Tampilkan postingan dengan label dua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dua. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Mei 2017

Sering Bersedekah untuk Orang Lain, Tapi Sudahkah Saudaramu Disantuni Hari Ini?

Lebih utama mana, sedekah kepada orang miskin atau kada kerabat sendiri?

Pertanyaan ini mungkin dirasa sepele, namun kenyataannya kebanyakan muslim yang belum tahu lebih memilih untuk bersedekah pada fakir miskin daripada bersedekah terhadap keluarga atau kerabatnya sendiri. Mungkin jika ditelisik lebih lanjut, kerabat yang mungkin belum mampu akan terlihat setiap hari dan bisa memberi bantuan kalau memang sudah terlihat sangat membutuhkan sekali, atau dalam hal kasarnya membiarkan mereka meminta tolong terlebih dahulu.


Padahal, setiap perintah sedekah dan infak di dalam al Qur’an, selalu yang pertama kali disebutkan adalah untuk karib kerabat. Seperti yang termaktub dalam ayat berikut ini:

وءاتى المال على حبه ذوى القربى

“….dan memberikan harta yang ia cintai kepada karib-kerabat…..” (QS. Al Baqarah 177)

وءات ذى القربى حقه والمسكين

“Dan berikanlah kepada karib-kerabat akan haknya dan orang miskin….” (QS. Al Isra 26)

Dan banyak lagi ayat lain yang senada dengan itu. Jika kita cermati, ada satu pesan yang sangat penting untuk kita amalkan. Yaitu mendahulukan karib kerabat atau orang terdekat untuk menerima infak atau apapun bentuk kebaikan. Sebelum kita memberi kepada orang lain, kita harus perhatikan apakah ada di antara orang terdekat yang masih membutuhkan atau semua sudah makmur, tidak perlu disantuni lagi.

Amat disayangkan bila seseorang memiliki kekayaan yang membuat ia mampu menyantuni orang lain, dan ia sangat peduli dengan dengan masalah sosial di lingkungannya, mudah memberi kepada fakir miskin, anak yatim dan berbagai bentuk amal sosial lainnya.

Namun sayang beribu sayang ia sangat cuek dan pelit kepada saudara kandungnya sendiri. Barangkali ia merasa pemberian kepada keluarga terdekat tidak mendapatkan pahala. Padahal justru itulah yang lebih besar pahalanya di sisi Allah. Oleh karena itu pemahaman yang salah ini perdu diluruskan.

Tidakkah memilukan, bila seseorang tinggal di rumah yang bagaikan istana, sementara saudara kandungnya tinggal di rumah RSSS (rumah sangat sederhana sekali). Tidakkah kita mengangkat alis bila seseorang mempunyai kekayaan besar, turun dari satu mobil mewah dengan dibukakan pintu oleh para ajudan, berpindah dari satu gedung mewah ke gedung mewah berikutnya.

Namun saudara kandungnya menjadi kuli atau babu yang siap diperintah-perintah dengan suara tinggi sambil diacungi telunjuk kiri, wajahnya penuh ketakutan dengan kepala tertunduk serta badan yang membungkuk.

Ingatlah.. Rasulullah SAW bersabda:

….يا أمة محمد، والذي بعثني بالحق لا يقبل الله صدقة من رجل وله قرابة محتاجون إلى صلته ويصرفها إلى غيرهم. والذي نفسي بيده، لا ينظر الله إليه يوم القيامة

“….Wahai umat Muhammad, demi Allah yang telah mengutusku dengan kebenaran, Allah tidak akan menerima sedekah seseorang yang mempunyai kerabat yang membutuhkan bantuannya, sementara ia memberikan sedekah atau bantuan itu kepada orang lain. Dan demi Allah yang jiwaku berada dalam genggamannya, Allah tidak akan memandangnya di hari kiamat nanti”. (HR. Thabrani)

Rasulullah SAW juga pernah bersabda:

الصدقة على المسكين صدقة، وعلى القريب صدقتان، صدقة وصلة

“Sedekah kepada orang miskin dinilai satu sedekah, sedangkan kepada karib (saudara dekat) nilainya sama dengan dua, nilai sedekah dan nilai menghubungkan persaudaraan”.


Ada pesan penting yang sangat jelas disini:

“Jika anda menjadi orang yang kaya, jadikanlah orang terdekat anda yang pertama sekali merasakan kekayaan itu. Ibu-bapak, anak-istri, saudara kandung, baru yang lainnya. Jangan sampai masyarakat anda memuji kedermawanan anda, sementara orang terdekat mengurut dada karena kebakhilan anda, padahal mereka dianggap kaya oleh orang lain karena anda sebagai saudaranya”.

Jadi kesimpulannya adalah, jelas anjuran Rasullulah SAW bahwa bersedekah kepada keluarga dan kerabat karib terdekat kita justru mendapat lebih besar pahala di sisi Allah SWT. Namun jangan sampai menjadikan apa yang sudah disedehkan kepada mereka malah menjadikan kerabat lebih rendah derajatnya. Sayangi saudaramu dan bantulah mereka yang membutuhkan agar terjalin rasa kasih sayang, dan hal itulah yang menjadikan Allah SWT selalu memberikan kelancaran rezeki untuk kita semua.

Merasa informasi ini bermanfaat? Jangan ragu Share atau bagikan ke teman-temanmu juga ya agar termasuk amal baikmu. Untuk informasi menarik dan bermanfaat lainnya, kamu bisa LIKE fanspage kami, Berita Islam dan Orang Tua Teladan

Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/05/sering-bersedekah-untuk-orang-lain-tapi.html

Untukmu yang Ragu, Pria Ini Dibangkitkan Setelah Mati Selama 100 Tahun Lamanya!

Maha Besar Allah yang telah menciptakan manusia dengan sempurna. Sehingga tak ada yang mampu meragukan apapun yang Allah SWT kehendaki. Namun ternyata ada orang yang masih beranggapan bahwa mereka yang telah mendahului kita dan pergi untuk selama-lamanya, maka akan terlepas dari segala masalah duniawi dan tak akan terjadi apa-apa pada mereka. Sehingga banyak yang berpikir jika hari kebangkitan itu tiada pulalah benarnya.

Akan tetapi, yang harus diketaui diantara dalih yang digunakan oleh orang-orang kafir dan munafiq untuk meragukan Allah Ta’ala dan ajaran Rasulullah adalah terkait kebangkitan setelah mati. Mereka selalu menggugat dengan mengatakan, “Apakah kami akan dibangkitkan?”


Pasalnya, mereka menganggap dunia sebagai satu-satunya kehidupan yang tak ada lagi kehidupan setelahnya. Sebab itulah, Allah Ta’ala banyak menurunkan ayat tentang keniscayaan kebangkitan manusia setelah kematiannya di dunia ini. Raja Bukhtanashar menghancurkan sebuah negeri yang bernama Baitul Maqdis. Semua penghuninya dibunuh; bangunan megah di negeri itu pun turut dirobohkan hingga rata dengan tanah.

Maka berlalulah laki-laki yang bernama ‘Uzair, sebagaimana pendapat Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu Abi Hatim yang diriwayatkan dari Ali bin Thalib, Qatadah, Abdullah bin ‘Abbas, al-Hasan dan as-Suddi.

Saat melihat negeri itu rata dengan tanah, ‘Uzair berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan negeri ini setelah hancur?” Perkataan yang direkam dalam ayat 259 surat al-Baqarah ini bermakna, “Mungkinkah mereka dibangkitkan sementara kerusakannya sangat parah, bahkan tak ada bekas-bekas kehidupan?”

Sebagai jawaban, Allah Ta’ala pun mematikan ‘Uzair. Tak hanya dirinya, keledainya pun turut dimatikan hingga tulang belulangnya berserakan di sampingnya. Setelah masa tujuh puluh tahun dari kematiannya, Allah Ta’ala membangun kembali negeri itu. Maka ketika orang ini dihidupkan, Bani Israil telah kembali ke negeri tersebut.

Kemudian, orang itu pun dihidupkan kembali; dimulai dari mata, agar ia bisa melihat sekitar. Maka didapatilah sekitarnya penuh dengan bangunan dan orang-orang yang berlalu lalang. Setelah sempurna penciptaannya, Allah Ta’ala bertanya kepadanya, “Berapa lama kamu tinggal di sini?”

Disebutkan bahwa laki-laki itu dimatikan di awal siang, dan dihidupkan kembali di akhir siang. Maka ia menjawab, “Aku telah tinggal di sini satu atau setengah hari.”

Padahal, berdasarkan firman-Nya, ia dimatikan selama seratus tahun. “Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali.”

Allah Ta’ala pun memerintahkan kepada orang tersebut untuk memperhatikan makanannya. Kemudian Dia menghidupkan kedelainya yang telah menjadi tulang yang memutih melalui bantuan angin untuk mengumpulkan tulang yang berserakan. Lalu disusun dengan amat baik hingga menjadi seekor keledai tanpa daging, selanjutnya dibungkus dengan daging, urat, pembuluh darah dan kulit.

Dan sebagai tahap akhir, Allah Ta’ala memerintahkan malaikat untuk meniupkan roh melalui lubang hidung keledai. Dengan izin-Nya pula, lelaki bernama ‘Uzair ini menyaksikan proses penciptaan tersebut. Sebab itu pula, keraguannya akan kebangkitan setelah mati seketika sirna. Katanya penuh kemantapan, “Aku yakin bahwa Allah Mahakusa atas segala sesuatu.”

Karena tak mungkin ada kesalahan dalam al-Qur’an ini, apakah ada di antara kita yang masih ragu akan hari berbangkit? Apakah perlu mengalami dimatikan dulu, lalu dihidupkan lagi di dunia seratus tahun kemudian? MasyaAllah, sungguhlah benar jika akan ada kehidupan lain yang memang sudah menunggu kita, entah kapan itu karena hanya Allah sajalah yang tahu sebagai Sang Maha Pencipta, dan kepada-Nya pulalah tempat kita untuk kembali.


Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/05/untukmu-yang-ragu-pria-ini-dibangkitkan.html

Saat Allah Menjauh Karena Dirimu Masih Seperti Ini, Tak Malukah?

Bagi kita yang masih merasa jauh dari Allah (terutama bagi penulis sendiri), sampai kapan mau jauh dari Allah? Apakah sampai kaya, sampai sukses, sampai terkenal, sampai bahagia, sampai punya anak, sampai punya istri/suami, sampai bumi dan seisinya milik kita, sampai mendepat musibah, sampai tua, sampai dapat bencana, sampai ada waktu luang atau sampai titik akhir kehidupan?! Sesungguhnya kita tidak pernah puas dengan apa dicari maupun diperoleh. “Kebahagiaan yang paling bahagia ialah panjang umur dalam ketaatan kepada Allah” (HR.Ad-Dailami dan Al Qodhoi).

Also read : Dirimu Bukan Lalat, Inilah Bedanya Kerja Keras dan Kerja Cerdas!


Ya, mungkin memang benar kita hidup di dunia ini haruslah berjuang dan menggapai apa yang ingin kita peroleh, serta jangan sampai membuat sebuah kegagalan demi orang yang kita sayangi. Akan tetapi, ingatlah satu hal bahwa kita hanyalah hamba yang sangat dan harus melakukan apa yang diperintahkan untuk kita. Dialah yang memang Maha Memberi dan Menciptakan, sehingga tak ada satupun hal yang bisa kita elak dari diri-Nya.

Mungkin menjadi sebuah pertanyaan bagi mereka yang telah mengerti, mengapa rasanya seperti Allah SWT sangat jauh dari diri saya? Apakah Allah membenci saya? Juga beberapa pertanyaan lain yang bisa saja dijawab dengan melihat apa yang sudah diperbuat dan diamalkan selama ini. Namun jika memang ingin sekali memperbaiki, maka hal yang bisa dilakukan adalah dengan menjadikan poin-poin berikut ini tak sampai terlewatkan dalam hidup.

Tahapan pertama untuk dekat dengan Allah Ta’ala ialah membiasakan diri dengan amalan ketaatan dan terus menerus memperbaikinya hingga menjadi amalan terbaik. Berbeda dengan dzikir yang parameternya adalah sebanyak-banyaknya, amal ketaatan atau amal shalih dihitung berdasarkan kualitas, bukan kuantitas.

Dekat dengan Allah Ta’ala juga bisa digapai melalui tangga kedua yang disebut dengan akhlak yang mulia. Dalam tahapan ini, seorang hamba harus berupaya sungguh-sungguh menjauhkan dirinya dari sifat-sifat makhluk secara umum, berupaya sekuat tenaga meneladani Nabi, kemudian menginstal sifat-sifat malaikat di dalam dirinya.

Melalui tiga tahapan itu-menjauhi sifat mahkluk, meneladani Nabi, dan memilki sifat malaikat, maka seorang hamba akan berada dalam posisi yang dekat dengan Allah Ta’ala. Sifat-sifat makhluk yang harus dijauhi ialah perbuatan-perbuatan negatif yang masyhur dilakukan oleh sifat-sifat hewani dan syaithani. Rakus. Sombong. Serakah. Egois. Pemarah. Pembenci. Pendendam. Dan sebagainya.

Sifat-sifat itu harus dihilangkan-sebagian kemudian seluruhnya-dan diisi dengan meneladani sifat-sifat kenabian yang mulia. Benar. Dapat dipercaya. Menyampaikan kebenaran. Cerdas. Keempat sifat ini, dan derivasinya, merupakan sifat-sifat Nabi yang harus senantiasa diteladani dalam tiap jenak kehidupan seorang hamba.

Jika seorang hamba berhasil mengeliminasi sifat-sifat makhluk-kebinatangan dan syaithani, kemudian menginstal berbagai sifat-sifat kenabian yang mulia, maka ia akan mendapatkan berbagai kemudahan dalam melakukan sifat-sifat malaikat dalam kehidupan sehari-harinya.

Para malaikat merupakan makhluk yang senantiasa taat kepada Allah Ta’ala dan mustahil durhaka kepada-Nya. Ketaatan para malaikat akan mudah dikerjakan oleh seseorang yang tidak memiliki (atau sedikit memiliki) sifat-sifat buruk di dalam dirinya.

Pasalnya, hati dan jiwa manusia merupakan wadah yang mustahil mengumpulkan dua hal bertolak belakang. Tidak mungkin bersemayam keburukan di dalam hati, ketika ia dipenuhi dengan berbagai jenis kebaikan. Sebaliknya, kebaikan akan sukar masuk dan bersemayam di dalam diri tatkala hati dan jiwanya dipenuhi dengan berbagai macam keburukan dan sifat-sifat tercela lainnya.

Melewati tiga kondisi ini dengan baik, insya Allah mengantarkan kita pada kedekatan dengan Allah Ta’ala. Sebab seorang hamba yang dekat dengan-Nya pasti meneladani dan dimudahkan meniru sifat-sifat-Nya yang baik; penyayang, penolong, pengasih, penyabar, dan sebagainya.

Pada akhirnya, buka hati dan pikiran kita untuk merenung. Apa yang melatarbelakangi kita masih betah, bertahan untuk menjauhi Allah dan menikmati hidup tanpa aturan-Nya. Bukankah hidup tidak kekal dan sejauh-jauhnya berjalan akan ada akhirnya dan sebebas-bebasnya pasti akan rindu untuk mengadu pada-Nya?

“Di antara Wahyu Allah kepada Nabi Dawud AS; “Tiada seorang hamba yang taat kepada-Ku melainkan Aku memberinya sebelum dia meminta, dan mengabulkan permohonannya sebelum dia berdoa, dan mengampuni dosanya sebelum dia mohon pengampunan (istighfara).” (HR.Ad-Dailami).

Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/05/saat-allah-menjauh-karena-dirimu-masih.html

Aku, Ibumu Si Buruh Cuci yang Tak Ingin Kelak Kau Jadi Seperti Ini Wahai Anakku

Seberapa seringkah kita menangis untuk kedua orang tua kita? Terlebih lagi seorang ibu. Sudah menjadi rahasia umum jikalau ibu yang telah dikirimkan oleh Allah SWT untuk menjaga kita sedari kecil, pasti menginginkan hal yang terbaik untuk buah hatinya. Seperti pepatah mengatakan, "kedua orang tua akan mampu mengangkat anaknya tinggi-tinggi, meskipun mereka bisa saja tenggelam di dalamnya, meskipun mereka tak tahu apakah anak mereka akan menarik mereka ke atas, atau malah membiarkan mereka".

Sungguh mulianya hati kedua orang tua yang tak pernah berharap balasan apapun dari buah hatinya. Seperti sebuah kisah inspiratif berikut ini, yang mana pengorbanan orang tua, terlebih lagi ibu, tak akan pernah berakhir. Meskipun dalam keterbatasan, bahkan sampai dunia memusuhinya, ia akan tetap berjuang untuk menyelamatkan anaknya.


Ya, menyelamatkan anaknya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, jauh dari apa yang bisa kedua orang tuanya bisa lakukan.

Yuniati (49), warga Ketandan Kulon, Kecamatan Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta, pantang menyerah ketika kesulitan biaya menyekolahkan kedua anaknya. Hasilnya, buruh cuci itu mampu menyekolahkan anaknya hingga lulus jenjang S3.

Prinsip hidup Yuni adalah jangan sampai dua anaknya, Satya Chandra Wibawa Sakti (29) dan Oktaviana Ratna Cahyani (27), menjadi buruh cuci seperti dirinya. Itu makanya ia menjadikan Sakti, anak pertamanya menjadi contoh.

Sakti ia sekolahkan ke Jepang dan baru saja menyelesaikan S3 di Universitas Hokkaido, Jepang. “Pokoknya, prinsip saya sederhana, jangan sampai anak saya seperti saya,” ujarnya, Kamis (10/9/2015) Laman Okezone.

Pada 1985, Yuni menikah dengan Pepdi Nuryanto. Namun suaminya itu berhenti bekerja karena sesuatu hal. Yuni pun mulai bekerja serabutan, mencuci pakaian di kawasan Bintaran, Yogyakarta.

Waktu itu, Sakti masih kecil. “Waktu itu hasilnya hanya cukup untuk makan,”ucapnya.

Seiring berjalannya waktu, anaknya beranjak dewasa. Kemudian anak keduanya lahir. Ia tetap bertekad menyekolahkan kedua buah hatinya.

“Saya kerja menyuci (pakaian) satu keluarga, komplit dibayar Rp10 ribu. Total ya, Rp250 ribu per bulan. Saya juga kerja di percetakan, Rp300 ribu per bulan. Total saya mendapatkan Rp600 ribu, harus menyekolahkan kedua anak,” katanya.

Hal itu ia terus lakukan. Pada 2004, Sakti masuk ke Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) jurusan Kimia. Beruntung, saat itu Sakti mendapat beasiswa. Namun Yuni tetap harus mengeluarkan biaya cukup besar.

Saat awal kuliah, dirinya harus membayar Rp4 juta untuk biaya kuliah Saksi. Yulianti pun memberanikan diri bertemu Bupati Bantul, kala itu Idham Samawi, untuk meminta bantuan. Hasilnya, ia mendapat biaya separuh untuk membayar Rp4 juta tersebut.

Itu ternyata tak cukup, sebab masih ada biaya lain selama Sakti kuliah. “Dengan penghasilan pas-pasan, harus menyekolahkan anak kuliah. Saya harus dakon atau utang sana tutup sini,” ujarnya.

Meski ekonomi seret, Sakti tetap ingin melanjutkan kuliah S2 di UGM. Untungnya ia dapat beasiswa lagi. Setelah lulus S2, ia melanjutkan ke jenjang S3 di Universitas Hokkaido jurusan Kimia.

“Untungnya dapat beasiswa sampai lulus. Jadi saya cuma kasih uang jajan. Biar cuma Rp5.000 sehari,” tambahnya.

Selain itu, anak keduanya juga menempuh kuliah di Akademi Keperawatan Bethesda Yogyakarta. Itu juga ternyata memerlukan biaya yang cukup besar.

Yuniati pun mengaku masih memiliki banyak hutang karena menyekolahkan anaknya. Namun itu tidak dijadikannya beban. Baginya, yang terpenting anak-anak punya masa depan yang cerah. “Kalau dipikir saya malah stres. Jadi saya jalani saja,” ucapnya.

Saat ini Yuni bersyukur anak-anaknya sudah bisa mandiri. Sakti sudah selesai S3, namun masih di Jepang. Oktavia sudah menjadi perawat, bahkan sudah menikah.

“Kalau prinsip saya, anak-anak mau membantu saya (sekarang) alhamdulilah. Kalau tidak, itu memang sudah tugas saya,” ucapnya.

MasyaAllah, sungguhlah Allah sangat berbaik hati kepada mereka yang ingin berusaha dan mengusahakan yang terbaik untuk orang yang mereka sayangi. Untuk itu, sudahkah engkau memeluk dan mencium kedua orang tuamu hari ini? Terlebih lagi ibumu. Peluk erat mereka dan cium kening mereka dengan perasaan tulus, dan menangislah untuk rasa terima kasih kepada mereka, serta katakan bahwa dirimu menyayangi mereka semua.

Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/05/aku-ibumu-si-buruh-cuci-yang-tak-ingin.html

Sabtu, 06 Mei 2017

Ramadhan Momentum Galakkan Jihad Damai, Bukan Kekerasan

Bulan Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk menggalakkan jihad damai. Berjihad di jalan kemanusiaan menjadi pilihan terbaik umat Muslim, terutama Muslim Indonesia yang hidup bersama dengan umat beragama lain. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia, KH Achmad Satori Ismail.

"Jihad damai itu bentuknya banyak. Jihad di bidang pendidikan, di bidang ekonomi, di bidang politik dan lain-lain. Jihad untuk perbaikan masyarakat dengan dakwah itu adalah jihad damai," kata Achmad Satori di Jakarta, Selasa (07/6/2016).

"Jihad itu jangan dikonotasikan dengan perang dan kekerasan. Jihad harus dilakukan sesuai konteksnya. Al Quran menyebut bahwa jihad sebaiknya dilakukan dengan harta dulu, misalnya mengentaskan kemiskinan. Itu salah satu bentuk jihad. Menolong orang-orang yang tertindas itu juga jihad," ucapnya.

Karena itu, dia sangat menghargai ustad-ustad yang berada di pelosok Indonesia yang berusaha membangun umat menuju kondisi yang lebih baik karena itu juga bentuk jihad.

Sementara itu, Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada MA mengingatkan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang, damai, dan penuh toleransi. Menurutnya, jihad damai adalah ide-ide untuk membentuk masyarakat yang harmoni.

"Masyarakat yang rukun satu sama lain adalah bentuk jihad damai. Jihad damai adalah bagaimana masyarakat yang cinta damai dan mewujudkan harmoni," katanya.

Umat muslim di Indonesia, menurut Dede, harus menjaga dengan baik konsep unity in diversity yang pernah diperjuangkan oleh tokoh-tokoh Muslim di awal kemerdekaan karena Islam di Indonesia berada di antara penduduk yang beragam.

"Ide unity in diversity, munculnya konsep Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila adalah gagasan besar dari pejuang Indonesia termasuk tokoh-tokoh agama, seperti KH Hasyim Ashari, KH Wahid Hasyim dan lain-lain. Mereka menggotong konsep itu karena yakin kita bisa harmoni di tengah keberagaman," terangnya.

Karena itu, lanjutnya, tidak selayaknya apabila saat ini masih ada yang berpikir bagaimana membentuk negara berdasar satu akidah karena hal itu akan membuat Indonesia terpecah.

Sumber : http://rimanews.com/budaya/agama/read/20160608/285409/Ramadhan-Momentum-Galakkan-Jihad-Damai-Bukan-Kekerasan?utm_source=Facebook&utm_medium=Budaya&utm_campaign=Sosmed

Setan Diikat, Maksiat Jalan

Katanya setan diikat selama Ramadhan, tapi kenapa maksiat jalan terus? Ini dia, setan banyak nganggurnya karena ente, ane, kita yang sesungguhnya jadi setan. Ayatnya ada. Statement setan itu diabadikan di surat Qaf ayat 27,

“Ya Tuhan Kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh”. (Q.S Qaaf: 27)

Kita bilang, “Gara-gara elu nih, setan, gue ada di neraka.”

Setan ga mau disalahin. Apa dia bilang? “Rabbana ya Tuhan kami, maa athghaytuhuu, sebenarnya aku ga menggoda dia. Wa lakin kaana fii dholaalin ba’iid, tapi mereka sendiri yang sesat. Aku nih udah mau godain dia supaya berzina, dia udah berzina duluan. Aku godain supaya dia tuh mabok, mabok duluan. Aku godain dia supaya dia ngambil harta haram, dia ngambil harta haram duluan.”

Kerja setan enteng. Maa athgaytuhuu, wa lakin kaana fii dholaalin ba’iid. Setan belum menyesatkan kita, kitanya sudah sesat duluan.

Lalu, Allah melerai ribut kecil antara kita dan setan. Allah bilang dalam surat Qaf ayat 28,

“Allah berfirman : ‘Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku,….” (Q.S Qaaf: 28)

Allah bilang, “Jangan pada ribut, dua-duanya di neraka.”

Kalau kemudian kita sudah menjelma menjadi setan, ya akhirnya memang maksiat tetap kelihatan di mana-mana. Makanya, yang perlu diikat adalah hawa nafsu kita. Yang perlu diikat, yang perlu dirantai adalah nafsu syahwat kita, keinginan-keinginan jelek kita. Begitu ada, ikat. Jadi ga ke mana-mana. InsyaAllah …

Sumber : http://yusufmansur.com/setan-diikat-maksiat-jalan/

Jadikan Ramadhan sebagai Momentum Ibadah

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat-lipat dibanding amalan lainnya, maka puasa di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya dibanding puasa di bulan lainnya. Ini semua bisa terjadi karena mulianya bulan Ramadhan dan puasa yang dilakukan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah pada hamba-Nya. Allah pun menjadikan puasa di bulan Ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam, tiang penegak Islam.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 271).

Jangan mengira, jangan menyangka Allah menciptakan manusia cuma-cuma, tidak punya misi sama sekali. Pada dasarnya, manusia diciptakan Allah untuk beribadah.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Oleh karena itu, menjadikan ramadhan sebagai momentum memperbanyak ibadah dan nabung pahala tentu menyenangkan karena banyak “keuntungan” yang akan kita dapat. Salat fardhu yang dilakukan di bulan ramadhan pahalanya akan dilipatgandakan, begitu juga dengan baca Quran yang bernilai 1 huruf 10 kebaikan, tidak lupa dengan sunnah-sunnah lain yang tidak kalah penting.

“Inget, semua ibadah sunnah. Perbaiki salat lima waktunya. Berjamaah di masjid khususnya buat yang laik-laki. Minta juga sama Allah biar bisa ngafal Quran, ngerti, bisa dhuha, bisa tahajud, bisa sedekah, bisa ke masjid. Dunia ditambah akhirat,” kata Ustadz Yusuf Mansur.

Dunia dikatakan sebagai tanaman di akhirat, jika bisa banyak beramal di dunia, maka di akhirat insyaAllah akan bahagia, akan selamat. Maka, marilah kita melihat ke diri sendiri, apa yang akan kita lakukan sepanjang bulan ramadhan ini? Apa misi kita ke depan? Untuk akhirat atau untuk dunia, sedangkan akhirat itu lebih baik dan kekal dibanding dunia.

Sumber : http://menatahidup.com/jadikan-ramadhan-sebagai-momentum-ibadah/

Ahlan wa Sahlan, Yaa Ramadhan…

Ada pintu di surga namanya Ar-Rayyan. Pintu ini adalah pintu yang akan dimasuki orang-orang yang berpuasa. Berdoalah supaya kita semua bisa berkumpul bersama keluarga kita di pintu Ar-Rayyan ini, insya Allah.

Berbahagia nih kita yang insya Allah akan disampaikan kepada bulan Ramadhan. Semua amalnya dilipatgandain. Wa’amaluhumudhaa’afun. Semua amal orang akan ditingkatin, dilipatgandain oleh Allah SWT.

Yang paling banyak dilakukan oleh Rasulullah menjelang bulan Ramadhan adalah ibadah di malam hari dan membaca Al Quran. Sedikit tips supaya bisa mengkhatamkan Al Quran selama bulan suci Ramadhan adalah membagi waktu. Misal, datanglah ke masjid sebelum adzan. Jadi, sebelum adzan, kita udah stand by, udah ngaji 2 lembar.

Setelah adzan selesai, shalat, kemudian shalat wajib, disusul dengan ba’diyah. Ngaji 2 halaman lagi. Bisa tuh satu hari satu juz, satu bulan 30 juz, insya Allah.

Ada orang bilang gini, “Lagi bulan Ramadhan aja ente balap-balapan baca Qurannya, balap-balapan shalatnya, balap-balapan sedekahnya.”

Gapapa, jangan dengerin dia. Jalan aja. Justru karena bulan Ramadhan, pol-polan deh tuh amal shaleh. Tapi ingat, habis lebaran jangan off. Lanjut terus ngajinya,shalat shubuh di masjidnya. Jadikan Ramadhan sebagai bulan tarbiyah, bulan edukasi. Insya Allah.

Pembahasan tentang Ramadhan dan serba-serbinya ini lebih detail saya bahas dalam buku terbaru saya, Pulang Kampung. Silakan dibaca. Pesan ke 0816-140-1166, ya. Bisa juga kalau mau sekalian jadi agen buku saya. Hubungi ke nomor yang sama, ya. Makasih.



pulang kampung

Sumber : http://yusufmansur.com/ahlan-wa-sahlan-yaa-ramadhan/

Sadarkah Dirimu Jika Tempat Tak Terduga Ini Sangat Disukai Oleh Bangsa Jin?

Sebelum Adam diciptakan, bumi telah dihuni oleh salah satu kabilah Al-Jinn, yaitu salah satu kabilah malaikat yang paling mulia. Dari Wahab ibn Munabbih: Tuhan semesta alam menciptakan api Samûm. Dari api Sammum ini Dia menciptakan Jinn. Samum adalah angin yang sangat panas membakar, atau api yang tidak ada asapnya. Ketika Tuhan menghendaki sesuatu maka terbakarlah satu hijab, dari api yang membakar hijab inilah kabilah jin diciptakan.

Maka Tuhan mengangkat dan mendidik Jann agar men-jadi salah satu diantara para malaikat dan ia hidup dengan mereka di langit pertama, kemudian Jann disebut dengan nama kemalaikatannya yang baru, yaitu Azazil. Sementara kaum jin yang lain —yang masih tinggal di atas bumi— sebagian hidup dalam kebenaran, sedangkan sebagian yang lain menjadi pendosa dan melanggar hukum.


Ulasan terkait : Banyak yang Menyepelekan, Padahal Api Neraka Bisa Menjauh Karena Shalat Sunnah Ini!

Namun karena kesombongannya itu, dan ketidakpatuhannya untuk bersujud kepada Adam hingga akhirnya Iblis diusir dari surga, hingga pada akhirnya menjadi musuh yang nyata bagi para manusia sampai saat ini. Seperti halnya manusia, jin juga punya tempat tinggal dan bahkan beranak pinak.

Tentu saja, tempat tinggalnya berbeda dengan tempat tinggal manusia. Rumahnya tak terlihat oleh manusia. Bahkan, dalam berbagai literatur, disebutkan bahwa sebelum Nabi Muhammad SAW diutus menjadi rasul, kaum jin pernah menduduki beberapa tempat yang ada di langit. Di sana, mereka mendengar berita dan informasi yang ada di langit.

Namun, ketika Muhammad diangkat menjadi nabi dan rasul, para jin ini tidak lagi tinggal di tempat tersebut. Bahkan, mereka juga tak mampu mencari informasi atau kabar dari langit. Lihat surah Al-Jin [71] ayat 8-9. Sejak tak mampu lagi menembus kabar dari langit dan bertempat tinggal di sana, para jin mencari tempat tinggal yang baru.

Mereka tinggal di atas muka bumi ini. Rasul SAW mengabarkan, banyak tempat yang disukai oleh jin, di antaranya laut, kamar mandi, tempat yang kotor (sampah), dan lainnya. Toilet adalah salah satu tempat di muka bumi yang disukai jin. Karena itu, Nabi SAW menganjurkan setiap orang yang akan memasuki toilet memohon perlindungan Allah SWT dengan membaca,

“Allahumma inni a’udzu bika min al-khubutsi wa al-khaba’its (Ya, Allah, aku memohon perlindunganmu dari gangguan jin pria dan jin wanita).”

Quraish Shihab menjelaskan, pegunungan, lautan, pasar, dan atap rumah juga disebut-sebut dalam berbagai riwayat sebagai tempat yang disukai jin. Ibnu Taimiyah menulis bahwa jin banyak berada di tempat-tempat kumuh, yang di dalamnya terdapat najis, seperti tempat pembuangan sampah dan kuburan.

Sebagaimana manusia dan hewan, para jin ini juga makan dan minum, menikah, beranak, serta mati. Menurut Syekh Abdul Mun’im Ibrahim, para jin ini adalah penghuni dunia yang hidup di tempat-tempat sepi dari manusia dan di padang pasir.

Dan di antara para jin itu, ada yang hidup di pulau-pulau di tengah laut, di tempat sampah, di tempat rusak, dan di antara mereka ada yang hidup bersama manusia. Jin memiliki kemampuan yang tidak ada pada manusia, seperti terbang, naik ke langit, mendengar apa yang tidak bisa didengar oleh manusia, dan mereka juga melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh manusia.



Ulasan terkait : Wanita Harus Tahu Doa Ini, Guna Lindungi Diri dari Kejahatan Setan Berwujud Pria!

Banyak hadis juga menginformasikan bahwa jin berkeliaran pada saat menjelang matahari terbenam dan pada waktu-waktu gelap. Jabir Ibn ‘Abdillah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Pada awal malam atau pada saat kalian memasuki waktu petang, lindungilah anak-anak kalian karena setan berkeliaran saat itu. Apabila awal malam telah berlalu, biarkan mereka dan tutuplah pintu serta sebutlah nama Allah karena setan tidak mampu membuka pintu yang tertutup (jika disebut nama Allah ketika menutupnya).” (HR Bukhari-Muslim).

Karenanya sebagai hamba Allah SWT, kita harus senantiasa meminta perlindungan dari syaitan, jin maupun iblis. Terlebih Jin akan selalu menggoda agar kita melakukan perbuatan yang dilarang Allah SWT.

Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/05/sadarkah-dirimu-jika-tempat-tak-terduga.html

Sabtu, 15 April 2017

Ini Alasan Ilmiah Kenapa Islam Melarang Pria Memakai Emas

Dalam Islam, laki-laki haram pakai emas. Namun sangat disayangkan budaya kita umat Islam telah meniru-niru budaya barat dimana laki-laki mengenakan cincin emas saat prosesi tukar cincin atau sebagai mas kawin pada saat acara pernikahan.


Jika mengacu pada hadits-hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dapat disimpulkan bahwa dalam Islam laki-laki diharamkan pakai emas sedangkan bagi perempuan tidak. Mengapa?

Dikutip dari salam-online.com, Atom pada emas mampu menembus ke dalam kulit melalui pori-pori dan masuk ke dalam darah manusia. Jika seorang pria mengenakan emas dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu yang lama, maka dampak yang ditimbulkan: di dalam darah dan urine akan mengandung atom emas dalam kadar yang melebihi batas (dikenal dengan sebutan migrasi emas).

Jika itu terjadi dalam jangka waktu yang lama, maka akan mengakibatkan penyakit Al zheimer. Sebab, jika tidak dibuang, maka dalam jangka waktu yang lama atom emas dalam darah ini akan sampai ke otak dan memicu penyakit Al zheimer.

Alzheimer adalah suatu penyakit dimana penderitanya kehilangan semua kemampuan mental dan fisik, menyebabkannya kembali seperti anak kecil. Alzheimer bukan penuaan normal, tetapi penuaan paksaan atau terpaksa. Di antara mereka yang terkena penyakit Alzheimer adalah Charles Bronson, Ralph Waldo Emerson dan Sugar Ray Robinson.

Lalu, mengapa Islam memperbolehkan wanita untuk mengenakan emas?


bacatulisan.com

Jawabannya adalah, “Wanita tidak menderita masalah ini karena setiap bulan, partikel berbahaya tersebut keluar dari tubuh wanita melalui menstruasi.”  Itulah sebabnya Islam mengharamkan pria mengenakan perhiasan emas dan membolehkan wanita memakainya.

Penyakit yang disebabkan oleh kandungan emas ini, tidak ditemukan pada perempuan. Penelitian tentang penyakit ini menyebutkan bahwa dalam tubuh seorang perempuan/wanita, terdapat suatu lemak unik, lemak yang berbeda yang tidak dimiliki seorang laki-laki dimana lemak ini akan mencegah unsur senyawa atom emas (Au) untuk masuk ke dalam tubuh, sehingga saat atom ini masuk, hanya mampu menembus kulit, namun tidak bisa menembus lemak yang menghalangi jalan menuju daging dan darah.


Penelitian lain menyebutkan bahwa di dalam tubuh seorang wanita, zat emas bisa masuk ke dalam tubuh dan mengalir bersama darah, namun zat ini tidak akan berbahaya karena akan dibuang bersama darah saat haid/menstruasi. Jadi Nabi membolehkan seorang istri/wanita mengenakan cincin/perhiasan dari emas, namun sangat dilarang bagi suami/laki-laki.

Alasan Islam melarang pria memakai emas, telah disampaikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lebih 1400 tahun yang lalu. Padahal beliau tidak pernah belajar ilmu fisika.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Al-Bara’ bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai cincin emas di tangannya, maka beliau memintanya supaya mencopot cincinnya, kemudian melemparkannya ke tanah. (HR Bukhari & Muslim).

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang cincin emas (bagi laki-laki),” (HR Bukhari No 5863 & Muslim No. 2089).

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah bertemu seorang lelaki yang memakai cincin emas di tangannya. Beliau mencabut cincin tersebut lalu melemparnya, kemudian bersabda,

« يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَجْعَلُهَا فِى يَدِهِ »

(“Seseorang dari kalian telah sengaja mengambil bara api neraka dengan meletakkan (cincin emas semacam itu) di tangannya”).

Lalu, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi, ada yang mengatakan kepada lelaki tadi, “Ambillah dan manfaatkanlah cincin tersebut.” Ia berkata, “Tidak, demi Allah. Saya tak akan mengambil cincin itu lagi selamanya karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membuangnya,” (HR Muslim No. 2090, dari hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas).

Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits ini berkata, “Seandainya si pemilik emas tadi mengambil emas itu lagi, tidaklah haram baginya. Ia boleh memanfaatkannya untuk dijual dan tindakan yang lain.

Akan tetapi, ia bersikap waro’ (hati-hati) untuk mengambilnya, padahal ia bisa saja menyedekahkan emas tadi kepada yang membutuhkan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang seluruh pemanfaatan emas. Yang beliau larang adalah emas tersebut dikenakan. Namun untuk pemanfaatan lainnya, dibolehkan,” (Syarh Shahih Muslim, 14: 56).

Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarh Shahih Muslim (14: 32), “Emas itu haram bagi laki-laki berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama.” Dalam kitab yang sama (14: 65), Imam Nawawi juga berkata, “Para ulama kaum Muslimin sepakat bahwa cincin emas halal bagi wanita. Sebaliknya mereka juga sepakat bahwa cincin emas haram bagi pria.”
Klik SUKA jika content kami bermanfaat

Ukhti, Meski Suami Tidak Shaleh, Kita Tetap BERHAK atas Surga Allah. Jadi Tetaplah Jadi Istri Shalehah

Mungkin ada istri yang menyesal karena telah menikah dengan suami yang imanya kurang kuat. Atau malah berfikir "Buat apa saya menjadi istri shalihah kalau suami saja tidak shalih?!”

Tapi mudah-mudahan tidak ada ya!

Dan jangan sampai ketidakshalihan suami, menular pada kita! Karena sesungguhnya, kita tetap berhak atas surga Allah meskipun melayani suami yang tidak shalih. Asal kita ikhlas menjalaninya, tetap berupaya mengingatkan suami, dan diniatkan dalam rangka mendapat keridhoan Allah tentunya.

Pernahkah Ukti mendengar tentang kisah istri raja Fir'aun?

Baca Juga: Suami Mengatakan ‘Pisah’, Apakah Berarti itu Sudah Thalak dan Mereka Bukan Suami Istri Lagi?

Sebelumnya mari kita sibak dari hadist Rasulullah yang mengatakan sesungguhnya, di antara 4 wanita terbaik sepanjang zaman, salah satunya adalah seorang wanita shalihah yang suaminya tidak shalih dan bahkan kafir:

Rasulullah SAW bersabda : “Ada empat wanita mulia yang juga penghulu segala wanita di dunia; mereka itu ialah Asiah binti Muzahim isteri Firaun; Maryam binti Imran, ibunda Isa; Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad.” (Riwayat Bukhari).

Jelas bahwa memiliki suami yang tidak shalih, tidak dapat dijadikan alasan untuk kita enggan belajar menjadi istri shalihah.

Dalam Firman Allah pada Surah At-Tahriim ayat 11:

”Dan Allah membuat perumpamaan dengan isteri Fir’aun bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisimu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”

Dan ada kisah lainya yang akan mampu menyadarkan kita bahwa menjadi seorang istri shalihah, tidak memerlukan suami dengan kriteria a, b, c, d. Karena menjadi shalihah sebenarnya bisa dilakukan siapa pun asalkan mau bermujahadah.

Ketika menelusuri sebuah jalan di kota Bashrah, Al Atabi melihat seorang wanita yang sangat cantik sedang bersendau gurau dengan seorang lelaki tua buruk rupa. Setiap kali wanita itu berbisik, laki-laki tersebut pun tertawa.

Al Atabi yang penasaran kemudian memberanikan diri bertanya kepada wanita itu. “Siapa laki-laki tersebut?”

“Dia suamiku” jawab wanita itu.

“Kamu ini cantik dan menawan, bagaimana kamu dapat bersabar dengan suami yang jelek seperti itu? Sungguh, ini adalah sesuatu yang mengherankan” Al Atabi meneruskan pertanyannya.

“Barangkali karena mendapatkan wanita sepertiku, maka ia bersyukur. Dan aku mendapatkan suami seperti dirinya, maka aku bersabar. Bukankah orang yang sabar dan syukur adalah termasuk penghuni surga? Tidak pantaskah aku bersyukur kepada Allah atas karunia ini?”

Al Atabi kemudian meninggalkan wanita itu disertai kekaguman. Ulama Al Azhar, Dr Mustafa Murad, juga kagum dengan wanita itu sehingga memasukkan kisah ini dalam bukunya Qashashush Shaalihiin. Kedua ulama tersebut tidaklah kagum kepada wanita itu karena kecantikannya. Mereka kagum karena agamanya.

Maka tips berikut ini yang dikutip dari ummi-online.com, mudah-mudahan bermanfaat agar kita dapat menjadi istri shalihah:

1. Meyakini Bahwa Suami yang Tidak Shalih Adalah Ujian yang Justru Dapat Mendekatkan Diri Kita Pada Allah
Siapa yang tidak ingin mendapat suami shalih? Akan tetapi, berapa banyak jumlah laki-laki shalih di dunia ini?

Jika kebetulan suami kita bukanlah seorang yang shalih, jangan berkecil hati! Pandanglah hal tersebut menjadi ujian layaknya Asiah, istri Firaun, yang kemudian dibangunkan sebuah rumah di surga oleh Allah.

Baca Juga: Ini Dosa dan Bahayanya Jika Istri Berhutang Tanpa Sepengetahuan Suamimu

2. Tetap Menjalankan Ibadah Wajib, Perkuat Dengan Ibadah Sunah
Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang wanita (istri) itu telah melakukan shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, menjaga harga dirinya dan mentaati perintah suaminya, maka ia diundang di akhirat supaya masuk surga berdasarkan pintunya mana yang ia suka (sesuai pilihannya),” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani).

3. Patuhi Suami, Kecuali Untuk Hal-hal yang Allah Larang
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada perkara yang lebih bagus bagi seorang mukmin setelah bertakwa kepada Allah daripada istri yang shalihah, bila ia menyuruhnya maka ia menaatinya, bila memandangnya membuat hati senang, bila bersumpah (agar istrinya melakukan sesuatu), maka ia melakukannya dengan baik, bila ia pergi maka ia dengan tulus menjaga diri & hartanya.” (HR. Ibnu Majah)

4. Hilangkan Rasa Iri Pada Rumah Tangga Lainnya
”Jauhilah olehmu sifat dengki/iri hati, karena sesungguhnya dengki itu bisa menghabiskan amal-amal kebaikan, sbagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud)

Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/04/ukhti-meski-suami-tidak-shaleh-kita.html

Rabu, 12 April 2017

Benarkah Wanita Shalat Dzuhur di Hari Jumat Usai Pria Jumatan?

Benarkah Wanita Shalat Dzuhur di Hari Jumat Usai Pria Jumatan?
Benarkah Wanita Shalat Dzuhur Usai Pria Jumatan
Sahabat Ummi, sebagian wanita meyakini harus menunggu kaum pria ke luar masjid yakni selesai shalat Jumat terlebih dahulu, barulah mereka boleh melaksanakan shalat dzuhur di rumah. Benarkah pendapat ini? Apakah Sahabat Ummi termasuk yang mempraktikkan hal ini?

Mari kita simak pembahasannya bersama:

“Sesungguhnya shalat adalah kewajiban bagi kaum mukminin yang telah ditetapkan waktunya.” (QS. An-Nisa: 103).

Dalam hal ini, waktu shalat dzuhur dimulai sejak matahari tergelincir, sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah dalam haditsnya, “Waktu zuhur, sejak matahari tergelincir sampai bayangan orang sama dengan tingginya, sebelum masuk waktu ashar.” (HR. Muslim no. 612).

Oleh sebab itu, sekalipun di hari Jum'at, para wanita bisa tetap melaksanakan shalat Dzuhur begitu sudah masuk waktunya, dan tak perlu menunggu para pria selesai shalat Jum'at.

Hal ini senada dengan jawaban dari Lajnah Daimah Saudi Arabia ketika mendapat pertanyaan, “Apa hukum menunaikan shalat jumat bagi wanita? Apakah ia melaksanakannya sebelum atau sesudah shalat para pria atau ia shalat bersama mereka (kaum pria)?”

Maka jawabannya adalah sebagai berikut:

“Wanita tidak wajib melaksanakan shalat Jum’at. Namun jika wanita melaksanakan shalat Jumat bersama imam shalat Jumat, shalatnya tetap dinilai sah. Jika ia shalat di rumahnya, maka ia kerjakan shalat Zhuhur empat rakaat. Ia boleh mulai mengerjakan shalat Zhuhur tadi setelah masuk waktu Zhuhur, yaitu setelah matahari tergelincir ke barat (waktu zawal). Dan sekali lagi dia tidak boleh laksanakan shalat jumat (di rumah) sebagaimana maksud keterangan sebelumnya.
Wa billahit taufiq. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.”

Fatwa di atas ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan selaku anggota dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud selaku anggota.

[Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, 8/212, no. 4147, pertanyaan kedua]

Semoga semakin memperjelas dan menghilangkan keraguan terhadap permasalahan ini.

Sumber : http://www.ummi-online.com/benarkah-wanita-shalat-dzuhur-di-hari-jumat-usai-pria-jumatan.html

Ternyata Inilah Amalan yang Paling Berat Pahalanya

Ternyata Inilah Amalan yang Paling Berat Pahalanya
Ternyata Inilah Amalan yang Paling Berat Pahalanya
Sahabat Ummi, kita bisa saja mengira perkara yang paling berat pahalanya di yaumil mizan nanti adalah shalat, puasa, sedekah, atau amal ibadah lainnya, namun ternyata bukan itu, dalam sebuah hadits dijelaskan hal inilah yang menjadi perkara paling berat pahalanya kelak:

"Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada Hari Kiamat nanti selain akhlak mulia. Sesungguhnya Allah membenci orang yang berbuat keji dan berkata-kata keji." (HR at-Tirmidzi)

Oleh sebab itu, selain memperbanyak ibadah... kita juga dituntut untuk membekaskan ibadah kita tersebut dalam perbuatan (akhlak) terpuji. Jangan sampai banyak hafalan qur'an tapi lisan tajam, banyak sedekah tapi hobi menyakiti hewan, sering shalat malam tapi tidak memberi gaji bawahan dengan layak.

"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat kedudukannya dengan majelisku pada Hari Kiamat nanti adalah orang yang paling baik akhlaknya. Sebaliknya, orang yang aku benci dan paling jauh dari diriku adalah orang yang terlalu banyak bicara (yang tidak bermanfaat) dan sombong." (HR at-Tirmidzi).

Bahkan dalam hadits lain diterangkan bahwa ada 2 orang wanita, yang satu banyak ibadahnya namun berakhlak buruk, dan yang satu lagi sedikit amalan ibadahnya tapi berakhlak baik, ternyata Rasulullah menyatakan yang berakhlak buruk sekalipun banyak ibadah tempatnya di neraka, tentunya hal ini disebabkan ibadah yang dilakukan itu tidak membekas dalam perbuatannya. Sedangkan yang amalnya biasa saja namun berakhlak baik, tempatnya di surga. Maasya Allah, betapa akhlak menjadi penentu agama seseorang.

“Dari Abu Hurairah, “Dikatakan kepada Rasulullah, sesungguhnya si fulanah sholat malam dan berpuasa sunnah (Dalam riwayat Ahmad, “Sesungguhnya si fulanah disebutkan tentang banyaknya shalatnya, puasanya, dan sedekahnya”) namun ia mengucapkan sesuatu yang mengganggu para tetangganya, lisannya panjang? (suka menyakiti tetangganya)" Rasulullah berkata, “Tidak ada kebaikan padanya, dia di neraka”. Dikatakan kepada beliau, “Sesungguhnya si fulanah sholat yang wajib dan berpuasa pada bulan Ramadhan serta bersedekah dengan beberapa potong susu kering, dan ia tidak memiliki kebaikan selain ini, namun ia tidak mengganggu seorangpun?” Rasulullah berkata, “Ia di surga” [HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak (IV/183 no.7304), Ibnu Hibban (al-Ihsan XIII/77 no.5764), berkata al-Haitsami, “Dan para perawinya tsiqah (terpercaya)” (Majma’ az-Zawaid VIII/169) dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam shahih at-Targhib wat Tarhiib no.2560]

Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Jadilah seorang muslim yang memiliki akhlak mulia.
Foto ilustrasi : Google

Sumber : http://www.ummi-online.com/ternyata-inilah-amalan-yang-paling-berat-pahalanya.html

Rabu, 29 Maret 2017

Ini Sebabnya Jangan Terlalu Sering Mencuci Wajah

Sahabat Ummi, mencuci wajah dengan pembersih muka dua atau tiga kali sehari masih bisa terbilang wajar, tapi kalau lebih dari itu pasti ada efek buruknya lho, sebenarnya berwudhu secara sempurna dengan air bersih saja sudah cukup untuk membersihkan wajah kita.



Ini alasannya mengapa jangan terlalu keseringan mencuci wajah:



1. Iritasi



Terlalu banyak mencuci wajah dengan pembersih muka bisa memberi efek iritasi, bukannya mendapat kulit sehat malahan merusak kulit, hmm... Buat Sahabat Ummi yang kulitnya berminyak, cuci wajah di pagi, siang dan malam hari sebelum tidur sudah cukup kok, maksimal 3 kali saja ya.



2. Membuat kulit terlihat kering dan kusam



Mencuci wajah dengan air wudhu sudah cukup bersih kok, kalau kita selalu menggunakan facial wash setiap mencuci muka justru bisa mengupas minyak alami dari kulit yang menyebabkan kulit tampak kering serta kusam.



3. Untuk kulit yang berminyak bisa pergunakan toner di bagian minyak berlebih, bukannya pakai facial wash setiap waktu. Setelah pakai toner bisa bilas wajah dengan air dingin.



4. Bagi yang berkulit sensitif dan serba nggak cocok pakai pembersih wajah, bisa menggunakan air mawar bersama sabun bayi yang memiliki kandungan susu untuk mencuci wajah.



5. Setiap mencuci wajah, lakukan kurang dari 2 menit, jangan kelamaan, dan lap kering wajah begitu selesai.



Semoga info singkat ini bermanfaat





Foto ilustrasi : google


Sumber : umi-online.com

17 Adab Berhias Muslimah

Wanita adalah tiang negara. Bila rusak akhlak atau adab wanita, maka rusaklah suatu negara. Di era modern ini, problematika kesetaraan gender, berhias, busana, trend, menjadi pembahasan utama di berbagai kalangan. Trend busana dan rias yang menonjolkan aurat, busana mini, bikini, jilbab ketat yang menonjolkan payudara dan lekuk tubuh begitu menjamur dan merebak di mana-mana. Ironisnya, banyak muslimah yang masih belum tahu bagaimana seharusnya adab berhias sesuai syariah agama. Padahal jelas dikatakan di dalam QS. Al Ahzab 35 bahwa diantara mereka yang mendapatkan ampunan dan pahala yang besar di sisi Allah SWT adalah laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya.

Berikut ini adab berhias muslimah menurut kitab Al-Jami’ fii Fiqhi An-Nisa’ karya Syaikh Kamil Muhammad Muhammad ‘Uwaidah. Selamat memahami dan mengaplikasikan di dalam kehidupan.

1.Rasulullah SAW melarang wanita mencukur rambutnya [HR Tirmidzi dan An-Nasa’i].

2.Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan yang meminta disambungkan rambutnya [HR Muttafaqun ‘alaih]

3.Memulai segala sesuatu yang baik dengan sebelah atau tangan kanan [HR. An-Nasa’i].

4.Allah melaknat wanita yang mentato kulitnya, wanita yang meminta ditato, yang mencukur alisnya, meminta direnggangkan giginya untuk mempercantik diri, mereka yang mengubah [memodifikasi] ciptaan Allah [HR. Nasa’I dan Muttafaqun alaih].

5.Muslimah diperbolehkan memakai pakaian sutera [HR. Bukhari].

6.Larangan menjulurkan, memanjangkan, menyeret pakaian karena sombong. Hendaklah kaum wanita menurunkan satu hasta dan tidak boleh melebihinya di dalam membuat ujung pakaiannya [HR. An-Nasa’i].

7. Makruh bagi wanita memperlihatkan perhiasan [emas] yang dipakainya. [Hadits dari Tsauban]

8. Parfum wanita adalah yang tampak warnanya dan tidak tercium aromanya. [HR. Tirmidzi, An-Nasa’I, Abu Dawud, dan Ahmad]

9. Diperbolehkan memakai kutek, salah satunya dengan daun pacar. [HR. Abu Dawud dan An Nasa’i]

10. Berpakaian namun seperti telanjang. Maksudnya, mengenakan pakaian yang tipis atau transparan yang memperlihatkan aurat atau lekuk tubuhnya. [HR. Muslim, HR. Ibnu Hibban]

11. Mengenakan hijab atau jilbab. [QS. Al- Ahzab 59] Syaratnya harus menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan. [HR. Abu Dawud]

12. Mengenakan pakaian atau berbusana yang menutupi aurat. [QS. Al-A’raf 26]

13. Larangan bertabarruj. Maksudnya berhias dengan memperlihatkan kecantikan wajah, menampakkan keindahan lekuk tubuh, berjalan dengan genit, menggoda dengan maksud memikat hati atau dikagumi oleh pria yang melihatnya. [QS. An-Nuur 60 dan Al-Ahzab 33]

14. Larangan bagi kaum wanita untuk memakai perhiasan dan wangi-wangian di masjid. [HR. Ibnu Majah]

15. Larangan untuk memakai azimat atau benda-benda yang dikeramatkan, seperti cincin, batu akik, gelang, giwang yang dianggap bertuah atau dipercaya memiliki kekuatan magis atau gaib. [QS. Al Jin 6]

16. Larangan untuk mendatangi dan mempercayai peramal atau dukun. [HR. Muslim]

17. Larangan berhias bagi wanita untuk selain suaminya. [HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa’i].

Demikian sekilas telah sedikit diuraikan 17 adab berhias bagi muslimah. Semoga bermanfaat. [dr. Dito Anurogo]

Dito Anurogo, alumnus terbaik Madrasah Takhashushiyah Pondok Pesantren Modern Islam As-Salaam [PPMIA] Sukoharjo tahun 1999, dokter digital/online di detik.com, peraih ‘’Gadjah Mada Awards’’ 2015 kategori mahasiswa terinspiratif dan penulis terbaik, sertifikasi CME dari Harvard dan Oxford University, penulis lebih dari 333 artikel dan 18 buku [salah satunya The Art of Medicine, Gramedia, 2016, dipromosikan di Amazon.com], pembina Network–Preneur  Initiative Center, CEO/Founder Sahabat Literasi Indonesia [Indonesia Literacy Fellowship], studi S-2 Ilmu Kedokteran Dasar [IKD] Biomedis Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada [FK UGM] Yogyakarta, email ditoanurogo[at]gmail[dot]com.

             

Foto ilustrasi : google


Sumber : umi-online.com

Senin, 20 Maret 2017

Gaya Khas Make Up Korea yang Bisa Ditiru untuk Menyenangkan Suami

Gaya Khas Make Up Korea yang Bisa Ditiru untuk Menyenangkan Suami
Gaya Khas Make Up Korea yang Bisa Ditiru untuk Menyenangkan Suami
Sahabat Ummi, sering lihat riasan artis Korea? Biasanya para seleb Korea memiliki tampilan yang kinclong, tampak lebih muda dari umur aslinya, dan yang pasti gak menor. Mau tahu tips untuk berdandan gaya khas Korea supaya wajah lebih seger di mata suami?

1. Bentuk alis mata lurus dengan warna cokelat terang

Wanita Korea biasanya gak macem-macem bentuk alis matanya, hanya lurus saja, dan mereka memilih warna muda untuk pensil alisnya supaya tidak terlihat tua.

2. Pergunakan warna peach atau pink untuk membuat pipi tampak merona

Pipi orang Korea biasanya terlihat merona alami, memang tertolong karena kulit mereka putih cerah ya Sob, tapi kita bisa juga kok pakai teknik membuat pipi merona. Gak usah beli blush on, coba deh manfaatin lipstik yang ada, ratakan di pipi bagian atas, kalau ternyata ketebelan, tidak usah khawatir... bisa direduksi dengan memulaskan bedak tabur.

3. Glowing

Muka orang Korea banyak yang terlihat bersinar, kuncinya ada pada teknik memulas tulang hidung, bawah mata, atas bibir,dan tulang pipi dengan shimmer. Tapi buat Sahabat Ummi yang gak punya banyak alat make up, bisa pakai eyeshadow warna putih/nude yang berkilau, aplikasikan pakai satu jari saja di tempat-tempat yang sudah disebutkan di atas.

4. Aegyo sal

Wanita Korea suka sekali dengan kantung di bawah mata, tapi bukan kantung mata yang memperlihatkan kecapekan, melainkan yang bisa membuat efek 'mata tampak tersenyum' alias aegyo sal. Caranya tinggal memulas shimmer/ eyeshadow berkilau di bagian bawah mata, tepat setelah garis bawah mata kita.

5. Gradien bibir

Warna bibirnya gak cuma sewarna saja, tapi bergradasi dari warna tebal ke warna tipis. Agak mirip orang lagi panas dalam kali yaa, tapi lucunya... kelihatan menarik dan lebih segar. Hmm... itu salah satu ciri khas gaya make up Korea.

Cara menirunya mudah, tinggal aplikasikan lipstik cukup tebal di bagian dalam bibir, kemudian diratakan menggunakan satu jari, dan biarkan bagian bibir terluar tetap tampak pucat. Memang teknik gradien ini kurang cocok kalau bibir kita warnanya terlalu gelap. Bisa dibantu dengan menggunakan concealer atau bedak di tepi bibir.

Semoga bermanfaat.


Foto ilustrasi: google

Sumber : umi-online.com

Jangan Sampai Rezeki Terhenti Hanya karena Anda Tak Melakukan Hal Ringan ini


Biasanya mengalir, kenapa berhenti? via pixabay.com

Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pemberi Rezeki, dan Maha Adil kepada seluruh mahlukNya. Semua sepakat akan hal itu. Allah akan mengatur rezeki tiap orang. Tetapi untungnya kita masih bisa merubah nasib itu, bila mau berusaha kita akan mendapatkan yang kita inginkan.

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Q.S. Ar-Ra’d: 11.

Memaknai hal ini secara sederhana, bila kita ambil 2 sisi. Kita akan mendapatkan lebih jika berubah lebih rajin dan menaati perintah Allah serta menjauhi laranganNya. Begitu juga bila suatu umat malah berbuat kerusakan melakukan hal-hal yang dilarangNya maka otomatis rezeki pun jadi seret.

Namun, seringkali orang merasa Allah tidak adil, sebab tidak menurunkan rezekinya. Padahal, hal itu terjadi karena kesalahannya sendiri. Lantas, apa yang membuat rezeki terhenti?

Dalam Infoyunik.com dijelaskan bahwa ternyata yang dapat membuat rezeki berhenti mengalir adalah ketika seorang anak tidak pernah mendoakan kedua orang tuanya. Kok bisa?

Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim Rahimahullahu Ta’ala dalam kitab At-Tarikh dan Imam ad-Dailami dalam kitab Musnadul Firdaus yang berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika seorang anak tidak pernah mendoakan kedua orang tuanya, niscaya rezekinya akan berhenti.”

Di sini tertulis jelas, jika Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghentikan aliran rezeki kepada anak yang tidak mendoakan kedua orangtuanya. Bakti anak kepada ayah dan ibu tidak hanya dengan memberikan kebahagiaan berupa materi. Namun juga harapan yang senantiasa kita panjatkan dalam sebuah doa. Allah telah memerintahkan agar anak manusia berbakti kepada orangtuanya. Hal ini dijelaskan dalam banyak ayat.

Baca Juga: Istri Cantik Itu Biasa, Tapi yang Menghargai Suami Dan Mendukung Tanpa Putus Asa itu Langka

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orangtua. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya.

Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah mereka keduanya, sebagaimana keduanya telah menyayangi aku waktu kecil’,” (QS. Al-Israa’: 23-24).

Juga tertulis dalam firman-Nya di surat lain, “Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan dirinya,.” (QS. An-Nisaa’: 36).

Dari kedua ayat tersebut terlihat jelas bahwa bakti kepada orangtua menduduki posisi nomor dua setelah manusia diperintahkan berbakti kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Begitu besar jasa mereka sehingga Allah begitu marah ketika anak-anak dari orangtua tersebut tidak berbakti meski hanya dengan mendoakannya.

Tidak butuh waktu lama untuk mendoakan mereka. Kita anak-anaknya merupakan investasi akhirat bagi mereka. Orang tua layaknya kita, mereka juga menginginkan hal yang sama seperti harapan kita terhadap anak-anak kita nantinya. Wallahu a’lam. []

Sumber : umi-online.com