadi. Karena, lanjutnya, jika hasrat seksual tidak terpenuhi, akan memicu ketegangan jiwa. Dampaknya bisa luas, lebih emosional, bersifat labil, mudah tersinggung, sulit konsentrasi, dan yang lebih membahayakan lagi, jika tergoda untuk menyalurkan hasrat secara menyimpang.



Jangan Bertengkar

Ujung dari komunikasi yang sehat adalah sedikitnya perselisihan atau pertengkaran, ini yang harus dicapai agar pernikahan sehat. Seringnya konflik bukan saja menyakiti perasaan, tapi juga memperburuk hubungan. Diskusikan masalah yang timbul dengan terbuka, tanpa bertengkar atau menyulut konflik.

Mengumbar kemarahan dengan perang terbuka bisa memadamkan cinta. Sedangkan terbiasa menekan perasaan untuk menghindari perselisihan juga tidak sehat, sebab akan membuat cinta kasih hambar karena selalu tertekan. Carilah kesimbangan di antara keduanya, kapan sesuatu harus diungkapkan dan kapan harus dilupakan, bukan dipendam. Keberhasilan pasutri mengelola ego dan emosi menjadi cara efektif untuk menjaga komunikasi sehingga rumah tangga aman dari pertengkaran.

Meutia Geumala

Wawancara: Didi Muardi

Sumber: Majalah Ummi, Bahasan Utama 3 08-XXVIII Agustus 2016

 Foto ilustrasi : Google

Sumber : http://www.ummi-online.com/70-persen-masalah-rumah-tangga-akibat-gagal-komunikasi.html

Ibu Rumah Tangga yang Ingin Berkarya Jangan Putus Asa, Bekerja Tidak Harus Kantoran

"Di rumah aja ngapain, paling cuma lihat langit-langit," ini pendapat kuno ketika teknologi belum canggih.

"Kasihan ya kamu di rumah aja gimana bisa melihat keindahan dunia,"

"Hidupmu terpenjara banget sih,"

Itu juga pendapat zaman penjajahan dimana akses ke mana-mana tidak seperti sekarang. Kalau saat ini raga bisa di sini, tapi pikiran bisa terbang menjelajahi apa saja yang dimaui.

Tidak sedikit memang yang bilang kalau di rumah itu membosankan, merasa enggak berharga, & tidak tahu harus berbuat apa. Dan biasanya, pendapat semacam itu lebih banyak ditujukan kepada ibu rumah tangga alias wanita yang sudah berkeluarga dan tidak bekerja di luar rumah dengan banyak alasan (masih punya anak kecil, dilarang suami, atau yang lain).

Sayangnya, pendapat orang luar yang hanya lewat sedetik dua detik itu kadang-kadang bisa memengaruhi kepercayaan diri bahkan mood bisa berubah drastis jadi buruk hanya karena mendengar komen yang bisa jadi iseng. Yang rugi siapa?

Untuk para wanita (calon ibu atau pengantin baru) yang terbiasa beraktivitas memang rasanya ada yang kurang ketika menikah tiba-tiba harus berubah jadi puteri raja alias enggak ngapa-ngapain karena dilarang suami misalnya. Padahal sebenarnya enak juga kan tinggal kipas-kipas santai sambil nunggu setoran duit. Nikmat Allah mana yang kita dustakan coba? Huehehe.

Tapi sebagai makhluk yang punya ego adalah wajar kok jika kita ingin berbuat sesuatu yang berarti. Kabar gembiranya ... hal itu sekarang bisa kita lakukan di mana saja, tidak harus sering-sering ke luar rumah yang bisa membuat suami khawatir. Bersyukurlah para bunda atau calon bunda yang hidup di masa sekarang. Sambil dasteran atau pakai baju rumahan aja kita bisa menangani klien baik dalam maupun luar negeri dengan bantuan teknologi. Alhamdulillah, kan.

Lalu, apa saja kegiatan produktif layaknya pekerja kantoran yang bisa kita lakukan di rumah?



1. Terjun di dunia kepenulisan

Bagi Bunda atau Calon Bunda yang memang suka menulis, kenapa tidak mencoba peruntungan di dunia literasi. Menjadi penulis pun masih bisa dipecah lagi karena dunia kepenulisan itu sangat luaasss tiada terkira. Kita bisa memilih untuk jadi blogger, penulis konten di website perusahaan tertentu, resensor, penulis buku (yang ini pun masih bisa dipecah lagi semisal mau jadi penulis buku anak, penulis novel, penulis buku pelajaran, atau penulis buku genre lain), penulis artikel di perusahaan yang menerbitkan buletin secara berkala, editor, penerjemah, copywriter, ilustrator, daann masih banyak lagi.



2. Menggeluti dunia kuliner

Mungkin Bunda atau Calon Bunda hobi masak, kenapa tidak diseriusin. Berjualan makanan ringan sampaii buka catering bisa dipilih.



3. Mengajar baik offline maupun online

Bagi yang memiliki passion membimbing orang lain, mengajar mungkin bisa jadi pilihan entah itu mengajar offline atau online.



4. Menggeluti dunia kecantikan, misal dengan membuka salon atau perawatan khusus wanita



5. Jualan baik offline maupun online



6. Menjadi konsultan sesuai bidang keahlian, misal konsultan keuangan, konsultan pajak, atau yang lain



7. Dann masih banyak lagiii



Profesi-profesi di atas adalah profesi pilihan yang bisa dilakukan oleh para bunda, calon bunda, atau wanita yang baru menikah yang mungkin tak bisa bekerja di kantor karena dilarang suami atau karena keinginan sendiri.

Semua profesi tersebut memang lebih banyak dilakukan di rumah. Kalau toh ke luar rumah, juga tidak dilakukan dalam jangka waktu yang lama.

Jadi, siapa bilang hidup kita akan hancur bila tak bekerja di kantor? Sungguh, itu pemikiran masa lalu yang harus diubah. Sesungguhnya di luar sana masih banyak kesempatan luas yang masih belum terjamah yang bisa kita coba dan mungkin itu yang lebih cocok buat kita.



Selamat produktif dari mana saja!

 Sumber : http://www.ummi-online.com/ibu-rumah-tangga-yang-ingin-berkarya-jangan-putus-asa-bekerja-tidak-harus-kantoran.html

Sabtu, 15 April 2017

SHOLAT SELEPAS HAID – KESILAPAN WANITA

SHOLAT SELEPAS HAID : PERKARA YG DIPANDANG RINGAN..
Pengetahuan Islam kepada sesiapa yang bernama wa nita ISLAM!!!
Kebanyakkan perempuan/wanita/ muslimah (wanita Islam) tak berapa perasan ATAU lebih malang lagi jika memang tak tahu menahu akan perkara ini… Ilmu Fekah, khususnya BAB HAID yang berkaitan dengan diri wanita itu sendiri amat kurang dikuasai atau difahami secara menyeluruh oleh kebanyakkan wanita Islam…kenapa hal ini boleh terjadi?? Amat susah untuk mencari seorang guru/ustazah/ …yang betul-betul pakar dalam bab ‘Orang-orang Perempuan ini’ kecuali terpaksa@mesti dirujuk kepada lelaki/ustaz- ustaz yang bernama LELAKI jugak…(saya rasa ramai yang bersetuju dengan pandangan saya )
Contohnya yang paling simple ; bila ditanya kepada kebanyakkan wanita Islam ; “adakah wajib bagi seorang wanita Islam menqhada’kan solat mereka yang ditinggalkan ketika haid?” pastinya kita akan mendengar jawapan daripada kebanyakkan mereka mengatakan: “alaa…itu soalan mudah jee..bila ‘datang period’ maka solat tuu tak perlu qadha, yang perlu qadha hanya puasa jee..itulah yang kami belajar sejak mula-mula ‘bergelar wanita’ dulu”
Jika dibuat pantauan nescaya jawapan seperti di ataslah yang akan kita jumpa… Sebenarnya TAK SEBEGITU MUDAH bagi seorang muslimah nak meninggalkan solat mereka walaupun dirinya didatangi haid!!! sekalipun. Hal ini boleh dirujuk di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karangan Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali yang mashur.
Kitab yang padanya ada ilmu yang berkaitan Tasauf dan padanya juga perbahasan Fekah yang luas, inilah bukti kehebatan ulama’ terdahulu..
Dalam BAB TIGA :
” Fi adab Mua’sharah Wama Yujzi Fi Dawamun Nikah…” perkara YANG KETUJUH disebut dengan jelas dalam kitab tersebut : PERKARA YANG BERKAITAN DENGAN HAID: Penjelasan (bayan) terhadap solat yang perlu diqadha bagi perempuan yang didatangi haid :
1. Jika perempuan dalam keadaan haid mendapati darah haid itu berhenti (dengan melihatnya) sebelum masuknya
waktu Maghrib, kira-kira sempat dia solat asar sebanyak satu rakaat, maka baginya wajib qadha solat zohor dan asar.
2. Jika perempuan mendapati darah haidnya kering sebelum masuknya waktu subuh, kira-kira sempat baginya solat Isya’ sebanyak satu rakaat, maka wajib baginya qadha solat maghrib dan Isya’. ” Dan hal ini (qadha solat yang ditinggalkan semasa haid) adalah sekurang-kurang perkara yang wajib diketahui oleh setiap wanita Islam” (Imam Al-Ghazali)
HURAIAN MASALAH :
1. Kenapa perlu diqadha solat Asar dan Zohor?
– Kerana perempuan itu hanya menyedari keringnya haid masih dalam waktu Asar, maka baginya wajib solat asar (selepas mandi hadas)
2. Kenapa pula solat Zohor juga perlu diqadha sama?
– Kerana di dalam hukum menjama’ (menghimpun solat bagi orang musafir) solat Asar boleh dijama’ dan diqosarkan bersama solat Zohor.
– Kerana kecuaian wanita itu sendiri (dari melihat haidnya kering atau tidak), boleh jadi haidnya sudah kering dalam waktu Zohor lagi, langkah Ihtiyat ( menjaga hukum) maka perempuan itu juga perlu mengqhada solat Zohor.
3. Dalam perkara solat subuh pun sama : -perempuan itu hanya menyedari darah haidnya kering, sebelum masuk waktu subuh, kira-kira sempat solat Isyak satu rakaat (selepas mandi hadas) maka wajib baginya solat Isya’ sebab darahnya kering masih dalam waktu Isya’.
-Solat Isya’ juga boleh dijama’ (bagi musafir) dengan solat Maghrib, maka baginya juga perlu diqadha solat maghrib.
-Di atas kecuainnya (tidak betul-betul melihat darahnya kering atau tidak dalam setiap waktu solat) maka boleh jadi darahnya sudah kering dalam waktu maghrib lagi (sebab proses keringnya darah itu berlaku secara perlahan-lahan, mungkin perempuan itu hanya menyedarinya dalam waktu subuh, hakikatnya proses pengeringan itu sudah lama berlaku)
-maka langkah ihtiyat (menjaga hukum) maka adalah bagi perempuan itu perlu di qadha juga solat maghribnya.
Sila rujuk : Kitab Ihya’ Ulumuddin (Jilid ke 2) cetakan Darul Nahwan Nil / Darul Haram Lil Turath, Kaherah.
Diharapkan tulisan ini memberi kesedaran ke
pada seluruh yang bergelar Muslimah untuk lebih mendalami diri mereka dengan ilmu ‘Fiqhul Nisa’ ini yang berkaitan dengan diri mereka sendiri!!!
TOLONG SEBARKAN KEPADA ORANG LAIN DEMI SAHAM AKHIRAT ANDA !!!

Sumber : http://dirikhalifah.blogspot.co.id/2016/09/solat-selepas-haid-kesilapan-wanita.html

UNESCO Akui Masjid Al Aqsha Tempat Suci untuk Ibadah Kaum Muslimin dan Situs Peradaban Islam

KAIRO (SALAM-ONLINE): Organisasi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya (UNESCO) kini telah mengakui Masjid Al Aqsha sebagai situs suci sekaligus tempat ibadah umat Islam dan peninggalan peradaban Islam.

UNESCO memutuskan itu setelah melalui perdebatan sejarah antara Palestina dengan “Israel”, lansir Dailynewsegypt, sebagaimana dikutip Republika Online, Ahad (16/10).

Pengamat dari Universitas Al Azhar, Mesir, mengapresiasi keputusan tersebut. Ia mengatakan, keputusan UNESCO itu sebagai kemenangan bagi Palestina dan semua umat Islam di seluruh dunia. Berawal dari ini, akan ada solusi untuk masalah yang dihadapi Palestina. Yakni mengakhiri penjajahan yang dilakukan Zionis “Israel” dan mengembalikan hak-hak Palestina.

Menurutnya, hal ini juga dapat menjadi panggilan kepada masyarakat dunia untuk mendukung upaya Arab dan Islam dalam membantu Palestina menjadi negara yang berdaulat. Selain itu, untuk melindungi Palestina, umat Islam dan Kristen.

Sumber: Republika.co.id

Rabu, 12 April 2017

2 Cara Mengetes Krim Wajah Mengandung Merkuri

2 Cara Mengetes Krim Wajah Mengandung Merkuri
Sahabat Ummi, sudahkah mengetahui bagaimana cara mengetes sebuah krim wajah mengandung merkuri atau tidak?

Merkuri sangat berbahaya karena termasuk logam berat, sekecil apapun jumlah merkuri yang masuk ke dalam tubuh, maka akan menjadi racun. Apabila dioleskan dan diserap kulit, ia akan masuk ke dalam peredaran darah. Efek samping yang dialami dan langsung bisa ditangkap mata adalah perubahan warna kulit yang memerah, bintik hitam, iritasi, bahkan kerusakan permanen susunan kulit, syaraf, otak, ginjal dan gangguan perkembangan janin.

Efek jangka panjang dari merkuri adalah rusaknya ginjal dan menyebabkan kanker. Seram ya? Tapi ternyata nggak sulit lho mengetes apakah sebuah krim mengandung merkuri atau tidak, berikut ini 2 cara yang bisa dilakukan:

1. Menggunakan setrika

Siapkan kertas putih/ HVS, oles krim wajah di kertas putih tersebut, lalu disetrika dengan suhu yang panas sedang. Bila kertas yang dioleskan krim menghitam ketika disetrika, berarti mengandung merkuri. Bila tidak ada hitamnya, berarti krim tersebut tidak mengandung merkuri yang membahayakan.

2. Menggunakan cincin emas

Oleskan krim wajah yang biasa digunakan ke tangan (bisa ke bagian pergelangan tangan atau di telapak tangan), lalu gosok-gosokkan cincin emas ke bagian yang dioleskan tersebut. Jika bagian yang dioleskan tersebut berubah warna menjadi abu-abu atau menghitam, itu berarti krim tersebut mengandung merkuri.

Semoga bermanfaat. Pastikan menggunakan krim wajah dan produk kosmetik lainnya yang tidak bermerkuri yaa.

 Foto ilustrasi : Google

Sumber : http://www.ummi-online.com/2-cara-mengetes-krim-wajah-mengandung-merkuri.html

Cara Mengetes Kehamilan Tanpa TestPack

Cara Mengetes Kehamilan Tanpa TestPack
Cara Mengetes Kehamilan Tanpa TestPack
Sahabat Ummi, sudah tahu belum kalau kehamilan bisa diketahui tanpa menggunakan testpack sekalipun? Penasaran bagaimana caranya?

Memang ciri-ciri kehamilan awal mirip-mirip orang masuk angin, perut suka terasa begah (penuh angin), badan pegal linu, uring-uringan, merasa mual pengen muntah. Akan tetapi ada ciri khusus yang akan dirasakan oleh ibu hamil, yakni ketika merasa marah atau stres, perut bagian bawahnya akan terasa sakit, karena memang janin akan mengalami kontraksi ketika ibundanya merasa stres. Kalau sudah merasakan ciri-ciri awal tersebut, segera tes untuk pastikan.

Bagi Sahabat Ummi yang tidak sempat beli testpack, berikut ini ada cara sederhana untuk mengecek kehamilan:

1. Kumpulkan urin

Kumpulkan urin dalam sebuah botol dan biarkan selama 3-4 jam. Jika terdapat banyak busa putih di permukaan air seni, maka kemungkinan besar positif hamil.

2. Tes dengan pasta gigi
Metode ini adalah salah satu cara terbaik mengetes kehamilan di rumah. Ambil beberapa tetes urin dan campurkan dengan pasta gigi (berwarna putih), lalu biarkan selama beberapa menit. Jika pasta gigi berubah menjadi biru atau berbusa, maka kemungkinan kehamilan positif.

3. Tes cuka

Tampung urin (yang terbaik urin yang dikeluarkan pertama di pagi hari), kemudian dicampur dengan cuka secukupnya. Perhatikan campuran tersebut, bila terjadi perubahan warna, maka menandakan positif hamil.

Semoga bermanfaat.
Foto ilustrasi : Google

Sumber : http://www.ummi-online.com/cara-mengetes-kehamilan-tanpa-testpack.html

Rabu, 29 Maret 2017

Kenali Cantik Asli Indonesia

Sahabat Ummi, cantik itu sifatnya relatif. Kita akan jauh merasa lebih cantik dengan mencintai diri sendiri serta didampingi rasa syukur. Tahukah Sahabat Ummi kalau wanita Asia khususnya Indonesia mempunyai kecantikan yang diinginkan negara lain?

Memang demikian adanya, hal ini seharusnya membuat kita semakin merasa beruntung karena terlahir dan mempunyai turunan asli Indonesia. Faktanya memang sangat banyak warga negara asing yang memperistri wanita Indonesia, bahkan beberapa alasannya sebagai berikut yang dilansir cantikdangaya(dot)com.

1. Kulit Sawo Matang

Di saat warga Indonesia malas beraktivitas di bawah sinar matahari karena takut kulit menjadi gelap, masih banyak wanita-wanita di belahan Eropa dan Amerika yang bersusah payah ingin kulit gelap agar terlihat eksotis. Banyak dari mereka yang melakukan tanning atau berjemur di pantai agar bisa mendapatkan kulit gelap.

2. Struktur Wajah yang Khas

Salah satu ciri kecantikan wanita Indonesia adalah mereka memiliki struktur wajah yang khas. Dengan tulang wajah yang tidak begitu jelas dan bentuk hidung berbentuk jambu, kurang mancung untuk sebagian orang, hal ini membuat wanita Indonesia terlihat menawan.

3. Rambut Hitam

Ciri khas kecantikan wanita Indonesia adalah rambut hitam legam sehingga menambah kesan eksotis yang dimiliki oleh wanita Indonesia dan menjadi ciri khas alami.


4. Mungil

Wanita Indonesia cenderung bertubuh kecil, alias mungil. Ini membuat mereka terlihat begitu menarik karena terkesan mudah untuk dilindungi, terutama bagi pria yang punya tubuh lebih besar.

5. Ramah dan Murah Senyum

Keramahan dan murah senyum sudah menjadi ciri khas orang Indonesia yang disenangi warga negara asing di Indonesia. Berbeda dengan wanita bule yang menganggap senyum kepada orang asing adalah undangan untuk melakukan kejahatan sehingga mereka cenderung bersikap dingin, tertutup, dan berwajah kaku terhadap orang asing.

Itulah beberapa ciri khas kecantikan asli Indonesia yang tidak dimiliki orang-orang di lain negara. Sahabat Ummi setuju dengan poin-poin di atas? Kita sebagai warga Indonesia tentu harus bangga dan bersyukur karena terlahir di Indonesia yang memiliki muka cantik, manis, dan berhasil memesona pria-pria di luar sana.

Foto ilustrasi: google

Hani Dwi Putri

Sumber : http://www.ummi-online.com/kenali-cantik-asli-indonesia.html

Cegah Munculnya Flek Hitam di Usia 40 Tahun ke Atas

Sahabat Ummi, bingung kenapa saat mulai masuk umur 40an tiba-tba flek hitam dan tanda-tanda penuaan yang mengganggu lainnya muncul? Beberapa dari kita mungkin bingung mengapa hal tersebut muncul padahal sebelumnya kita tak menggunakan produk kosmeik yang aneh-aneh.

Jangan merasa aneh dengan hal ini ya Sahabat Ummi, bertambahnya umur berefek pada beberapa perubahan fungsi organ tubuh. Namun, munculnya flek ini bisa diatasi dengan memperlambat proses penuaan.

1. Perawatan kulit wajah

Hal ini memang wajib bagi wanita yang sudah betambah umurnya dan menginjak umur di atas 35 tahun. Produksi melanin pada kulit menjadi salah satu faktor tersendiri pada penuaan kulit. Mendatangi klinik kecantikan dengan perawatan 1 bulan sekali, menggunakan krim kecantikan anti aging atau dengan cara alami menggunakan masker campuran putih telur dan madu alami selama 2 kali seminggu dapat menjadi alternatif pilihan kita.

2. Waktu istirahat yang cukup

Terkadang saat sudah menjadi ibu rumah tangga, kita sering mengesampingkan waktu istirahat demi mengurus orang-orang yang kita sayangi. Berilah waktu istirahat yang cukup pada tubuh kita Sahabat Ummi. Selain berdampak pada kulit awet muda tanpa flek yang makin disayang oleh suami kesehatan kita pun dapat terjaga dengan baik.


3. Konsumsi asupan yang sehat dan minum vitamin

Hal ini sangat diperlukan Sahabat Ummi, tubuh sudah tidak memiliki kondisi sempurna seperti saat muda.  Untuk menunjang wajah yang awet sering minum air putih adalah yang utama, lalu diiringi dengan asupan sayuran dan buah anti penuaan seperti brokoli, wortel, strawberry, tomat, delima dan anggur. Kacang-kacangan juga bagus untuk sumber nutrisi serta vitamin A, C dan E untuk mencegah kerusakan kulit dan penuaan dini.

4. Olahraga

Jangan malas Sahabat Ummi, seberapun padatnya  aktifitas kita usahakan luangkan untuk berolahraga paling tidak setiap pagi selama 10-15 menit atau lari pagi 2 minggu sekali selama 30 menit setiap olahraganya. Hal ini melancarkan darah dan melepaskan toksin dalam tubuh yang membuat wajah kita terlihat kusut dan lebih tua.

5. Bersenang-senang dan hindari stress

Dari segala obat  di dunia, berbahagia lewat cara yang meyenangkan adalah cara terbaik menunda penuaan. Rekreasi atau berlibur kecil dengan keluarga tersayang meningkatkan rasa bahagia dan mengembalikan kita pada masa muda yang menyenangkan. Stress  hanya akan memicu munculnya garis-garis halus yang merusak wajah kita. Datangkan kebahagian dan singkirkan stess. Jika, cara bersama-sama membuat kita sedikit pusing. Berarti meditasi bisa jadi cadangannya dengan menenangkan diri sendiri selama kurang lebih 15 menit.

Semoga bermanfaat !

Referensi : dari berbagai sumber

Foto ilustrasi: google

Nurul Aprillian


Sumber : umi-online.com

Senin, 20 Maret 2017

Tips agar Tidak Tergoda untuk Pamer Kecantikan di Dunia Maya

Tips agar Tidak Tergoda untuk Pamer Kecantikan di Dunia Maya
Tips agar Tidak Tergoda untuk Pamer Kecantikan di Dunia Maya
"Jujur, aku dulu lumayan suka upload foto diri di Facebook dan Instagram. Alasannya? Bohong banget kalau aku gak bahagia ketika ada yang memuji cantik atau awet muda. Semacam ingin bilang ke semua orang di seluruh dunia 'Nih, aku meskipun udah nikah dan gak muda tapi masih cantik dong, enggak kalah sama yang masih gadis,' dan aku memang enggak pakai kamera-kamera fitnah alias aslinya emang cantik beneran kata orang-orang. Meski aku enggak pernah bilang aku cantik secara verbal, tapi dalam hati aku merasa bangga.

Putih, cantik, berjilbab, siapa yang memungkiri kenyataan ini. Semua orang yang bertemu aku di dunia maya dan nyata juga selalu bilang begitu. Aku semakin percaya diri bahwa suamiku beruntung banget dapet istri aku. Hingga kemudian, aku sadar-sadar sendiri bahwa hal itu enggak penting. Astaghfirullah. Pencapaian dipuji cantik dan sholehah itu tidak membuat hatiku tenteram, yang ada malah sebaliknya. Kok rasanya kurang terus ya kalau enggak 'pamer' betapa cantiknya diri ini. Na'udzubillah. Manusia tidak tahu, tapi Allah tahu.

Kini semuaa foto-fotoku di Facebook sudah kuhapus, pun di Instagram. Hatiku lebih tenteram. Aku ingin menjadi istri sholehah serta ibu yang baik. Aku ingin mengabdikan hidupku sepenuhnya untuk dua hal itu, amanah dari Allah. Yang lalu biarlah berlalu. Kini, aku sudah tidak berminat lagi upload foto diri dengan modus apapun. Satu lagi, aku juga sudah menghapus semuaa koleksi lagu sekalipun lagu-lagu Islami. Aku ingin menjadi insan yang lebih baik, itu saja. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku terdahulu," (pengakuan seorang akhwat kepada penulis)



baca juga: 5 Tipe Muslimah di Sosial Media



Sahabat Ummi, sebagai wanita tentu sangat normal jika kita merasa bahagia ketika ada yang memuji cantik. Jika perasaan itu hanya terbesit sebentar mungkin masih wajar ya, tapi jika hal itu dijadikan tujuan utama, jujur kita sendirilah yang akan rugi.

Kecanggihan teknologi kadang mendorong kita untuk menunjukkan semuaa kelebihan yang kita miliki yang sebenarnya titipan Allah yang nanti akan kita pertanggungjawabkan. Dan salah satu kelebihan itu adalah ketika kita diberi wajah cantik. Penampakan diri yang indah bisa jadi anugerah karena bisa jadi ladang amal untuk membahagiakan suami. Tapi bisa juga jadi musibah ketika digunakan untuk hal-hal yang bisa mengundang fitnah. Na'udzubillah.

Lalu, bagaimana meredam diri agar tidak pamer kecantikan dengan modus apapun yang tidak pada tempatnya (maksudnya kepada selain suami)?

1. Sadar sesadar-sadarnya bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan Allah. Semua akan dipertanggungjawabkan.

2. Jujur pada diri sendiri, adakah guna atau manfaat berbuat seperti itu. Hati nurani tidak akan pernah bisa berbohong.

3. Lihat suami yang sudah bekerja keras, apa tega sebagai istri berbuat seperti itu walau dengan modus dan cara halus? Jawabannya sudah bisa didapatkan sendiri

4. Daripada meng-upload hal-hal yang bisa menjadi fitnah lebih baik menebar manfaat

5. Pujian manusia hanya sesaat, apa iya yang seperti itu dijadikan pegangan utama? Rasanya kok rugi, ya

6. Dengan tidak pamer kecantikan apapun modusnya, kita sudah menyelamatkan jutaan mata laki-laki di dunia maya yang bisa jadi sudah beristri. Itu artinya, dengan menahan diri untuk tidak pamer kecantikan kita membantu menyelamatkan suami-suami wanita-wanita lain

7. Kita sendiri wanita, gimana rasanya ketika suami dalam hati memuji kecantikan muslimah lain? Pasti cemburu. Maka, seyogyanya kita juga tidak berbuat seperti itu pada wanita lain

8. Akan selalu ada yang lebih, lebih, dan lebih cantik. Semakin banyak ingin memamerkan kecantikan apapun modusnya sebenarnya kita akan semakin tidak puass. Semakin ingin banyak mengedit, semakin ingin terlihat lebih mulus, dll. Padahal kenyataannya ya memang akan selalu ada yang lebih dan lebih, kan.

9. Syukuri apa yang sudah dititipkan Allah, bersikaplah sewajarnya, dan gunakan kuota dengan bijak

Sahabat Ummi, wanita memang sosok yang suka dipuji. Tapi, kita tentu akan lebih tenteram jika yang memuji suami daripada laki-laki lain. Pujian laki-laki asing tidaklah tulus toh yang dipuji tidak hanya kita, jangan naif. Sedangkan pujian suami selain berpahala juga akan menambah keharmonisan keluarga. Jika semua muslimah meredam diri untuk tidak pamer kecantikan apapun modusnya, insyaaAllah akan semakin banyak keluarga yang "terselamatkan". Semoga kita bisa, ya. Saling mengingatkan ya, Sahabat Ummi.



Penulis:

Miyosi Ariefiansyah alias @miyosimiyo penghuni www.rumahmiyosi.com adalah istri, ibu, penulis, & pembelajar.


Sumber : umi-online.com

8 Hal yang Sebaiknya Tidak Diucapkan pada Ibu Hamil

8 Hal yang Sebaiknya Tidak Diucapkan pada Ibu Hamil
8 Hal yang Sebaiknya Tidak Diucapkan pada Ibu Hamil
Sahabat Ummi, bagaimana rasanya hamil? Tentu sangat bahagia, apalagi jika kita sudah lama menantikannya.

Sebagai ibu hamil yang masih newbie, selain rasa suka juga pasti ada rasa khawatir dan cemas. Takut ini, takut itu, nanti seperti ini, & nanti seperti itu. Maklum, pengalaman masih sangat minim. Dan, semua ibu hamil pasti mengalami warna-warni rasa tersebut di kehamilan pertama.

Itu sebabnya jika Sahabat Ummi memiliki teman atau kerabat yang saat ini sedang hamil, sebaiknya hindari mengucapkan kalimat-kalimat di bawah ini. Bukan karena ibu hamil itu sok manja apalagi baper, bukaan, tapi memang enggak ada gunanya juga kan mengucapkan sesuatu yang berpotensi bikin down. Bukankah kita dulu juga pernah mengalami masa-masa itu? Dan lagi, jika kita bisa memilih untuk memberi madu, kenapa harus memberi racun. We are what we say.

Lalu, apa saja kalimat-kalimat yang sebaiknya tidak kita ucapkan kepada ibu yang sedang hamil?


1. Menceramahi berlebihan seolah bumil (ibu hamil) tersebut adalah gelas kosong yang enggak tahu apa apa

Menasihati karena ingin memberi informasi demi kebaikan sangat berbeda dengan menasihati dengan tujuan mempermalukan atau agar orang lain terlihat bodoh atau hanya untuk sekadar pamer ilmu.

Setiap ibu pastinya memiliki naluri keibuan. Jadi sebenarnya sudah fitrah jika setiap wanita yang sedang hamil akan berusaha memberikan yang terbaik pada buah hatinya. Bila pun kita ingin memberi informasi, cukuplah sesuai porsi, enggak perlu juga kan menceramahi berlebihan seperti ngajarin anak-anak.

Ada baiknya sebelum meng-input sesuatu, kita tanya dulu kondisinya seperti apa. Barulah setelah tahu, kita bisa menginformasikan hal yang terlewat padahal penting untuk bumil. Kalau tiba-tiba menceramahi bertubi-tubi rasanya kok kurang tepat ya. Ibu hamil kan bukan balita.


2. Membandingkan

Entah kenapa hampir semua manusia suka sekali membandingkan yang pada intinya bertujuan sama: ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih baik/kuat/hebat. Bumil pun tidak lepas menjadi sasaran.

"Aku dulu sih pas hamil lincah ...,"

"Aku dulu sih pas hamil masih bisa angkatin aqua galon ...,"

"Kamu sih enak enggak sama ngurus balita. Kalau aku dulu pas hamil sambil ngurus lima bocah ...,"

Dan, seterusnya.

Sudah terlihat jelas bahwa membandingkan bukanlah sikap solutif.

Bukan sebagai sebuah pembenaran jika bilang setiap ibu hamil punya kondisi berbeda karena kenyataannya memang seperti itu.


3. Selalu berkomentar yang tidak ada isinya

"Kok perutnya kecil amat?"

"Kok kegedean, sih,"

"Badanmu bengkak banget, ya,"

"Kok mamanya kurus? Anaknya sehat?"

"Kok gak mual muntah, jangan-jangan enggak hamil,"

Bagi seorang ibu yang baru saja hamil setelah sekian lama menunggu, jujur saja kalimat di atas bisa bikin worry (dari yang tadinya enggak mikir aneh-aneh).


4. Mengancam dengan mitos

"Jangan begini nanti begitu ...,"

"Jangan anu nanti itu,"

Dan komentar semacamnya yang tidak berdasar.

Duluu, percaya mitos masih bisa ditoleransilah ya karena ilmu pengetahuan tidak secanggih sekarang. Tapi kalau saat ini masih juga mendewakan mitos, deuhh. Dan lagi, percaya kan bukan sama mitos, tapi sama Allah yang mengizinkan hamil dan meniupkan ruh.


5. Kok hamil mulu?

Biasanya ditujukan untuk ibu hamil yang anaknya sudah banyak.

Memangnya kenapa kalau hamil mulu, toh ada suaminya. Dan selama ibu hamil tsb enggak mengganggu serta bertanggung jawab dengan keputusannya, kenapa orang lain yang sewot.


6. Nanti normal aja, jangan sampai deh caesar, dihhh

Semua ibu hamil pasti bercita-cita ingin lahiran normal. Tapi jika sudah berusaha semaksimal mungkin dan ternyata harus caesar, gimana? Dan lagi, bagi sebagian ibu hamil, dikasih amanah bisa mengandung saja sudah sangat bersyukur. Jadi dia tidak peduli dengan kompetisi yang berseliweran di dunia ibu yang salah satunya mengenai normal lebih baik daripada caesar atau sebaliknya.


7. Bisa hamil juga?

Biasanya ditujukan untuk ibu hamil yang laamaa banget penantiannya.

Bisa hamil juga? Jika Allah menghendaki apa sih yang enggak mungkin. Siapa pun tidak bisa menghalangi.


8. Kok ayahnya?

"Kok setiap kontrol enggak sama suami?"

"LDM pas hamil emang enggak ngeri?"

"Hati-hati lhoh, banyak suami yang selingkuh pas istrinya hamil,"

Entah apa manfaat berkomentar seperti itu.

Semua ibu hamil pastinya pengin dekat dengan suami alias enggak LDM, ingin setiap kontrol ditemani suami, atau yang serupa. Tapi jika kondisi tidak memungkinkan apa iya harus memaksa atau mengeluh. Jadi lebih baik didoakan daripada dikompori.


Sahabat Ummi, sedekah itu kadang enggak perlu yang ribet dan jauh atau menunggu kaya. Berkata-kata menguatkan juga termasuk sedekah, termasuk berbuat baik kepada ibu hamil. Semogaa Allah membalas semua kebaikan. Aamiin.


Penulis:

Miyosi Ariefiansyah alias @miyosimiyo pemilik www.rumahmiyosi.com ini adalah istri, ibu, penulis, & pembelajar.


Sumber : umi-online.com