Tampilkan postingan dengan label tiga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tiga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Mei 2017

Bersihkan Hati Dengan Istighfar dan Optimisme

Di tengah perjalanan mengarungi padang pasir, Rasulullah bersama para sahabat berhenti sejenak. “Cari dan kumpulkan ranting-ranting kayu.”ujar Rasulullah kepada para sahabat.

Para sahabat tentu merasa heran, bagaimana mungkin mengumpulkan reranting kayu di tengah padang pasir.”Kalau mencari kayu ranting disini tentu tidak ada ya Rasulullah,”sahut salah satu di antara mereka.

“Cari dan kumpulkan ranting kayu.”Rasulullah kembali mengulang perintahnya.

“Bagaimana mungkin akan kita kumpulkan ranting kayu di padang pasir ini. Padahal pohonnya saja tidak tumbuh di sini.”

“Cari dan kumpulkan ranting kayu.” Lagi-lagi Rasulullah saw mengulang perintahnya.

Para sahabat pun mengais-ngais pasir ke sana kemari. Ada satu dua yang ditemukan dan dikumpulkan. Tampaknya angin menerbangkan reranting itu dari tempat yang jauh. setelah beberapa waktu mencari, ternyata ranting kayu bisa terkumpul banyak. Tak disangka.

“Wahai sahabat, berkumpulah kemari.”Seru Rasulullah memanggil.

Para sahabat pun berkumpul mendekat dan siap mendengar intruksi atau apa pun itu yang dikatakan dan diperintahkan Rasulullah.

“Seperti inilah dosa-dosamu setiap hari. Sepertinya terlihat tidak ada, padahal kelak di hadapan Allah swt ternyata terkumpul banyak.

Para sahabat terhenyak. Kini mereka paham maksud perintah Rasulullah tersebut.



Baca juga: Inilah Istighfar yang Paling Utama



Ada dua pelajaran yang bisa kita ambil dari riwayat tersebut.

Yang pertama, hendaknya kita harus selalu hati-hati terhadap dosa. Oleh karena itu, siapa pun kita, harus selalu berishtighfar dan memohon ampun kepada Allah terhadap dosa-dosa yang telah kita lakukan. Baik dosa yang kita sadari atau dosa yang tidak kita sadari.

Sahabat, kadang kita merasa bersih dari dosa dan merasa cukup dengan ibadah-ibadah yang telah kita lakukan. Tapi siapa yang tahu ada dosa yang tersembunyi yang tidak kita sadari, atau ada dosa yang terlewat dari taubat.

Atau mungkin kita merasa bahwa selama dosa-dosa besar tidak kita lakukan, maka dosa kecil akan mudah terhapus dengan amalan-amalan kita. tapi siapa yang tahu jika ternyata dosa-dosa kecil yang kita ‘dawamkan’ menumpuk sehingga menjadi dosa yang besar di hadapan Allah. Ya, seperti reranting kayu yang dikumpulkan para sahabat setelah mengais-ngais pasir, sebagaimana disebutkan tadi.

Pelajaran lain yang dapat kita tangkap, hendaknya kita jangan berkeluh kesah sebelum mencoba sesuatu yang seharusnya kita kerjakan. Mungkin saja kita melihat itu sulit, itu mustahil, itu tidak mungkin dilakukan karena berbagai alasan yang melatar belakanginya.

Kita berkeluh kesah, tapi belum mencobanya. Cobalah untuk memulai, barulah berkomentar dan mengambil kesimpulan. Jika memang sulit, alangkah lebih baiknya kembali memulai atau mengakali kenapa bisa sulit? Apa yang harus dilakukan sehingga berhasil.

Oleh karena itu, hendaknya kita selalu optimis dan yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama kita mencobanya.

Hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha, begitu kata pepatah. Karena sejatinya, hukum sebab akibat itu ada. Kegagalan dan keberhasilan itu tergantung dari ikhtiar, tekad, kesabaran dan keyakinan. Tentunya dibarengi dengan ketawakalan kepada Allah.

Demikian. Semoga bermanfaat



Foto ilustrasi: google
Sumber : http://www.ummi-online.com/bersihkan-hati-dengan-istighfar-dan-optimisme.html

Halal Membawa Berkah, Haram Membawa Musibah


Fulanah (46) galau, toko kelontongnya makin sepi barang. Akibatnya pelanggan pun jarang mampir karena kebutuhan yang ingin dibeli tidak tersedia. Ini semua akibat modal Fulanah yang kerap tak cukup untuk membeli barang dagangan. Dananya tergerus untuk menutupi utang pada rentenir dan bank yang berbunga tinggi.



Kasus Fulanah banyak dialami masyarakat kita. Bujuk rayu penambahan modal atau kredit menggiurkan—padahal mencekik leher—kadang tak terhindarkan. Pemahaman yang kurang terhadap unsur-unsur keberkahan dalam mencari rezeki, membuat praktik riba seolah menjadi hal yang sepele untuk dihindari.



Apalagi jika abai terhadap kewajiban zakat, infak, dan sedekah yang harusnya selalu menghiasi perputaran rezeki yang didapat. Allah akhirnya punya banyak cara untuk mengambil hak fakir miskin dari harta tersebut dan mengurangi keberkahannya.



Cari Berkahnya, Bukan Jumlahnya



Keberkahan sebetulnya bisa dirasakan dalam banyak hal dalam hidup kita. Dalam hal rezeki, kesehatan, rumah tangga, pekerjaan, bahkan pertemanan. Jika ada keberkahan, akan banyak ketenangan dan manfaat yang terasa. Bukan saja dirasakan oleh kita, namun juga oleh orang-orang di sekitar kita.



Sebaliknya, sesuatu yang tidak berkah, walau banyak dan serba ada, terasa tidak memuaskan atau malah tidak terasa manfaatnya. Dalam tataran yang lain, ketidakberkahan akan berakibat pada segala hal yang menyusahkan, sempit, cepat musnah, dan selalu kurang.



Dalam kamus bahasa Arab, berkah diartikan sebagai suatu pertumbuhan, pertambahan, kebaikan. Sedangkan dalam konteks Al-Qur’an dan Hadits, berkah bermakna manfaat atau inti dari kebaikan sesuatu. Maka tak heran, keberkahan sesungguhnya adalah segala sesuatu yang dicari oleh setiap orang, karena fitrah manusia mendamba kebaikan yang selalu ada dalam keberkahan.



Gudang kebaikan ada dalam keberkahan, dan ia tidak terikat pada penampilan, jumlah, kedudukan, dan ukuran kebendaan lainnya. Yang sedikit,  sederhana, jika disyukuri dan bermanfaat, itulah berkah dan menjadi sumber kebahagiaan.



Halal dan Berkah Bagai Saudara Kandung



Menurut Ustadz Amang Syafrudin, Lc, M.Psi, pembina dan pengajar di jurusan syari’ah Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah, Depok, halal dan berkah adalah sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Halal merupakan bagian dari kepatuhan kepada Allah, sedang keberkahan sangat terkait dengan kehalalan itu sendiri. Yaitu, mengupayakan sesuatu harus halal dan menggunakannya semata untuk kebaikan di jalan Allah.



Inilah yang membedakan mengapa yang “bagus dan banyak” menurut hawa nafsu tidak selalu membawa keberkahan, karena ia belum tentu dari yang halal dan tidak selalu digunakan di jalan Allah. Karenanya, halal ibarat saudara kandungnya berkah. Di mana ada usaha halal, di situlah berkah mudah datang.



Halal sendiri diartikan sebagai sesuatu yang dibenarkan agama, dan lawannya adalah haram atau dilarang. Semua ini adalah hak prerogatif Allah dalam menentukannya. “Katakanlah: Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. Katakanlah: Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (QS Yunus [10]: 59).



Kita sebagai Muslim harus meyakini bahwa perintah menjaga yang halal dan menjauhi yang haram adalah memiliki kebaikan seratus persen untuk kita, dan ini termasuk dalam memaknai ketaatan. Jangan coba-coba mendekati yang haram karena tak hanya keberkahan yang hilang, berbagai kesulitan pun akan mengiringi sampai ke akhirat.



Terkait dengan makanan, prinsip berkah ditambah dengan aturan thayyib (baik). Makanan tersebut bukan hanya zat dan prosesnya saja yang halal, tapi kandungannya juga harus aman dan baik untuk tubuh kita.



Rahasia Menggapai Berkah



Manusia tak lepas dari khilaf dan alpa, sehingga dalam berikhtiar atau  menggunakan sesuatu, tersimpan perilaku yang membuat keberkahan menjauh. Kasus Fulanah di atas harus menjadi refleksi buat kita. Karenanya, kita harus selalu memantaskan diri untuk menjadi hamba Allah yang layak mendapat keberkahan.



Bagaimana caranya? Menurut Amang, sebetulnya cara untuk mendapatkan keberkahan tidak sulit, yaitu dengan sedapat mungkin meningkatkan wawasan, pengetahuan, kesadaran, dan ketakwaan. “Takwa itu sederhana, jalankan perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya!” tegasnya. Bukankah Allah berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,” (QS Al-A’raf [7]: 96).



Sayangnya, banyak umat Islam yang segan menambah wawasan tentang nilai-nilai ajaran agamanya, dengan alasan semakin banyak tahu pasti semakin banyak yang dilarang. Ini pikiran yang menyesatkan dan khas ada dalam benak orang yang hanya mencari kesenangan dunia. Akibatnya, aspek fundamental akan keimanan dan ketakwaan sebagai sumber keberkahan tak pernah terbangun dengan baik.



Mari senantiasa memohon ampun pada Allah akan segala kekhilafan diri, serta mohonkan agar kehidupan kita selalu didekatkan dengan keberkahan melalui hidayah-Nya yang tak pernah putus. Karena dengan hidayah Allah, hati yang keras akan melunak, pikiran yang buntu menjadi tercerahkan, perbuatan yang buruk akan dicondongkan pada kebaikan.



Meutia Geumala

Wawancara: Yuli Patilata

 Tanda-tanda Dihinggapi Berkah

 Selalu mensyukuri apa yang ada dan tidak mudah tergiur dengan milik orang lain.
Diri, keluarga, dan harta, tak hanya dirasakan sendiri manfaatnya, tapi juga bermanfaat bagi orang lain.
Walau harta tak banyak, rasanya cukup memenuhi kebutuhan. Jika kurang, ada saja jalan keluar untuk memenuhinya.
Jiwa tenang dan semakin dekat pada Allah.
Ringan dalam mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah. Tidak pernah merasa khawatir hartanya akan berkurang.
Bertambahnya jumlah, bertambah pula kebaikan yang ada padanya.


Sumber: Majalah Ummi, Bahasan Utama 2 06-XXVIII Juni 2016

 Foto ilustrasi : Google

Sumber  : http://www.ummi-online.com/halal-membawa-berkah-haram-membawa-musibah.html

Mengurus yang Dijemput Maut

Sahabat Ummi, lazim di masyarakat kita, jika ada seseorang meninggal dunia, keluarga almarhum akan meminta bantuan orang lain yang memiliki keahlian untuk mengurus jenazah. Mereka juga harus menyediakan sejumlah dana untuk membeli kafan, menyiapkan makam, dan lain sebagainya.



Bagai sebuah bisnis, kondisi tersebut dimanfaatkan segelintir orang yang memiliki keahlian mengurus jenazah dengan memasang tarif tertentu untuk memandikan jenazah. Jika almarhum atau almarhumah berasal dari keluarga tidak mampu, tentu hal tersebut terasa sangat memberatkan. Padahal pengurusan yang layak dan sesuai dengan tuntunan Islam adalah hak setiap Muslim, tanpa memandang kemampuan ekonominya.



Berangkat dari hal di atas, Tarsi Yaun (40) dan beberapa temannya membidani lahirnya Yayasan Baitul Kafan yang bermarkas di Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat. Melalui yayasan ini, mereka aktif menyelenggarakan daurah janaiz (pelatihan pengurusan jenazah) dan program lainnya yang terkait hal tersebut.



“Kami sebisa mungkin membantu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan dengan mengurus jenazah secara layak dan tanpa dipungut biaya. Kafan dan sebagainya pun dari kami,” ujar Yaun. Bahkan pada mulanya yayasan ini juga mengadakan tabungan untuk pengurusan jenazah sebesar Rp10.000 per bulan untuk setiap kepala keluarga. Tabungan ini diikuti oleh 200 KK di wilayah Kecamatan Jatiasih.



“Maksud kami waktu itu, keluarga yang memiliki tabungan akan terjamin pengurusan jenazah anggota keluarganya, termasuk sudah ditentukan di mana mereka akan dikuburkan,” jelas Yaun. Namun karena beberapa hal, termasuk terbatasnya sumber daya yang bisa mengurus tabungan tersebut, di tahun ketiga program  tabungan tersebut dihentikan dan uang dikembalikan ke para anggota. “Tapi beberapa anggota tidak bersedia dikembalikan uangnya. Mereka ikhlas, uang tersebut diinfakkan untuk kegiatan pengurusan jenazah,” sambungnya.



Mengurus Jenazah untuk Fakir Miskin



Jika di Jatiasih ada Tarsi Yaun dengan Yayasan Baitul Kafan, maka di Depok  ada Widi Heryani (49) yang berpengalaman selama 13 tahun mengurus jenazah. Berkat keahliannya ini, Widi kerap menjadi instruktur dalam daurah janaiz yang diselenggarakan oleh lembaga lain.



Dalam Islam, pengurusan jenazah yang dimulai dari memandikan, membungkusnya dengan kain kafan, menshalatkan, hingga menguburkan, berstatus hukum fardhu kifayah. Artinya, wajib bagi setiap Muslim untuk melakukan hal tersebut, namun kewajiban tersebut akan akan gugur jika sudah ada Muslim lain yang menunaikannya. Akan tetapi bukan berarti kita berlepas tangan terhadap hal penting ini.



Oleh sebab itulah, daurah janaiz diselenggarakan oleh pihak-pihak yang memiliki kepedulian. Tujuannya, mencetak tenaga-tenaga baru yang memiliki keahlian dalam mengurus jenazah. Dalam daurah yang biasanya berlangsung selama beberapa jam itu, para peserta akan diberikan materi berupa teori juga praktik terkait dengan pengurusan jenazah.



Mengurus jenazah memang membutuhkan kekuatan mental dan iman tersendiri. Salah satu pertimbangannya adalah karena tak setiap orang mampu menghadapi kondisi jenazah yang berbeda-beda. Kisah akhir kehidupan seseorang memang tak lepas dari qadarullah. Ini membuat tak semua orang wafat dalam wujud jasad yang utuh dan terbilang baik.



Widi sendiri tak mampu menghitung berapa kali ia harus berhadapan dengan kondisi jenazah mengenaskan, yang bisa membuat mata berkunang-kunang atau kepala berputar bagi kalangan awam. Belum lagi jika sisa cairan atau kotoran dari dalam jasad terus keluar, meski sudah disumbat.



Untuk mengantisipasi hal tersebut, Widi memiliki cara tersendiri. “Setiap kali mendapat panggilan untuk mengurus jenazah, ada tiga hal yang saya tanyakan. Usianya berapa, meninggalnya karena apa, dan ada luka atau tidak yang membuat saya perlu melakukan persiapan,” tutur Widi, mengemukakan persiapan mental mengawali prosesi pengurusan jenazah. Oleh sebab itu, Widi menganggap kemampuan yang dimilikinya semata-mata adalah anugerah dari Allah swt, mengingat ia selalu merasa ada yang menjaga hati dan panca indranya saat menunaikan tugas.



Dengan sepenuh hati, Widi menyadari bahwa keahliannya dalam mengurus jenazah bukanlah pekerjaan profesional yang melulu berimbas pada peningkatan penghasilan. Widi sendiri sebetulnya adalah pengusaha biro perjalanan umrah dan haji. Meski begitu, ia berupaya agar selalu siap 24 jam melayani panggilan pengurusan jenazah bagi kaum fakir miskin. “Kebahagiaan yang luar biasa jika saya bisa menolong orang dengan apa yang saya bisa,” ujarnya diiringi senyum. Padahal, dalam sehari, Widi tak jarang harus menjalankan tugas tersebut beberapa kali.



Pengalaman selama belasan tahun mengurus jenazah membuatnya semakin yakin akan peran utama amal shalih yang akan mengantar seseorang hingga akhir kehidupan. “Yang saya lihat, orang yang amal shalihnya banyak, mengurus jenazahnya itu terasa sangat mudah,” ujar Widi.

Suci Haryati, Aida Hanifa


Sumber : http://www.ummi-online.com/mengurus-yang-dijemput-maut.html

Ramadhan Bulan untuk Keluarga, Jangan Tunggu Mereka Tiada untuk Memaafkannya

Sahabat Ummi, siapa pun bersuka cita menyambut datangnya Ramadhan. Bulan ibadah, penuh berkah. Namun, karena spesialnya Ramadhan pula, meniti hari-harinya saat dirundung kehilangan ternyata lebih lagi membekas duka.



Beberapa orang berkisah, sedihnya tiada tara ketika Ramadhan tiba, tak ada lagi suami atau salah satu anggota keluarga bersama mereka karena belum lama wafat. Ada sisi hati yang hilang saat sahur, berbuka, tarawih, kala orang terkasih tiada.



Ya, Ramadhan adalah bulan keluarga, bulan cinta dan kasih sayang, di mana waktu bercengkerama dengan keluarga jadi lebih banyak dari biasanya. Mereka yang bekerja pun termotivasi untuk pulang ke rumah tepat waktu agar bisa buka puasa dan beribadah bersama keluarga. Bahkan saat libur Ramadhan, rasanya tak ingin ke mana pun, di rumah bersama keluarga terasa paling afdhal. Karenanya tak heran, jika kehilangan yang terkasih menjadi begitu pedih untuk diingat di bulan ini.



Bersyukurlah jika Ramadhan kali ini keluarga masih lengkap membersamai kita. Padahal di luar sana, kita disuguhkan berita kehilangan dan kematian mengenaskan yang silih berganti muncul. Tak kuasa mata menyaksikan rekaman video dan foto derita rakyat Suriah yang dibom oleh pemerintahnya sendiri, menyebabkan banyak nyawa melayang atau jadi hidup sebatangkara. Belum lagi berita kecelakaan dan pembunuhan yang silih berganti terpapar di berita. Terbayangkah kita betapa pilunya rasa Ramadhan kali ini bagi keluarga mereka? Apalagi cara kehilangan yang mereka lalui sangat menyakitkan?



Roda hidup memang akan terus berputar. Jika setiap bulan Rajab kita sudah berdoa agar dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan, bisa jadi Ramadhan yang kita temui tak selalu sama indahnya dengan Ramadhan sebelumnya. Bukan Ramadhan itu yang berubah, tapi takdir hidup kita yang menempatkan kondisi pada suasana yang tak selalu sama. Terutama jika terkait dengan kematian, si pemutus kelezatan; tak hanya bagi yang mati, tapi juga bagi yang ditinggal.



Karenanya, ekspresikan syukur yang tepat jika pada Ramadhan kali ini kita tak harus merasakan kehilangan siapa pun, dengan ibadah yang mumpuni dan kasih sayang yang tulus untuk keluarga tersayang. Namun jika ternyata di bulan suci ini ada di antara kita yang harus mencecap pahitnya musibah, sungguh pahalanya akan sebanding dengan kepedihan dan kesabaran yang dijalani.



Maka jangan ada lagi amarah pada anggota keluarga di bulan suci ini. Lapang dada dan maafkanlah ketidaknyamanan yang mungkin mereka timbulkan. Keluargalah yang paling berhak menerima akhlak terbaik kita. Jangan sampai ketika mereka tiada, kita baru merasakan arti keberadaannya.


Sumber :http://www.ummi-online.com/ramadhan-bulan-untuk-keluarga-jangan-tunggu-mereka-tiada-untuk-memaafkannya.html

Banyak yang Tak Sadar, Ternyata Ini Akibatnya Jika Nekat Duduk di Atas Kuburan!


Manusia yang bernyawa pasti akan mati. Segala sesuatu yang ada di dunia ini hanyalah bersifat sementara. Kita hanya berperan sebagai pengembara yang mencari rahmat dan ridha Allah SWT, agar dapat pergi ke tempat yang paling istimewa.

Kita tak akan pernah tahu, kapan kita akan kembali kepada Allah SWT. Hanya saja, kita harus selalu ingat terhadap hak dan kewajiban kita selama hidup di dunia ini. Baik pada diri kita sendiri maupun pada orang lain.


Salah satunya, ketika ada saudara seiman yang meninggalkan kita lebih dulu. Maka sudah menjadi kewajiban kita untuk mengurus dan menghormatinya. Ya, kita bukan hanya harus menghormati orang yang masih hidup di dunia. Tetapi, pada mereka yang telah wafat pun, perlu kita hormati. Salah satunya pada tempat yang menjadi peristirahatannya sementara, yakni kuburan.

Kuburan menjadi tempat pembaringan terakhir bagi manusia yang meninggal dunia. Di sana, jenazah akan memasuki fase alam barzah dan menunggu hari kiamat tiba. Tidak ada yang tahu, bagaimana kondisi mayit saat berada di sana.

Pada waktu tertentu, biasanya keluarga akan mengunjungi kuburan untuk berziarah.  Hal ini dilakukan untuk mengirimkan doa atau sekedar membersihkan kuburannya saja. Namun dalam pelaksanaan aktivitas itu manusia sering kali melakukan hal yang salah. Sebagai seorang muslim, makruh hukumnya bila kita duduk di atas kuburan saudara seagama atau menginjak dengan kaki kita.

Sebagaimana Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan shalat menghadap kepadanya,” (Diriwayatkan Muslim).

Rasulullah juga bersabda, “Seandainya salah seorang dari kalian duduk di atas bara api kemudian bara api tersebut membakar pakaiannya dan mengenai kulitnya, itu lebih baik baginya daripada duduk di atas kuburan,” (Diriwayatkan Muslim).


Asy-Syaafi’iy rahimahullah berkata:

وَأَكْرَهُ وَطْءَ الْقَبْرِ وَالْجُلُوسَ وَالِاتِّكَاءَ عَلَيْهِ، إِلَّا أَنْ لَا يَجِدَ الرَّجُلُ السَّبِيلَ إِلَى قَبْرِ مَيِّتِهِ، إِلَّا بِأَنْ يَطَأَهُ، فَذَلِكَ مَوْضِعُ ضَرُورَةٍ، فَأَرْجُو حِينَئِذٍ أَنْ يَسَعَهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

“Aku membenci menginjak kubur, duduk, atau bersandar di atasnya; kecuali apabila seseorang tidak menemukan jalan lain ke kubur yang ditujunya melainkan dengan menginjaknya. Kondisi tersebut adalah darurat, dan aku harap ia mendapat keluasaan (dispensasi), insya Allahu ta’ala” [Al-‘Umm, 1/277-278].

Maka dari itulah, ketika pergi ke kuburan untuk mendoakan ahli kubur, maka usahakanlah jangan sampai kita duduk di atas kuburan saudara seiman kita. Sebab, kita tak pernah tahu bagaimana kondisi mereka di dalamnya. Dan kita tahu, itu merupakan tempat peristirahatan bagi jasad-jasad mereka.

Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/05/banyak-yang-tak-sadar-ternyata-ini.html

Terbangun Pukul 3 Hingga 5 Pagi, Bersyukurlah, Tandanya Rahmat Allah ini Sampai Kepadamu

Banyak orang terbangun di waktu yang sama saat malam hari. Sayangnya, fenomena ini sering kali diabaikan. Namun, tahukah kamu bahwa ini adalah cara tubuh dan Tuhan berkomunikasi denganmu.


Pengobatan tradisional Cina menggunakan titik energi untuk teknik akupunktur. Titik-titik energi ini terhubung dengan sistem jam yang dipercaya memberi energi untuk bagian tubuh tertentu.

Jadi, dilihat dari waktu kamu bangun di malam, tubuhmu sedang mengalami sensasi tertentu. Ini juga sebuah cara fisik dan emosi menyampaikan masalah padamu, melansir EliteReaders melalui tribunnews.com.

Terbangun di tengah malam sebaiknya jangan diabaikan. Dalam pengobatan Cina, siklus tidur menjadi saat kita menerima pesan dari Tuhan.


Pesan-pesan ini yang dapat mengungkapkan perjalanan spritual kita. Jika kamu kesulitan tidur di antara pukul 9 sampai 11 malam, itu adalah pertanda stres.

Ini adalah jam tidur bagi kebanyakan orang. Jika kamu malah merasa sulit tidur, tandanya kamu sedang stres dan khawatir. Shalat hajat bisa jadi solusi untuk masalah ini.

Terbangun pada pukul 11 malam hingga 1 pagi pertanda kamu mengalami kekecewaan emosional. Pengobatan Cina kuno mengatakan bahwa ini adalah waktu dimana kantung empedu aktif.

Bangun pada jam ini menunjukkan kekecewaan. Cobalah untuk tenang dan memaafkan dirimu sendiri, maka akan membantu. Bangun antara pukul 1 hingga 3 pagi menunjukkan kemarahan.

Titik energi terhubung dengan hati. Bangun pada jam ini memnunjukkan bahwa kamu sedang marah dan memiliki energi “Yang” berlebihan.

Coba minum air dingin dan meditasi agar bisa tidur kembali.

Jika kamu bangun pukul 3 hinggal 5 pagi, tandanya Tuhan sedang berusaha berbicara padamu.

Jam ini menunjukkan bagian paru-paru dan kesedihan. Jika kamu bangun di jam ini, maka dipercaya Tuhan sedang membimbingmu untuk jadi lebih baik.

Coba bernafas perlahan dan berdoa agar bisa kembali tidur. Siklus bangun tidur terakhir adalah pukul 5 hingga 7 pagi. Jika kamu bangun di jam ini, dipercaya kamu sedang memiliki emosi yang tertahan.

Begini cara Allah menyampaikan taufik dan hidayah kepada umatnya
Kamu tak perlu langsung duduk, pergi ke kamar mandi, mengambil minum, atau malah tidur lagi. Tetaplah dalam kondisi tertidur sambil membaca dzikir yang diamalkan oleh Rasulullah ﷺ. Dzikir seperti apakah itu?

Dari Ubadah bin Shamit, dari Nabi ﷺ bersabda, “Siapa terbangun di waktu malam lalu membaca, ‘Laa Ilaaha Illallaahu Wahdahu Laa Syariikalahu, Lahul Mulku, Walahul Hamdu, Wahuwa ‘Alaa Kulli Syai-in Qadiir. Alhamdulillaah Wasubhanallaahu Walaa Ilaaha Illallaahu Wallahu Akbar, Walaa Haula Walaa Quwwata Illaa Billaahi,’ kemudian ia berdoa ‘Ya Allah, ampuni Aku’ atau berdoa pasti dikabulkan doanya. Jika ia berwudhu dan shalat, pasti diterima shalatnya,” (HR. Al-Bukhari).

Dari segi ilmiah, ini pertanda kamu mengalami masalah di usus besar namun bisa diatasi dengan renggangkan otot atau pergi ke toilet agar bisa kembali tidur.

Tubuh menyimpan begitu banyak rahasia. Jika kita belajar mencari tahu dan mendengar, maka tubuh sebenarnya sedang memberi tahu kita informasi. Kita juga bisa meningkatkan kesehatan fisik dan spiritual dalam kehidupan kita.

Jika artikel ini bermanfaat, bagikan ke orang terdekatmu. Bagikan informasi bermanfaat juga termasuk amal lho. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya @beritaagamaislam

Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/03/bangun-pukul-3-hingga-5-pagi.html

Sabtu, 06 Mei 2017

Agar Isteri dan Anak-Anak Tak Menjadi Musuh Bagi Suami

Kutatap satu-satu wajah pulas itu. Wajah-wajah yang menemani hari-hariku enam tahun terakhir ini. Hadirnya mereka adalah episode dari sekian episode yang terus berlanjut dalam kehidupan. Menatapnya, menghadirkan ketenangan. Melihatnya, juga kembali menyadarkan tentang besarnya sebuah amanah.

Kehadiran seorang isteri bagi lelaki yang baru menikah tentulah menjadi anugerah. Bukankah Adam merasa kesepian sebelum hadirnya Hawa ditengah kenikmatan surga yang dirasa. Pun, kehadiran anak bagi pasangan yang telah menikah, juga menjadi harapan. Harapan tentang berlanjutnya siklus kehidupan dengan mewujudnya keturunan. Harapan tentang masa depan anak yang cemerlang. Harapan tentang misi peradaban. Semua menjadi satu dalam kehidupan yang dijalani, kehidupan berumah tangga.

Mencintai meraka adalah ibadah. Mencukupkan keperluan mereka adalah sedekah. Amanah yang musti dijaga, selalu sepanjang masa. Kadang terbesit seketika, “Allah…, sampai kapan ini tetap ada, bilakah perpisahan itu tiba?”

Pernahkan pertanyaan yang sama Anda rasakan? Yang saat ini sedang bersama, bukankah bisa menjadi tiada. Semuanya akan pergi, pada saatnya.

Cobalah tatap pasangan kita dalam lelapnya. Cobalah sesekali meranapi gurat wajah penuh kepolosan anak kita dalam nyenyaknya. Pada mereka ada peluang ibadah yang terbuka lebar. Ibadah diatas ibadah. Teringat akan pesan mulia dari lisan sebaik manusia, “Ada dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, dinar yang kamu infakkan untuk memerdekakan budak dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin. Namun dinar yang kamu keluarkan untuk keluargamu (anak-isteri) lebih besar pahalanya.” (HR. Muslim). Terenyuh, bila kita menjadikan Rasul sebagai tauladan, “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi).

Saat menatap mereka, cobalah kemudian mendekat. Usaplah wajah-wajah itu. Isterimu yang tetap setia menemani hari-harimu. Anak-anak dengan semua kepolosan mereka. Lanjutkan dengan muhasabah diri. Sudahkah diri ini menjadi imam terbaik untuk mereka? Bagaimana pertanggungjawabanku kelak di mahkamah-Nya? Adakah kami akan bersama di kehidupan berikutnya, di surga-Nya?

Tidakkah muncul rasa risau ketika tahu bahwa nanti suami bisa menjadi musuh bagi isteri. Isteri menjadi musuh bagi suami. Orangtua menjadi musuh bagi anak-anaknya?

Maka berdoalah dengan doa yang dituntukan, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Meng-azamkan dalam hati, menjadi pribadi terbaik dari hari ke hari. Bertakwa, dekat dengan Sang Pencipta. Harapnya, ketakwaan itu pun menular kepada mereka, orang-orang terkasih. Tidakkah janji ini menjadi menarik, “Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Al-Thur: 21)

Maka cukuplah menjadi pengingat, pesan Fauzhil Adhim dalam goresannya, supaya bersama tidak hanya didunia, tapi juga bersama ke surga-Nya, “cintailah anakmu untuk selamanya! Bukan hanya untuk hidupnya di dunia. Cintai mereka sepenuh hati untuk suatu masa ketika tak ada sedikitpun pertolongan yang dapat kita harap kecuali pertolongan Allah Ta’ala. Cintai mereka dengan penuh pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia, lebih dari itu dapat berkumpul bersama di surga. Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya untuk karirnya di dunia yang sesaat. Lebih dari itu untuk kejayaannya di masa yang jauh lebih panjang, masa yang tak bertepi.”

Semoga.[]

*Bernama asli Windo Putra Wijaya, Pembina Majelis Taklim Ibu-Ibu (Indonesia) di Malaysia, Mahasiswa S3, Universiti Sains Islam Malaysia.
 Foto ilustrasi : Google

 Sumber : http://www.ummi-online.com/agar-isteri-dan-anak-anak-tak-menjadi-musuh-bagi-suami.html

Antara Cinta Dan Kasihan dalam Rumah Tangga

Sahabat Ummi, setelah sekian lama menikah apakah kamu masih cinta dengan pasangan mu? Biasanya awal mula pertemuan dua pasangan diawali dengan cinta.

Motifnya bervariasi ada karena kecantikan, kekayaan ataupun kedudukan. Ternyata kesemua motif ini akan berkurang dan hilang dengan pergeseran masa dan waktu. Lalu apakah cinta itu akan berkurang juga dengan hilangnya motif-motif di atas? Kalau cinta ikut hilang maka terjadilah keretakan rumah tangga dan pergaduhan di antara pasangan suami isteri.


Ternyata jauh sebelumnya, Al-Qur’an telah memberikan tips yang sangat mulia. Di dalam surat ar-Rum dijelaskan bahwa pernikahan itu bukan hanya dimotifasi oleh cinta yang disebut dengan mawaddah. Namun pernikahan juga harus didasari oleh rahmah yang berarti kasih. Dengan kedua-dua hal ini, apabila dipraktikkan maka keluarga akan harmonis.

“Di antara tanda-tanda (kemahaan-Nya) adalah Dia telah menciptakan dari jenismu (manusia) pasangan-pasangan agar kamu memperoleh sakiinah disisinya, dan dijadikannya di antara kamu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kemahaan-Nya) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum:21)

Apa perbedaan mawaddah dan rahmah? Sederhananya, mawaddah timbul karena perasaan cinta terhadap hal-hal yang bersifat fisik, misalnya karena pasangan kita cantik, matanya indah, badannya langsing, kulitnya mulus. Sedangkan rahmah timbul bukan dari hal yang bersifat fisik. Al Ghazali dalam sebuah kitabnya menyatakan bahwa rahmah tak mungkin muncul jika hanya melihat hal yang berkenaan dengan fisik, melainkan lahir dari akhlak mulia, hati yang bersih, yakni perasaan sayang dan berempati terhadap pasangan hidup.

Jika hanya memiliki mawaddah saja, sebuah rumah tangga akan kehilangan gairah cinta begitu di usia senja, di mana wajah makin keriput, menua, sementara jika pasutri sudah memiliki sifat rahmah, in syaa Allah kecenderungan untuk langgeng sampai akhir hayat jauh lebih besar.


Penulis: Andi Putra Ishak, dalam pelatihan menulis bersama Majalah Ummi di Kuala Lumpur. Disempurnakan oleh editor.
Foto ilustrasi : Google


Sumber : http://www.ummi-online.com/antara-cinta-dan-kasihan-dalam-rumah-tangga.html

Istrimu Malu untuk Meminta, Meski Itu Haknya

Sahabat Ummi, Islam menetapkan kewajiban nafkah keluarga ada di pundak suami sebagaimana firman Allah dalam Quran Surah Al Baqarah ayat 233: “..............Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf (baik)." Karena itu, nafkah istri menjadi tanggung jawab suami. Dan itu juga berarti bahwa seorang istri tidak dibebani menanggung nafkah dirinya sendiri apalagi keluarga.

Seorang istri shalihah paham benar bahwa nafkahnya ditanggung oleh suami, dan menjadi kewajiban suami untuk menafkahinya dengan cara yang ma’ruf.  Namun tahukah engkau wahai suami,  bahwa istrimu memiliki rasa malu untuk meminta kepadamu meski nafkah adalah hak istri dan kewajiban suami.  Istrimu malu dan juga takut untuk meminta haknya karena ia menjaga dirinya dari apa yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW,

“Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, dan dia selalu menuntut (tidak pernah merasa cukup).” (Hr An Nasa’i. Al Baihaqi).

Istri shalihah tidak akan menuntut di luar kemampuan suaminya.  Cukuplah bagi istri sesuatu yang pantas dan sewajarnya, tidak perlu mewah, merk terkenal atau mahal harganya.  Cukuplah sesuatu yang dapat memenuhi fungsinya, karena sombong dan bergaya bukanlah tabiatnya.    Sederhana dan qanaah telah menjadi penghias akhlaknya.

Karena itu wahai suami, perhatikan penampilan istrimu.  Dan segera penuhi kebutuhan istrimu.   Jangan menunggu istrimu memintanya,  karena rasa malu akan mencegahnya,  juga kekhawatiran akan membebanimu.  Perhatikan keadaan istrimu.  Adakah pakaiannya mulai kusam,  sepatu sudah butut, sandalnya sudah tipis, atau tasnya tak layak.  Ajaklah istrimu untuk membeli kebutuhannya.  Atau berikanlah uang padanya untuk membelinya sendiri.  Tak perlu kau tanya apakah mau beli sepatu dan sebagainya.  Jika kau bertanya,  niscaya istrimu akan menolaknya dan menyarankan untuk mengutamakan kebutuhanmu dan anak-anakmu.  Dan jika kau memberi sesuatu, istrimu sungguh akan bersuka cita atas perhatian yang kau berikan.  Niscaya rasa cinta dan sayangnya padamu akan makin bertambah besar karena kau mengakui keberadaannya.

Wahai suami, murah hatilah pada istrimu.  Janganlah berlaku pelit terhadapnya.  Jika kau sering memberikan hadiah untuk kerabatmu dan kolegamu, ingatlah juga ada istri yang setia disampingmu.  Istri yang siap sedia membantumu meski tak ada belanja tambahan.  Istri yang mendampingimu saat senang maupun susah dan tak kenal lelah.  Apalagi bila dirimu memiliki kelebihan rizki.  Sesekali berikan hadiah untuk istrimu.  Belikanlah sesuatu yang pada umumnya disukai oleh para wanita, apakah itu perhiasan meski hanya sebuah cincin atau gelang, sepasang sepatu baru, tas tangan yang disukai istrimu, atau hanya sekedar makanan kesukaannya.  Hadiahmu akan sangat berarti baginya dan akan menambah rasa cintanya padamu.

Wahai suami,  jangan lupakan kerabat istrimu, terutama ibu dan ayahnya.  Jika istrimu malu untuk meminta haknya, maka ia lebih malu lagi meminta sesuatu untuk ibu dan ayahnya.  Sebagai seorang anak, istrimu pun ingin dapat memberikan sesuatu untuk orang tuanya sebagai tanda cinta dan baktinya.  Namun tak akan mudah terlaksana bila nafkahnya tergantung kepadamu.  Karena itu, tanpa istrimu meminta, berikanlah sebagian rizkimu untuk mertuamu, melalui tangan istrimu.  Mertuamu akan sangat berbahagia dan terkesan padamu menantu yang berbuat baik kepada orang tua istrinya.  Demikian juga, jangan lupakan kerabat istrimu dengan mengutamakan kerabatmu sendiri.

Wahai suami, jangan abaikan hal tersebut di atas, terlebih bila istrimu tidak bekerja.  Istri shalihah akan merasa ringan membelanjakan hartanya untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, meski ia tahu ia berada dalam tanggungan nafkahmu.  Ia juga tidak akan berat membelanjakan hartanya untukmu dan anak-anakmu, terlebih dalam kondisi sempit.  Sementara istri yang tidak bekerja, atau yang sudah berhenti bekerja. Mereka tergantung sepenuhnya akan nafkah di tanganmu sebagai suaminya.  Dan inilah yang ditetapkan Allah.  Karena itu, ingatlah selalu kewajiban ini.

Kewajiban nafkah harus ditunaikan sesuai dengan kemampuanmu, dan tanpa menunggu permintaan istrimu. Istri shalihah selalu berusaha qanaah dan tidak menuntut di luar kemampuanmu. Istri shalihah selalu berusaha mensyukuri pemberian suaminya. Ingatlah, Allah akan meminta pertanggungjawabanmu dalam menafkahi keluargamu kelak di Yaumil Akhir.  Ingatlah, sebaik-baik suami adalah yang bersikap baik kepada istri dan keluarganya.



Foto ilustrasi: google

Sumber : http://www.ummi-online.com/istrimu-malu-untuk-meminta-meski-itu-haknya.html

Sabtu, 15 April 2017

Hati-Hati Jika Banyak Cicak di Rumah, Kata Rasulullah SAW....

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka’.” [QS. Ali Imran 191]
?
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam bersabda yang artinya:
?
“Bahwasanya ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam api maka mulailah semua hewan melata berusaha memadamkannya, kecuali cicak, karena sesungguhnya cicak itu mengembus-embus api yang membakar Ibrahim.” [Imam Ahmad]
?
“Siapa saja yang membunuh cicak dengan sekali bantingan maka ia mendapat pahala sekian. Siapa saja yang membunuhnya dengan dua kali bantingan maka ia mendapat pahala sekian (kurang dari yang pertama)” [HR. Muslim]
?
Mengutip aritunsa.com, menyikapi hadits tersebut diatas sikap yang tepat dalam memahami perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sikap “sami’na wa atha’na” (tunduk dan patuh sepenuhnya) dengan berusaha mengamalkan sebisanya.
?
Demikianlah yang dicontohkan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum, padahal mereka adalah manusia yang jauh lebih bertakwa dan lebih berkasih sayang terhadap binatang, daripada kita. Di antara bagian dari sikap tunduk dan patuh sepenuhnya adalah menerima setiap perintah tanpa menanyakan hikmahnya.

Dari penjelasan di atas tidaklah menunjukkan bahwa perintah membunuh cicak tersebut tidak ada hikmahnya. Semua perintah dan larangan Allah ada hikmahnya.
?
Hanya saja, ada hikmah yang zahir, sehingga bisa diketahui banyak orang, dan ada hikmah yang tidak diketahui banyak orang. Adapun terkait hikmah membunuh cicak, disebutkan oleh beberapa ulama sebagai berikut:
?

Al-Munawi mengatakan, “Allah memerintahkan untuk membunuh cicak karena cicak memiliki sifat yang jelek, sementara dulu, dia meniup api Ibrahim sehingga (api itu) menjadi besar.” (Faidhul Qadir, 6:193). 'Wallahu’alam'.

Sumber :http://www.wajibbaca.com/2017/04/hati-hati-jika-banyak-cicak-di-rumah.html


Suami Mengatakan ‘Pisah’, Apakah Berarti itu Sudah Thalak dan Mereka Bukan Suami Istri Lagi?

Membahas permasalahan rumah tangga memang sangat sensitiv dan pelik. Banyak sisi yang harus dipelajari. Namun tentunya kita tidak usah bingung, karena semua sudah diatur dalam agama.


Kali ini mengutip mediasilaturahim.com, kita akan membahas perkataan suami. Mungkin saja secara tak sadar karena kesal dalam pertengkaran suami mengatakan 'Pisah'. Dan apakah ini sudah berarti 'Thalak'?

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan:

1. Langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan bila suami hendak menceraikan isterinya?
2. Apabila suami berkata “pisah” kepada isterinya, apakah sama dengan artinya kata “cerai”? Dan apakah jatuh thalak?
3. Mohon penjelasannya tentang apa yang dimaksud thalak 1, thalak 2 dan thalak 3. Terima kasih sebelum dan sesudahnya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.

Baca Juga: Sekarang Kok Makin Banyak Anak yang Tega dengan Orangtuanya ya, Generasi Apa ini?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam wr. wb.

Pertama
Karena pernikahan merupakan sebuah ikatan suci, maka setiap Muslim harus berusaha untuk menjaganya semaksimal mungkin dan tidak mudah memutuskan ikatan tersebut, kecuali bila ada faktor-faktor tertentu yang menyebabkan ikatan suci tersebut tidak bisa dipertahankan lagi.

Oleh karena itu,bila ada satu masalah rumah tangga, maka seorang suami yang ingin menceraikan isterinya atau isteri yang ingin menuntut cerai sebaiknya berfikir matang-matang atau mempertimbangkannya berulang-ulang, lebih dianjurkan untuk beristikharah terlebih dahulu.

Sebab, bisa jadi keinginannya untuk bercerai itu hanya didasari oleh emosi sesaat saja, tanpa mempertimbangkan sisi-sisi positif dan sisi-sisi negatifnya. Hal itu terkadang akan menyebabkan penyesalan yang selalu datang di akhir.

Bila ternyata masalah itu tidak dapat diatasi oleh suami isteri, maka sebaiknya dipanggil juru pendamai, satu dari pihak laki-laki dan satu dari pihak perempuan. Ini sesuai dengan firman Allah SWT:

“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakim dari keluarga laki-laki dan seorang hakim dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakim itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. An-Nisaa` [4]: 35)

Tetapi bila kedua belah pihak sulit untuk didamaikan lagi, maka sebaiknya suami mengajukan permohonan cerai ke pengadilan agama, biar hakim yang memutuskan, meskipun menurut agama, suami berhak menjatuhkan thalak sendiri. Atau, bila isteri yang menginginkan perceraian, maka dia berhak mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama.

Kedua
Ada beberapa macam lafazh yang digunakan oleh seorang laki-laki dalam menceraikan isterinya:

1. Lafazh yang secara tegas mengandung pengertian thalak (cerai), seperti dengan mengatakan: “Aku thalak (cerai) kamu” atau “Kamu aku thalak”. Bila lafazh ini yang digunakan, maka thalak langsung jatuh meskipun tidak ada niat.

2. Bila lafazh yang digunakan adalah lafazh yang dikaitkan dengan satu syarat (perbuatan atau kondisi tertentu), seperti dengan mengatakan: “Aku thalak (cerai) kamu bila kamu melakukan perbuatan….atau mengucapkan perkataan….”

Lafazh seperti ini sangat tergantung kepada niat orang yang mengucapkannya. Bila dia benar-benar bermaksud menceraikan isterinya bila sang isteri melakukan perbuatan atau mengucapkan perkataan yang disyaratkan itu, maka thalak akan jatuh bila perbuatan tersebut dilakukan atau bila perkataan tersebut diucapkan.

Tetapi bila suami hanya bermaksud mengancam atau menakut-nakuti isterinya, maka thalak tidak jatuh meskipun perbuatan tersebut dilakukan atau perkataan tersebut diucapkan.

Baca Juga: Novel Baswedan Disiram Air Keras. Dia adalah Pengurus Masjid yang Tak Pernah Absen Jamaah Shubuh

Dalam hal ini, suami hanya dikenai kewajiban membayar kaffarah (denda) sumpah, yaitu dengan memberi makan 10 orang miskin atau berpuasa selama tiga hari.

3. Tetapi bila lafazh yang digunakan adalah lafazh yang mengandung unsur kinayah (kiasan) atau lafazh yang multitafsir, seperti dengan mengatakan: “Pulanglah kamu ke rumah orangtuamu!”, maka lafazh tersebut membutuhkan adanya niat.

Jadi, kalau tidak ada niat dari suami untuk menceraikan isterinya, maka tidak jatuh thalak. Menurut hemat saya, kata “pisah” termasuk ke dalam katagori ini, karena lafazh tersebut bisa jadi maksudnya: “Kita pisah dulu untuk sementara waktu” atau “Aku pisah-ranjangkan kamu”.

Ketiga
Dalam Islam, secara garis besar, thalak terbagi menjadi dua:

1. Thalak yang di dalamnya suami masih dapat rujuk (kembali) kepada isterinya selama masih dalam masa ‘iddah (masa menunggu) atau masih dibolehkan untuk menikahinya kembali bila masa ‘iddahnya telah habis.

Yang termasuk dalam thalak jenis ini adalah thalak ke-1 dan thalak ke-2. Artinya, bila suami menceraikan isterinya untuk pertama kali atau untuk kedua kalinya, maka dia masih dapat kembali (rujuk) kepada isterinya tanpa melalui akad nikah baru, dengan syarat masih dalam masa ‘iddah.

Tetapi bila masa ‘iddah-nya sudah habis, kemudian suami ingin kembali lagi, maka harus ada akad nikah baru (Lihat QS. Al-Baqarah [2]: 229).

2. Thalak yang di dalamnya suami tidak boleh kembali lagi kepada isteri yang diceraikannya kecuali setelah isterinya itu dinikahi oleh laki-laki lain dengan akad nikah yang sah, bukan dengan akad pura-pura atau yang biasa diistilahkan dengan akad nikah tahlil.

Thalak jenis ini disebut dengan thalak ke-3 atau thalak bain kubro. Bila thalak ini terjadi, maka seorang wanita sudah tidak halal lagi bagi suaminya kecuali bila dia telah dinikahi oleh laki-laki lain dengan akad nikah yang sah (Lihat QS. Al-Baqarah [2]: 230).

Wallaahu a’lam.

Sumber :http://www.wajibbaca.com/2017/04/suami-mengatakan-pisah-apakah-berarti.html

Rabu, 12 April 2017

5 Tips Agar Wanita Haid Imannya Tidak Menurun

5 Tips Agar Wanita Haid Imannya Tidak Menurun
5 Tips Agar Wanita Haid Imannya Tidak Menurun
Sahabat Ummi, kecenderungan wanita, ketika datang bulan biasanya kondisi iman akan menurun, sudahlah hormon PMS membuat sensitif dan gampang tersinggung, tidak shalat selama berhari-hari, beberapa wanita haid juga tidak tilawah quran, dan yang pasti kondisi badan sedang kotor.

Bagaimana menyiasati agar keimanan tetap stabil? Berikut ini 5 tips bagi wanita haid agar keimanan tetap prima:

1. Perbanyak dzikir
List beberapa dzikir yang perlu dibaca sepanjang hari, mulai dari dzikir al ma'tsurat di pagi dan sore hari, dzikir sebelum tidur, dan dzikir lainnya yang bagus untuk membentengi diri dari gangguan syetan dan kelalaian.

2. Mengikuti kajian keislaman

Tidak hanya secara offline, tapi bisa juga mengikuti kajian keislaman secara online melalui video-video yang saat ini bisa kita peroleh di berbagai platform.

3. Muroja'ah hafalan qur'an

Sudah hafal berapa juz? Silakan muroja'ah hafalan setiap harinya untuk memastikan hati kita senantiasa bersentuhan dengan ayat-ayat qur'an yang menenteramkan dan menyehatkan jiwa.

4. Jauhi musik/ film

Musik dan film sangat mungkin membuat kita lalai, kalaupun ingin menikmatinya, batasi durasinya... jangan sampai seharian menonton film mentang-mentang sedang datang bulan.

5. Baca buku positif

Wanita haid secara hormonal agak labil, oleh sebab itu perlu mendapat asupan positif baik dari buku bacaan maupun dari artikel-artikel online yang bisa banyak diperoleh di website islami.

Semoga tips di atas bermanfaat dan bisa dipraktikkan.

Foto ilustrasi : Google

Sumber : http://www.ummi-online.com/5-tips-agar-wanita-haid-imannya-tidak-menurun.html

Sembunyikan Amalanmu Hingga Tak Ada yang Tahu

Sahabat Ummi, sering melihat status di sosial media yang semisal ini: "Alhamdulillah bangun shalat Tahajud terus sudah sebulan ini..."

Atau, "Baru saja transfer 10 juta untuk wakaf, semoga menjadi amal jariyah untuk akhirat kelak..."

Ya memang sih tidak ada seorang manusia pun yang berhak men-judge seseorang itu berbuat riya'/pamer hanya dari status facebooknya, karena hanya Allah yang berhak menghakimi, akan tetapi lebih baik jika kita menyembunyikan amalan yang kita lakukan, sampai-sampai tak ada seorang pun yang tahu.

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.” (HR. Muslim, no. 2965. Lihat Syarh Shahih Muslim, 18: 84) Mengasingkan diri yang dimaksud dalam hadits ini adalah mengasingkan amalannya agar tidak terlihat orang lain.

Meskipun ada amalan yang sah-sah saja untuk diperlihatkan pada orang lain, misalnya dalam rangka berfastabiqul khoirot, namun menyembunyikan amalan itu sesungguhnya lebih baik.

"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Baqarah: 271)

Oleh sebab itu, berikut ini beberapa tips yang bisa kita lakukan untuk menyembunyikan amalan:

1. Mendahulukan melakukan berbagai amalan ibadah di rumah

Terutama untuk wanita, shalat terbaik adalah yang dilakukan di kamarnya sendiri.

“Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di pintu-pintu rumahnya, dan shalat seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya lebih utama baginya daripada di bagian lain di rumahnya” (HR. Abu Daud no. 570. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Misalnya ingin tilawah, shalat sunah, jika bisa dilakukan di rumah, lakukanlah di rumah. Jika memang tidak bisa, barulah tak mengapa jika harus dilakukan di mushola atau tempat umum lainnya.

2. Tidak memposting status terkait amalan ibadah diri sendiri

Kecuali jika memang diniatkan untuk memotivasi orang lain, bukan diniatkan untuk pamer/riya'... ingat, riya' itu masalah hati, hanya diri kita sendiri yang bisa mendeteksi adakah unsur riya' atau ujub dalam postingan tersebut.

3. Tidak mencantumkan gelar atau julukan dengan niat agar orang lain tahu amalan yang sudah kita lakukan

Misalnya, marah kalau tidak disebut Ustadzah, marah kalau lupa ditulis gelar Haji/Hajjah. Justru lebih baik ketika gelar-gelar seperti ini ditanggalkan dari nama kita, agar terhindar dari ujub/bangga diri dan riya'.

Sumber: rumaysho
Foto ilustrasi : Google

Sumber : http://www.ummi-online.com/sembunyikan-amalanmu-hingga-tak-ada-yang-tahu.html

Rabu, 29 Maret 2017

Mentimun Cocok untuk Diet dan Mempercantik Kulit?

Sahabat Ummi, mengalami masalah dengan berat badan? Berbagai jurus diet sudah diterapkan tapi badan masih melar? Pernah mencoba diet mentimun, Sahabat Ummi?

Mentimun cocok untuk diet

Sahabat Ummi, mentimun mengandung 95% air dan 5% serat sehingga dapat membersihkan racun dan melancarkan pencernaan. Selain itu, mentimun memiliki kandungan kalori yang rendah sehingga tidak membahayakan timbunan lemak dalam tubuh. Yang paling penting, mentimun dapat membuat perut kenyang lebih lama, sehingga kita terhindar dari keinginan ngemil ini-itu setiap saat. Hal ini diaminkan oleh seorang pakar Holtikultura, Robyn McConhie.

Dari wolipop, "Mentimun sayuran keempat yang paling banyak dibudidayakan di dunia, dan salah satu superfood paling disukai, karena alasan yang baik. Mentimun mengandung properti yang menghidrasi tubuh, nutrisi penting dan rendah kalori, membuatnya jadi bahan pokok dalam setiap diet," jelas Robyn McConhie, profesor Horticulture dari University of Sydney.

Mentimun mempercantik kulit

Sahabat Ummi, mentimun memiliki kandunan vitamin C dan vitamin B yang berfungsi untuk melembutkan kulit, membuatnya lebih bening, dan berkilau. Dari wolipop(dot)detik(dot)com, mentimun juga kaya akan kandungan ascorbic acid dancaffeic acid yang berkhasiat untuk mencegah penumpukan cairan di dalam kulit. kedua kandungan ini membuat mentimun bisa digunakan untuk mengurangi bengkak di bawah mata dan membantu meredakan peradangan kulit.

Mentimun juga bisa digunakan untuk merawat kulit yang terbakar matahari. Hal ini karena mentimun mempunyai khaisat mendinginkan kulit sehingga mempercepat regenerasi kulit dan mengembalikannya seperti semula.

Sahabat Ummi, jika kita hanya mengenal toner yang beredar dalam kemasan di pasaran, tidak ada salahnya kita mencoba toner alami dari buah mentimun ini. Caranya dengan mencampurkan sari cuka apel, perasan lemon, putih telur, sari lidah buaya, dan tomat. Mantap, cairan ini akan mengencangkan dan menutup pori-pori kita yang terbuka. Mudah bukan, tinggal memanfaatkan bahan-bahan di sekitar kita dan kulit wajah pun sehat dalam sekejap.

Foto ilustrasi: google

Nidaul Fauziah

Sumber : http://www.ummi-online.com/mentimun-cocok-untuk-diet-dan-mempercantik-kulit.html

Make Up Natural Jadi Tren di Tahun 2017

Sahabat Ummi, trend make up mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Mulai dari trend alis natural, bibir gothic, sampai bibir pucat silih berganti menghiasi majalah mode setiap tahunnya.

Apakah trend alis tebal masih populer di tahun 2017 ini? Simak ulasan trend make up 2017 yang berhasil dirangkum oleh Ummi berikut ini.



1.  Lipstick merah menyala

Menurut harpersbazaar(dot)com dan shopback(dot)co(dot)id, lipstick merah akan merajai trend make up tahun 2017.



2.  Alis natural

Jika alis tebal menjadi trend pada tahun 2016, maka 2017 ini lain lagi ceritanya. Alis natural bahkan dibleach disinyalir akan menjadi trend make up pada 2017. Tertarik untuk menanggalkan pensil alis kita dan tampil lebih natural?



3.  Glitter menjadi andalan

Di tahun 2017, mata kita menjadi sorotan utama. Berbagai jenis make up yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya diaplikasikan pada berbagai bagian mata. Salah satunya ialah penggunaan glitter sebagai pengganti eyeshadow atau eyeliner. Jenis make up ini cocok untuk kita yang senang menjadi pusat perhatian.



4.  Eyeshadow tembaga

Jika tidak tertarik dnegan penggunaan glitter yang terkesan menonjol, kita bisa menggantinya dengan eyeshadow berwarna tembaga. Penggunaan warna ini akan membuat mata menjadi lebih sayu dan terkesan natural.



5.  Bibir pucat

Selain penggunaan lipstick merah menyala, gaya bibir pucat juga akan menjadi trend di tahun 2017. Menurut berbagai pakar kecantikan, bibir pucat tanpa riasan sangat cocok dipadukan dengan riasan mata ber-glitter atau tanpa make up sekalipun.



6.  Penggunaan eyeliner

Menurut harpersbazaar(dot)com, tahun 2017 akan didominasi oleh penggunaan eyeliner sepanjang garis dalam mata. Riasan ini akan mempertegas tampilan mata dan membuatnya lebih hidup. Meski terlihat seperti anak sekolah, tapi penggunaan eyeliner ini akan mempertegas statement pada wajah kita. Sedangkan menurut shopback(dot)co(dot)id, tahun ini akan ada banyak make up artist yang menjadikan mata sebagai objek riasan mereka. Penggunaan warna hitam yang tebal seperti gothic akan menghiasi pameran-pameran fashion tahun depan.



Referensi : berbagai sumber

Foro ilustrasi : google

Nidaul Fauziah

Sumber : umi-online.com

Senin, 20 Maret 2017

Biar Romantis Tak Gampang Habis

Biar Romantis Tak Gampang Habis
Biar Romantis Tak Gampang Habis
Sahabat Ummi, setiap hari kita melakoni kegiatan rutin dengan pola berulang hingga bisa menimbulkan kejenuhan. Bagi yang bekerja, seusai bangun pagi akan bersiap diri lalu berangkat ke tempat kerja. Disambut tumpukan tugas dan daftar aktifitas yang ada batas tuntasnya. Pulang kerja sampai rumah istirahat dan bersiap untuk melakukan hal yang sama keesokan harinya. Yang berprofesi ibu rumah tangga pun tak jauh berbeda. Dari bangun tidur sampai kembali ke peraduan kegiatannya itu melulu. Mencuci baju, menyetrika, masak, cucian piring yang terus saja ada, antar jemput anak sekolah setiap harinya, dan seterusnya, seperti tak habis-habis. Jadi wajar saja kalau rasa jemu bisa datang.

Demikian juga dengan pasangan suami istri. Setelah sekian waktu yang dilalui bersama, tentu bisa ada kejenuhan yang timbul dalam hubungan. Sehingga dibutuhkan penyegaran agar rasa bosan tak datang berkepanjangan.

Nah, salah satu cara untuk mengusir kejemuan ini adalah dengan menjaga romantisme antar pasangan suami istri.  Caranya antara lain :

Pasutri Time

Jangan karena alasan sudah ada anak, pergi kemana-mana selalu sekeluarga. Sediakan juga waktu untuk berdua. Bisa sekedar ngopi di coffe shop baru di ruko depan komplek perumahan, mendaftar seminar untuk pasangan dengan tema menarik yang diminati atau pergi ke taman hiburan dan menikmati wahana yang ada berdua saja.  Keintiman seperti ini penting untuk menumbuhkan lagi suasana romantis bagi pasutri.

Hal-hal Baru Akan Merekatkan Kembali Cintamu

Cobalah cari apa yang belum pernah dilakukan berdua selama ini. Misalnya, belum pernah bepergian naik kereta api karena biasanya pakai kendaraan pribadi. Atau sama-sama tertarik pada metode menanam cara hidroponik. Ayo coba hal baru itu! Pergilah berdua naik kereta! Juga ikuti saja kursus menanam hidroponik bersama. Hal-hal baru itu akan melekatkan lagi kekompakan pasutri.

Bikin Jarak Biar Tak Muak

Setiap individu butuh waktu untuk dirinya sendiri. Begitu juga suami istri. Hanya karena sudah menikah tak berarti segalanya harus berdua. Beri waktu untuk pasanganmu untuk mengembangkan potensi, meningkatkan kualitas diri atau sekedar menenangkan hati. Tak semua yang ia rasakan harus dikatakan. Tak harus yang ia lakukan pasangan juga ikutan. Masing-masing berhak punya Me time agar bosan tak datang.

Pegang Tangannya – Peluk Dirinya

Jangan karena sudah punya anak tiga , lalu beranggapan tak perlu saling berpegangan tangan. Genggaman tangan dan pelukan adalah wujud dukungan, kasih sayang dan kekuatan yang diberikan pasangan.  Dahsyatnya bisa mengalahkan kata-kata cinta yang semanis gula.

Bersenang-senanglah dengan Pasangan

Karena suami/istri adalah pasangan halal kita, maka bersenang-senanglah dengannya. Nikmati dan syukuri hidup bersama pasangan kita. Ini akan mengusir jauh-jauh rasa jenuh yang melanda. Kembalilah ke tujuan awal pernikahan. Hingga akan tercipta lagi dan lagi romantisme antar pasutri.

Selamat mencoba ya, Sahabat Ummi. Semoga romantisme dengan pasangan kita tak gampang habis, tak mudah terkikis dan dari hari ke hari hubungan semakin manis. Aamiin.



Penulis : Dian Restu Agustina (Ibu Rumah Tangga – Freelance Writer - www(dot)dianrestuagustina(dot)com)

Sumber : umi-online.com

Istri yang Memiliki Suami seperti Ini harus Bersyukur

 Dibaca 29 Kali

Istri yang Memiliki Suami seperti Ini harus Bersyukur
Istri yang Memiliki Suami seperti Ini harus Bersyukur
Salah satu kebahagiaan seorang wanita adalah ketika dia mendapatkan atau dititipi amanah sama Allah seorang laki-laki atau suami yang baik luar dalam, bukan yang kelihatan baik. Ketika seorang wanita bersuamikan sosok dengan ciri-ciri seperti di bawah ini, seharusnya dia bersyukur. Apa saja?

1. Cemburu demi kebaikan istrinya

Cemburu yang dimaksud di sini adalah cemburu pada tempatnya untuk menjaga kehormatan istri, misalnya tidak membiarkan istrinya melakukan sesuatu yang bisa mengundang fitnah (berduaan dengan laki-laki asing dengan modus apapun), mengingatkan istrinya ketika berpenampilan kurang syari di luar rumah, dan yang sejenis.

Di zaman serbabebas seperti ini makin banyak suami yang membolehkan istrinya berbuat apa saja. Tidak merasa cemburu ketika istrinya menjadi tontonan, bukan tuntunan. Merasa biasa saja ketika istri berkhalwat dengan laki-laki asing dengan alasan kerja. Atauu, hal serupa. Suami sejenis ini makin banyak jumlahnya. Justru suami pecemburu pada tempatnya yang jarang. Maka, berbahagialah dan bersyukurlah yang memiliki suami jenis kedua.

2. Pekerja keras dan bertanggung jawab

Laki-laki akan semakin terlihat kelelakiannya jika ia pekerja keras. Mungkin ini yang dinamakan fitrah. Laki-laki sejati tidak hanya bicara saja, tapi juga memberikan bukti salah satunya dengan bekerja keras (enggak malas-malasan).

3. Berinisiatif memberikan "uang jajan" jika mampu, selain nafkah

Suami yang memiliki perasaan akan paham tanpa harus disodori ratusan artikel atau tanpa harus diminta istri atau di-mention istri di Facebook bahwa menjadi istri dan ibu tidaklah semudah yang dibayangkan. Maka jika mampu, suami seperti ini akan memberikan uang jajan (selain nafkah) kepada istrinya. Bukan sebagai bayaran tentunya & bukan masalah jumlahnya, tapi semata-mata sebagai bentuk betapa suami begitu menghargai dan menyayangi istri salah satunya dengan memberikan istri keleluasaan dalam hal finansial.

4. Adil, tidak heboh sendiri dengan modus pekerjaan hingga melupakan keluarga

Ada suami yang saking cintanya sama pekerjaan atau ingin memastikan anak istrinya tidak telantar malah justru menelantarkan anak istri dengan cara lain, yakni terlalu sibuk dengan pekerjaan 24 jam enggak ada jeda. Padahal, anak istri juga butuh sentuhan emosi.

5. Tidak suka selfie

Laki-laki hobi selfie? Sesekali mungkin enggak apa-apa itupun kalau ramai-ramai dan terpaksa. Tapi kalau selfie dijadikan gaya hidup? Ehm .... Wanita terlalu banyak selfie saja bikin risih, apalagi laki-laki. That's why bersyukurlah yang memiliki suami tidak suka selfie.

6. Tidak suka pamer

Bersyukurlah yang memiliki suami tidak hobi pamer penderitaan seperti, "lembur, nih!" atau pamer kekuatan seperti, "alhamdulillah, bisa beliin rumah istri di kawasan elit," atau semacamnya.

7. Menjaga pergaulan

Suami yang menjaga pergaulan di zaman bebas seperti ini juga makin jarang. Apalagi, kalau laki-laki bisa berdalih, "Cuma temen kerja," atau serupa. Maka bersyukurlah yang memiliki suami tidak suka chatting jika tidak penting dengan wanita lain, tidak hobi nge-like foto akhwat cantik di Facebook, atau kegiatan serupa.

8. Menjaga pandangan

Suami yang tahu diri akan menjaga pandangan karena dia sendiri juga enggak rela kalau istrinya dilihat dengan sebegitunya oleh laki-laki asing.

9. Tidak membandingkan istri dengan wanita lain termasuk dengan mantannya karena tidak ada gunanya

10. Mendukung istriny melakukan hal-hal yang produktif

Suami yang baik tidak akan mendukung istrinya bergosip, tapi dia akan sangat mendukung ketika sang istri melakukan hal-hal positif misalnya mengikuti kelas online, mengajar online, berdagang barang-barang yang banyak manfaatnya, menulis sesuatu yang positif kemudian diterbitkan, atau yang serupa.

Sahabat Ummi, sebenarnya masih ada banyaakk sikap-sikap suami yang jika dia memilikinya patut kita syukuri. Kalau masalah seiman, sholat 5 waktu, puasa, & yang serupa itu sudah pasti ya. Kita sudah bisa menalarnya sendiri.

Sahabat Ummi, jika kita sudah memiliki suami dengan sikap-sikap seperti di atas, bersyukurlah. Dan, salah satu bentuk syukur tsb adalah dengan tidak terlalu mengekspos kebaikan suami di depan publik, media sosial misalnya, karena bisa membuat penyakit hati bagi yang lain. Cukuplah kita saja yang merasakan. Lebih baik kita perbaiki diri setiap hari sebagai bentuk rasa syukur sudah dititipi Allah suami yang baik.



Penulis:

Miyosi Ariefiansyah alias @miyosimiyo pemilik www(dot)rumahmiyosi(dot)com adalah istri, ibu, penulis, & pembelajar.

Sumber : umi-online.com