Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Mei 2017

"Mengemis" Untuk di "Like" Ternyata Ini Modus Dari Postingan Yg Sering Minta Di Like

Kamu pasti sudah sering melihat postingan di Facebook yang memperlihatkan foto-foto orang-orang yang tengah terluka, atau foto orang-orang yang meninggal dalam kondisi mengenaskan, orang yang memiliki kekurangan fisik, dan sebagainya. Di akhir postingan tersebut biasanya sang pemilik Facebook “mengemis” untuk di “like” atau dikomentari dengan kata “amin”.
Bahkan ada yang sedikit bernada ancaman dengan mengatakan,”Yang bilang amin akan masuk surga, yang tidak peduli dengan tidak memberikan like akan mendapatkan musibah.” Alhasil, foto tersebut pun mendapatkan ribuan “like” dan juga “amin”. Apakah kamu termasuk orang yang memberikan “like” tanpa memikirkan apa keuntungannya buat si yang punya Facebook?



Sebelum memberikan “like” atau komentar dalam postingan serupa lagi, maka sebaiknya kamu mendengar cerita dari seorang netizen bernama Didik Nugroho berikut ini. Dalam cerita yang kini tengah viral di Facebook dijelaskan bahwa Didik telah berhasil menjebak admin Facebook yang doyan men-share postingan-postingan minta di like.

“Si Didik ini berpura-pura hendak membeli akun Facebook tersebut seharga Rp15 juta. Ia kemudian menscreenshot percakapan mereka, dan membagikannya ke medsos agar netizen lebih waspada dan nggak sembarang ngasih jempol lagi,” tulis sebuah postingan yang kini tengah viral di Facebook seperti yang dikutip dari planet.merdeka.com.



Dijelaskan Didik bahwa komentar yang ada di dalam Facebook tersebut memang tidaklah penting karena yang lebih penting dari itu semua adalah jumlah “like” yang ada dalam satu foto karena jumlah tersebutlah yang akan menentukan berapa banyak uang yang akan didapat oleh si pemilik Facebook. Biasanya setiap 100.000 “like” yang di dapat oleh satu postingan akan dihargai sekitar Rp2 juta.

Jadi bisa kamu bayangkan berapa harga satu akun Facebook jika setiap postingannya memiliki lebih dari 100.000 “like”. Nantinya akun Facebok tersebut bisa dijual, nah, postingan yang sudah mendapatkan banyak “like” itu biasanya akan diganti dengan foto-foto barang dagangan alias produk iklan, sehingga seolah-olah produk tersebut terlihat disukai oleh banyak orang. Mulai sekarang sebaiknya jangan sembarangan kasih “like”.

Renungan Untuk Istri, Untuk Suami Pekerja Keras, Terima Kasih Selalu Kuat Bertahan

NASIHAT UNTUK PARA ISTRI

Saat kau sudah menjadi istri, sesekali pandanglah wajah suamimu ketika ia terlelap.
Itulah orang yang tiada hubungan darah dengan mu namun tetap terus berusaha mencintaimu.

Sesekali saat suami pulang bekerja atau dari tempat usahanya, pandang wajahnya, cium tangannya.

Itulah tangan yang bekerja keras mencari rizki untuk menafkahi dirimu dan anak-
anakmu.

Padahal, sebelum akad nikah ia tak punya hutang budi terhadapmu.

Bahkan ia mempunyai hutang budi terhadap Ibu bapaknya.

Ia memilihmu sebelum ia sempat membalas seluruh hutang budi kedua orang tuanya.

Sesekali saat kau berdua dengannya, lihatlah suamimu, pandanglah wajahnya dengan penuh sayang.

Untuk Suami Pekerja Keras, Terima Kasih Selalu Kuat Bertahan

Suara pintu digedor membuatku tersadar dari tidur ayam siang-siang di sofa. Bunyi dentuman itu masih berulang terus, barulah aku sadar bukan rumah ini yang digedor. Aku memberanikan diri ke luar untuk melihat rumah siapa yang sedang digedor hingga seperti itu.

Sebelah rumah, tempat sepasang suami-istri kaya tinggal bersama anak-anaknya, dipenuhi oleh orang-orang kekar berbaju hitam. Mereka yang kekar itu berteriak dengan garang, mengancam si empunya rumah membuka pintu atau mereka akan mendobrak dan merusak apa yang ada.

Dua menit, tiga menit, tak ada jawaban. Aku berpandangan dengan tetangga seberang rumah yang juga menyembul kepalanya dari balik pintu rumahnya akibat berisik-berisik ini. Suasana mendadak tegang, terlebih ketika pemilik rumah tidak kunjung keluar dan orang-orang kekar itu mulai berteriak lagi.

Pintu rumah sebelah akhirnya benaran didobrak. Di dalam ternyata ada orang, terdengar jerit-jerit kaget, memelas dan mengucap beragam alasan untuk membayar hutang.

Orang kekar menyebut jumlah hutang dengan lantang. 700 juta rupiah. Aku membelalak bersamaan dengan tetangga seberang, tak menyangka keluarga kaya itu memiliki hutang sedemikian fantastis.

“Neng?”

Suamiku menyapa dari luar, mungkin keheranan aku tak menunggunya di depan pintu seperti biasa.

Aku di kamar, menyeka pipi yang basah. Baru mau ke ruang tamu, suamiku sudah duluan sampai di depan kamar.

Aku menggigit bibir bertatapan dengannya. Mataku panas, hidungku mungkin sudah memerah. Dengan lirih aku bersuara, “Bang, makasih udah ikhlas berjuang nyari nafkah selama ini.”

Tadi siang sungguh mengerikan. 700 juta rupiah bisa membuat orang kalap, rupanya. Sementara di luar mulai ramai tetangga lain berkumpul, di dalam rumah sebelah tak kalah ramai benda-benda dihancurkan, segala vas, gelas dan piring kristal yang sinarmya selalu menyilaukan tiap lewat rumahnya itu, sudah tak lagi bisa membela dan membanggakan pemiliknya. Pecah dibanting ke lantai, berkeping-keping.

4 orang anak yang semuanya perempuan, menangis jejeritan. Mungkin dijambak rambutnya, dirontokkan perhiasan emas dan mutiara dari badan montok mereka.

“Gue jadiin ini sebagai jaminan! Kalo Ibu lu nggak bayar-bayar, gue sita nih rumah!” seorang kekar berteriak mengancam.

Tak ada yang menolong 4 anak perempuan itu hingga kericuhan reda, menyisakan tangisan dan ratapan yang melengking memilukan. Tak ada Pak RT atau polisi sempat datang.

Keluarga itu, apalagi Ibu mereka, terlalu angkuh untuk dibantu, terlalu banyak menyakitkan para tetangganya yang dianggapnya miskin-miskin dan menjijikkan, jadi tak ada yang sudi memanggil polisi.

Lalu, Pak RT? Hingga kemarin, Ayah dari keluarga itulah yang menjadi RT di sini. Dia baik, tampangnya memelas dan menderita. Hanya saja dia memelihara seorang lintah perempuan menjadi istrinya, jadi dia tak mendapat kasihan dari warganya sendiri, karena mengurus KTP saja harus rumit kalau tak punya uang, karena perempuan lintah itu. Warga menyesal sudah memilih keluarga itu mengurus lingkungan. Kemarin malam setelah bertengkar dengan istrinya, Pak RT yang selalu hidup di bawah perintah istrinya itu pergi, kabur entah kemana.

Aku memeluk erat anak perempuanku di tempat tidurnya, selesai membacakan dongeng. Kulapalkan doa untuknya agar tak pernah banyak tingkah nanti dewasa, tapi bersedia sederhana dan berbakti pada aku dan suamiku. Aku mematikan lampu kamar dan menutup pintu, menuju kamarku di sebelah.

Suamiku sudah terbaring lelah di ranjang kamar kami. Aku menatap kulit kusam itu, membayangkan ia berlelah-lelah di bawah matahari sebagai tukang kue semprong.

Aku menyeka butiran air di ujung mata sebelum membesar, dan pecah mengalir ke pipi. Aku bersyukur. Meski sederhana dan kadang makan kadang tidak, setidaknya suamiku terus bekerja keras hingga kami tak perlu hutang sana-sini.

Aku malu, pernah kadang iri pada tetangga sebelah. Iri pada anak-anak gadisnya yang subur-subur dan cantik oleh perawatan, dihiasi emas sekujur tubuh. Aku iri, karena anak perempuanku bisa sekolah saja sudah untung.

Sekarang aku tak ingin begitu. Kaya tapi hasil hutang, hanya karena gengsi. Sekarang aku merasa cukup memiliki suami yang ikhlas bekerja keras, bertahan mencari nafkah halal untuk aku dan anak perempuannya yang sangat ia cintai, ia perjuangkan mati-matian.

Kuli dan Pekerja Keras, Bolehkah Tidak Berpuasa Karena Alasan Tidak Kuat? Ini Penjelasannya

Berpuasa tidak dimaksudkan untuk menghalangi aktivitas harian, terlebih lagi aktivitas mencari nafkah dalam memenuhi kebutuhan hidup. Pasalnya, kegiatan dalam rangka memenuhi kebutuhan dapur tidak kalah wajibnya dengan puasa Ramadhan.

Namun ketika bulan Ramadhan tiba, kondisi orang dalam keadaan beragam. Ada di antara mereka yang sehat dan segar bugar, juga muda. Ada lagi yang sudah renta, ada yang terbaring sakit, ada lagi yang dalam perjalanan, juga mereka yang pekerjaannya membutuhkan tenaga ekstra.


Perihal orang yang kesehariannya bekerja agak berat, Syekh Said Muhammad Ba’asyin dalam Busyrol Karim mengatakan,

ويلزم أهل العمل المشق  في رمضان كالحصادين ونحوهم تبييت النية ثم من لحقه منهم مشقة شديدة أفطر، وإلا فلا. ولا فرق بين الأجير والغني وغيره والمتبرع وإن وجد غيره، وتأتي العمل لهم العمل ليلا كما قاله الشرقاوي. وقال في التحفة إن لم يتأت لهم ليلا، ولو توقف كسبه لنحو قوته المضطر إليه هو أو ممونه علي فطره جاز له، بل لزمه عند وجود المشقة الفطر، لكن بقدر الضرورة. ومن لزمه الفطر فصام صح صومه لأن الحرمة لأمر خارج، ولا أثر لنحو صداع ومرض خفيف لا يخاف منه ما مر.

Ketika memasuki Ramadhan, pekerja berat seperti buruh tani yang membantu penggarap saat panen dan pekerja berat lainnya, wajib memasang niat puasa di malam hari. Kalau kemudian di siang hari menemukan kesulitan dalam puasanya, ia boleh berbuka. Tetapi kalau ia merasa kuat, maka ia boleh tidak membatalkannya.

BACA JUGA : Langsung Makan Nasi Saat Berbuka Puasa, Ini Efeknya!

Tiada perbedaan antara buruh, orang kaya, atau sekadar pekerja berat yang bersifat relawan. Jika mereka menemukan orang lain untuk menggantikan posisinya bekerja, lalu pekerjaan itu bisa dilakukannya pada malam hari, itu baik seperti dikatakan Syekh Syarqawi.

Mereka boleh membatalkan puasa ketika pertama mereka tidak mungkin melakukan aktivitas pekerjaannya pada malam hari, kedua ketika pendapatannya untuk memenuhi kebutuhannya atau pendapatan bos yang mendanainya berbuka, terhenti.

Mereka ini bahkan diharuskan untuk membatalkan puasanya ketika di tengah puasa menemukan kesulitan tetapi tentu didasarkan pada dharurat. Namun bagi mereka yang memenuhi ketentuan untuk membatalkan puasa, tetapi melanjutkan puasanya, maka puasanya tetap sah karena keharamannya terletak di luar masalah itu.

Tetapi kalau hanya sekadar sedikit pusing atau sakit ringan yang tidak mengkhawatirkan, maka tidak ada pengaruhnya dalam hukum ini.

Dengan kata lain, bagaimanapun wajibnya mencari nafkah, kewajiban puasa Ramadhan perlu dihargai. Dalam artian, kita tetap memasang niat puasa di malam hari. Kalau memang di siang hari puasa terasa berat, kita yang berprofesi sebagai pekerja berat dibolehkan membatalkannya.

Uraian ulama tersebut menunjukkan betapa mulianya ibadah puasa Ramadhan kendati mereka yang udzur tetap mendapat keringanan untuk berbuka puasa.


Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/05/kuli-dan-pekerja-keras-bolehkah-tidak.html

Mana yang Benar “Umat Islam” atau “Umat Muslim”?

Menjelang dan selama bulan Ramadhan atau puasa, pun saat hari raya Idul Fitri alias lebaran, kita akan terbiasa mendengar dan melihat ucapan-ucapan selamat.

Contohnya “Selamat menjalankan ibadah puasa kepada umat Islam” atau terkadang “Selamat menunaikan ibadah puasa kepada umat muslim”.


Terlihat sama saja? Tentu saja sebagian besar dari kita akan melihat kedua ucapan tersebut memiliki arti yang sama. Padahal, jika diperhatikan, ada penggunaan kata yang kurang tepat di dalamnya.

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata umat memiliki arti (1) ‘para penganut (pemeluk, pengikut) suatu agama; penganut nabi’ atau (2) ‘makhluk manusia’.

Maka dari itu, penggunaannya harus diikuti dengan nama agama atau nama nabi. Contohnya adalah ungkapan umat Islam atau umat Nabi Nuh.

Sementara itu, kata muslim dalam KBBI memiliki arti ‘penganut agama Islam’. Dengan demikian, jika kita menggunakan ungkapan umat Muslim, maka artinya adalah umat yang mengikuti penganut agama Islam.

Mereka, umat yang dimaksud dalam ungkapan tersebut, mengikuti orang (penganut) yang bergama Islam, bukan agamanya.

Tentu saja frasa tersebut tidaklah tepat untuk digunakan. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka ungkapan yang paling tepat adalah umat Islam bukan umat muslim.

Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/05/mana-yang-benar-umat-islam-atau-umat.html

Saat Suamiku Dalam Kekurangan Hanya Doa Yg Bisa Aku Berikan

Menjadi seorang ibu dirumah, merangkap manager pribadi dari para suami, memang bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang istri. Perlu banyak tenaga, ketelatenan dan persediaan sabar yang cukup untuk tetap stabil mengatur keuangan apalagi jika memang kenyataan tengah menempatkan kita ditengah kekurangan.


Seribu satu pemikiran yaitu campuran dari ketelitian, kreativitas, keuletan, kepuyengan dan rasa syukur di tampilkan demi tetap berputarnya ekonomi keluarga.

Memang, siapa yang dapat dengan mudah berkompromi dengan perut yang lapar?. Batin kita pun pasti tidaklah tega ketika harus mendengar rintihan suara kelaparan dan kekurangan dari anak- anak kita. Namun, marah, protes apalagi sampai memaki suami, tidaklah akan mempermudah jalan keluar, malah akan semakin menambah masalah, dan dosa pun pasti tercatat untuk kita.

Bersabar, memang bukan hal yang mudah. Dan akan terasa lebih berat terutama bila seorang istri hanya selalu dan selalu mengingat kekurangan dan kejelekan suami serta alpa nya rasa syukur terhadap apa yang telah susah payah seorang suami perjuangkan. Dan, cukuplah hadits Rasulullah shollallohu `alaihi wassalam berikut menjadi nasehat untuk kita para istri,



"Saya melihat neraka yang tidak pernah aku lihat seperti hari ini. Dan saya melihat penghuni terbanyak dari kalangan wanita." Mereka (para sahabat) bertanya, "Kenapa wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Karena pengingkaran mereka." Beliau ditanya, "Apakah karena ingkar kepada Allah?" Beliau bersabda, "Mereka membangkang dan mengingkari kebaikan suami. Jika engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang tahun, lalu ia melihat darimu sesuatu (yang tidak disukai), maka ia berkata, saya belum pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.(Riwayat Bukhari)

BACA JUGA:  Renungan Untuk Istri, Untuk Suami Pekerja Keras, Terima Kasih Selalu Kuat Bertahan

Allah akan tersenyum ketika melihat seorang istri yang selalu mendampingi suami tidak hanya saat suaminya bersuka cita. Mulianya seorang istri justru terlihat ketika dia pun setia mendampingi di saat suaminya berduka atau ditimpa kesusahan. Keteduhan jiwa sang istri akan tampak nyata ketika dia berusaha menghiburnya, dan mendorongnya untuk kembali bersemangat. Kalau bukan anda, siapa lagi. Itulah sebuah pelajaran berharga yang dicontohkan Ummul Mukminin Khadijah, yang berusaha menghibur dan menenangkan hati Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam ketika pertama kali menerima wahyu.

Memanglah seorang laki- laki diciptakan kuat untuk menghadapi tantangan yang lebih berat di luar. Merekapun dilengkapi Allah dengan rahmat logika yang lebih kuat. Namun begitu, mereka tetaplah manusia biasa. Suamipun kadang diuji dalam pekerjaannya. Misalnya usahanya bangkrut, dan orang-orang yang dulu menjalin hubungan kerja sama dengannya, banyak yang meninggalkannya. Bisa juga ia diuji dengan suatu penyakit yang cukup parah, sehingga banyak orang meninggalkannya. Sebagai seseorang yang digambarkan sebagai separuh jiwanya, seorang istri yang baik dan setia, akan tetap menemaninya, dan tidak meninggalkannya di saat orang lain berbuat demikian terhadapnya. Sebagaimana yang dialami Nabi Ayyub alaihis salam.



Nabi ayub dahulunya kaya raya, tapi Allah kemudian mengujinya dengan kemiskinan dan penyakit. Namun sang istri tetap setia dan tak kenal penat, meladeni nabi Ayub yang sedang sakit itu dengan segala kasih mesra dan dengan bersusah-payah. Segala kesakitan yang diderita Nabi Ayub, seakan-akan dia sendiri ikut menderitanya pula. Nabi Ayub tetap dihibur dan diladeninya. Hal ini  menunjukkan keimanan seorang isteri yang kuat dan teguh. Hari- hari mereka selanjutnya penuh dengan penderitaan, bahkan melonjak lagi, lebih tinggi dan lebih hebat. Penghinaan dan ejekan pun datang dari orang-orang bekas kawan dan temannva dahulu ketika Beliau masih kaya raya.

BACA JUGA: Bikin Nangis, Miris Melihat Seorang Ibu Tega Injak Tubuh Mungil Anaknya Karena Sepotong Sosis

Mereka bukan kasihan dan datang menolong, tetapi mereka keberatan bila Nabi Ayub dan isterinya tetap berada di rumahnya dan bertetangga dengan mereka. Mereka bukan hanya merasa jijik saja melihat Nabi Ayub, tetapi juga takut kalau-kalau penyakitnya yang hebat itu dapat menular kepada mereka. Dengan tidak menaruh perasaan sedikitpun, mereka mendatangi istrinya dan berkata: Kami takut kalau penyakitnya Ayub berpindah kepada anak-cucu kami, sebab itu keluarkanlah Ayub dari sini atau kami akan mengeluarkannya kalau engkau tidak mau mengeluarkannya.

Mendengar ucapan yang kasar dan menyayat perasaan itu, sang isteri yang setia itu tetap tabah dalam tangisnya. Dia mengeluarkan segenap tenaga yang ada padanya, untuk memangku suaminya dan membawanya ke luar kampung dan tinggal di sebuah pondok yang sudah ditinggalkan orang. Di sanalah Nabi Ayub beserta isterinya menanggungkan derita lahir dan batin, dengan penuh kesabaran dan keimanan yang tidak pernah putus.

Untuk penghidupannya, sang istri terpaksa bekerja memotong-motong roti pada seorang pedagang roti. Setiap petang dia pulang menjumpai suaminya, dengan membawa beberapa potong roti yang dihadiahkan orang kepadanya. Tetapi setelah orang ramai tahu, bahwa itu adalah isteri  Nabi Ayub, maka pedagang roti itupun tidak mau dia bekerja lagi sebagai tukang potong roti, karena kawatir jika penyakit Ayub itu menulari roti yang akan dijualnya.

Kerana tidak ada lagi pekerjaan dan makanan, maka beberapa hari lamanya, baik Nabi Ayub dan istrinya tidak makan dan minum sedikitpun. Dan ketika mereka sudah tidak tahan menahan lapar dan dahaga, lalu sang istri minta izin kepada Nabi Ayub untuk pergi  berikhtiar mencari makanan dan minuman. Tidak lama kemudian dia pulang kembali dengan membawa sepotong roti dan air minum.

Setelah Nabi Ayub melihat sepotong roti segar yang dibawa isterinya itu, nabi Ayub mengira bahwa isterinya sudah menjual kehormatan dirinya untuk mendapatkan sepotong roti itu. Lalu sang istri menceritakan kepada Nabi Ayub, bagaimana caranya ia mendapatkan roti itu: Aku bukan menjual kehormatan diriku, aku berlindung diri kepada Allah dari segala perbuatan yang menodai diriku. Roti ini aku dapat dengan menukarkan rambutku yang panjang.

Melihat kejadian itu, Nabi Ayub sangat sedih hatinya, lalu dia menangis, bukan menangisi nasibnya, tetapi menangisi rambut isterinya, karena diantara yang paling menarik hatinya terhadap isterinya adalah rambutnya yang panjang.

Maka Berkatalah sang istri: Janganlah engkau menangisi rambutku yang sudah hilang. Rambut itu akan tumbuh kembali dan mungkin akan lebih indah dari yang sudah hilang itu. Demikianlah katanya menghibur suaminya. Mendengar jawapan isterinya itu, Nabi Ayub merasa senang hatinya. Dia kembali bersyukur, bertasbih, bertakbir memuji-muji Allah.

Karena keimanannya kepada Allah dan rasulNya, rahmat Ilahiyah pun akhirnya turun kpd Ayyub dan juga kpd istrinya,  yg tidak meninggalkan beliau ketika sakit dan tertimpa musibah.Allah mengembalikan kekayaan dan kesejahteraan kepadanya, seperti semula. Sungguh Allah merahmati istri nabi Ayub, Dan memuliakannya atas kesabarannya bersama suaminya dan membimbingnya kpd kemanisan taat dibawah naungan keridhoan Allah ta`ala.

Sungguh, kisah diatas adalah sarat dgn pelajaran berharga dan ibrah bagi para istri yang memiliki hati nurani, bahwa dunia adalah ladang akhirat. Selain itu, dalam menemani suami tentulah kita perlu untuk melatih diri mengendarai kendaraan sabar, tidak berkeluh kesah atas musibah yg menimpanya, bersungguh2 dalam melaksanakan hak Allah pada dirinya, dan tdk marah terhadap qadha dan takdir yg terjadi.

Percayalah, ketika para suami kita memiliki kelebihan rejeki, Insyaallah akan diberikan kepada kita nantinya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Lihatlah betapa merekapun telah menghabiskan banyak waktunya untuk keluarga, maka untuk siapa lagi mereka memperjuangkan nafkah keluarga kalau bukan untuk kita para istri dan anak- anak kita?

Percayalah bahwa dunia ini memang berputar. Mungkin saat ini kita di bawah, tapi bisa saja suatu saat kita diatas. Dan ketika kita dibawah, itulah justru kesempatan yang diberikan Allah untuk menunjukkan jati diri kita, kualitas kita sebagai seorang istri yang senantiasa mendampinginya. Sehingga kettika tiba waktunya kita harus berada diatas, kepercayaan suami atas kita insyaAllah tidak akan tergantikan.

Ketika jiwa kita masih berontak dengan berbagai perasaan was- was, maka yakinlah, bahwa semua di dunia ini, mempunyai waktu sendiri- sendiri atas mulai atau berakhirnya sesuatu, pun demikian insyaAllah dengan semua kekurangan yang ada pada kita. Asal kerja keras dan tawakkal tidak kita pangkas, maka Allah akan selalu menolong hamba- hambanya.  Banyak-banyak bersyukur, Insyaallah Allah akan menambah nikmat-Nya. Sesekali ada baiknya kita melihat ke bawah, karena betapa banyak orang yang hidupnya jauh lebih susah dibandingkan kita sekarang.

sumber: https://www.facebook.com/notes/aku-hanya-ingin-cinta-yang-halal-di-mata-allah/saat-suamiku-dalam-kekurangan/300736456603565/

Selasa, 14 Maret 2017

Suka Mengumbar Aurat Di Dunia Maya, Cukup Kisah Ini yang Akan Menyadarkanmu Beratnya Siksa Untuk Wanita

Gambaran-Neraka-Paling-Mengerikan
Masih ingat dengan kisah noor amelia wanita yang mengalami mimpi buruk karena sering di datangi salah satunya temannya yang dulunya gemar mengupload foto di sosial media dengan sengaja memperlihatkan auratnya ? jika belum simak kisahnya.

Noor Amelia, Sebelum memutuskan untuk menghapus seluruh foto yang pernah ia unggah di sosial media, lebih dari 500 foto yang pernah di unggahnya di facebook di hapus bersih, semua foto yang menampakkan auratnya pun hilang tidak tersisa.

Kisahnya dimulai sebulan lalu, 3 hari setelah teman wanitanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan jalan raya.

Kepergian teman itu ternyata jadi awal pengalaman mengerikan yang dialami Noor. Semenjak itu, Noor kerap bermimpi didatangi temannya yang sudah meninggal itu. Dalam mimpi itu ia disuruh untuk menghapus seluruh foto yang di unggah di akun sosial medianya.

“Dalam mimpi itu saya melihat dia disiksa, dicambuk oleh sosok hitam dan tinggi besar. Kulit teman saya disayat dengan besi panas, dan dia menjerit ‘tolonglah hapus foto saya yang tak menutup aurat’. Kata-kata itu berulang kali dia ucapkan,” kata Nor ketika menceritakan kisahnya dikutip dari dream.co.id.

Pernah sekali dia melihat temannya dalam mimpi menangis tersedu-sedu dengan kata-kata yang sama “tolonglah hapus foto saya yang tak menutup aurat. Saya sudah tak tahan”.

” Saat dia menoleh ke saya, Masya Allah, mukanya hanya Allah saja yang tahu. Semenjak itu saya mulai menghapus foto-foto kami di Facebook yang tidak menutup aurat. Kami memang sedikit nakal, tapi tidaklah nakal sampai mengaibkan keluarga dan menggadaikan martabat, hanya nakal sebagai remaja saja,” kata Nor.

Didalam hadits diriwayatkan, seperti inilah ancaman bagi wanita yang enggan menutup auratnya.

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi tidak menutupi tubuh, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128).

kisah diatas dapat dijadikan sebuah pelajaran bagi setiap muslimah yang hingga kini enggak untuk menutup batas aurat yang tidak boleh di perlihatkan kecuali kepada mahramnya.

Sumber: wajibbaca.com

Mau Anak Hebat dan Sukses? Orang Tua pun Harus Menjadi Luar Biasa Seperti ini!


Saya sebenarnya sangat tertarik pada cerita dosen Unair yang sayang saya tak tahu namanya. Di beberapa WhatsApp saya baca rekaman momen yang dia catat saat menerima seorang siswa SLB yang mencari alamat. Dari Jogja, anak SLB itu ditugaskan gurunya mencari alamat di Surabaya.

Itulah penentuan kelulusannya. Dosen tadi merekam momen itu yang menyebabkan kebahagiaan si siswa. Sewaktu didalami, pak dosen mencatat, anak itu tak boleh diantar, tak boleh pakai taksi atau becak. Harus cari sendiri walau boleh bertanya. Ya, seorang diri.

Saya pikir di situ ada tiga orang hebat. Pertama adalah gurunya yang punya ide dan berani ambil risiko. Bayangkan, ini siswa SLB dan kalau dia hilang, habislah karir pak/bu guru itu. Apalagi kalau dia anak pejabat atau orang berduit. Kata orang Jakarta, ’’bisa mampus’’. Saya sendiri yang menugaskan mahasiswa satu orang satu negara pernah mengalami hal tersebut.

Kedua, orang tua yang rela melepas anaknya belajar dari alam. Ya, belajar itu berarti menghadapi realitas, bertemu dengan aneka kesulitan, mengambil keputusan, dan berhitung soal hidup, bukan matematika imajiner. Belajar itu bukan cuma memindahkan isi buku ke kertas, melainkan menguji kebenaran dan menghadapi aneka ketidakpastian.

Orang tua yang berani melepas anak-anaknya dan tidak mengganggu proses alam mengajak anak-anaknya bermain adalah orang tua yang hebat. Memercayai kehebatan anak merupakan awal kehebatan itu sendiri.

Ketiga, tentu saja si anak yang bergairah mengeksplorasi dan ’’membaca’’ alam. Anak-anak yang hebat adalah anak-anak yang berani keluar dari cangkangnya. Keluar dari rahim, dari selimut rasa nyaman, tidak lagi dibedong, digendong, atau dituntun. Berjalan di atas kaki dan memakai otaknya sendiri.

Otak Orang Tua

Tetapi, yang terjadi selanjutnya adalah sebuah tragedi. Semakin kaya dan berkuasa, orang tua semakin ’’menguasai’’ anak-anaknya. Pasangan diatur dan dipilih orang tua, jurusan dan mata kuliah, bahkan siapa dosennya, lalu juga di mana bekerja. Ini sungguh sebuah kelas menengah yang sudah kelewatan.

Bahkan, begitu bekerja, kita menemukan sosok-sosok yang, maaf, ’’agak bodoh’’. Katanya lulusan universitas terkenal, IPK tinggi, tetapi sama sekali tidak bisa mengambil keputusan. Dan di antara teman-temannya, mereka dikenal sebagai sosok yang tidak asyik, sulit ’’linkage’’ atau mingle dengan yang lain.

Setelah tinggal di mes, teman-temannya baru tahu. Ternyata, beberapa hari sekali ’’mami’’-nya menelepon dan nangis-nangis karena merasa kehilangan. Nasihat ’’mami’’ banyak sekali dan si anak terlihat takut. Disuruh nego soal gaji, dia pun nego, padahal kerja baru seminggu dan belum menunjukkan prestasi apa-apa. Begitu disuruh mami pulang, pulanglah dia tanpa izin dari kantor.

Anak saya sendiri sejak SMP sudah dididik mandiri. Maka saat di SMA, dia sudah tidak sulit mengambil keputusan. Bahkan saat kuliah di negeri seberang, dengan cepat dia bisa memilih tempat tinggalnya. Sedangkan anak seorang pegusaha butuh dua bulan. Waktu saya tanya mengapa, dia jelaskan bahwa setiap kali anaknya dapat rumah, ibunya menganulir.

Saya bayangkan betapa rumitnya pesta pernikahan anak-anak yang orang tuanya seperti itu. Tanpa disadari, mereka membuat otak anak-anaknya kosong, terbelenggu, tak terlatih. Semua itu adalah otak orang tua, bukan otak anaknya.

Namun, ketika kolom tentang dagelan orang tua saya tulis beberapa hari lalu itu beredar luas lewat media sosial, saya punya kesempatan untuk ’’membaca’’.

Mayoritas pembaca tertampar ketika dikatakan bahwa anak-anaknya hebat, tetapi telah merusaknya dengan memberikan pengawalan ’’superekstra’’. Namun, saya juga menemui orang tua yang bebal, yang mengancam saya harus diperiksa KPAI karena mereka menganggap anaknya yang sudah mahasiswa masih ’’di bawah umur’’.

Bahkan, ketika saya katakan, ’’Jangan Latih Anak-Anak Dijemput KBRI’’, mereka protes dengan dalih KBRI itu dibiayai negara, untuk melindungi anak-anak mereka. Ada juga yang sangat takut anaknya kesasar, jadi korban perdagangan manusia, diperkosa, dan seterusnya.

Terus terang, mereka itulah yang seharusnya berubah. Takut berlebihan bisa membuat anak-anak ’’lumpuh’’ dan bermental penumpang. Anak-anak itu merasa akan selalu pintar kalau di sekolah juara kelas. Padahal, pintar di sekolah tidak berarti pintar dalam hidup.

Kalau memang lokasi kunjungannya berbahaya, tentu bisa dipelajari. Anak-anak kita, khususnya mahasiswa (bahkan kelas 2–3 SMA), bisa diajak membaca lingkungan. Orang tua bisa memberikan advis, bukan mengambil keputusan.

Tetapi, harus saya katakan, melatih anak-anak berpikir dan mengambil keputusan sedari muda amatlah penting. Sepenting membangun pertahanan dan keamanan negara, kita butuh penerus yang cerdas dalam menghadapi kesulitan dan ketidakpastian. Sebab, itulah situasi yang dihadapi anak kita kelak pada abad ke-21 ini.

Saya juga dapat pesan dari guru besar perempuan UI yang disegani dan dari bupati Trenggalek. Dari guru besar UI, saya mendapat cerita bagaimana pada usia SMP dia sudah ditugaskan ayahnya menyusul sendiri ke Padang. Di sana, ayahnya yang tentara mendapat tugas baru. Dia pun harus mencari sekolah sendiri dan mendaftar sendiri.

Lalu, ketika setahun tinggal di sana, ayahnya ditugaskan panglima untuk tugas belajar ke Amerika Serikat. Tinggallah si anak harus merajut hidup dengan bekal seadanya di kota yang belum dia kenal. Tetapi, hasilnya, dia menjadi pemikir yang dikenal kaya dengan empati, bukan tipe manusia berwacana.

Sementara itu, dari Bupati Trenggalek Emil Dardak, saya mendapat proof bahwa apa yang dididik orang tua pada masa kecilnya amat bermanfaat untuk mengantarnya ke tugas hari ini. Ayahnya, Hermanto Dardak, mantan wakil menteri PU, sering mengajak Emil ke luar negeri kalau ada undangan seminar. Sesampai di kota itu, Emil ditugaskan jalan-jalan sendiri mengenal kota.

Emil menulis melalui WA ke saya, ’’Saya beruntung punya orang tua yang kuat jantung dan beri kesempatan untuk membangun masa depan yang saya mampu jalani, meski berisiko.’’ Anda tahu, bupati muda ini meraih gelar doktor dari Jepang pada usia 22 tahun.

Perjalanan hari ini membentuk anak-anak kita pada hari esok. Saya harap orang tua kelas menengah siap berubah. Janganlah khawatir berlebihan. Berikanlah kepercayaan dan tantangan agar mereka sukses seperti Anda. Sebab, rumput sekalipun, kalau tak tembus matahari, akan berubah menjadi tanah yang gundul.

Sumber: wajibbaca.com