Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 April 2017

Karena Ketika Seorang Manusia Tiba Ajalnya, Ternyata Ini yang Dilakukan Iblis!


Ketika mendengar kata sakaratul maut, yang terlintas di benak setiap manusia adalah hal yang menakutkan, dimana roh dan jasad akan terpisah, sehingga kemudian semua amal di dunia akan ditanyakan oleh para malaikat penjaga kubur nantinya. Sungguh amat mengerikan sekali jika membicarakannya.

Kematian akan menghadang setiap manusia. Proses tercabutnya nyawa manusia akan diawali dengan detik-detik menegangkan lagi menyakitkan. Peristiwa ini dikenal sebagai sakaratul maut. Selain para malaikat, ternyata iblis juga ikut hadir dan berniat menggoda manusia tersebut. Berikut adalah 7 cara iblis menggoda dan menggangu ummat islam saat menghadapi sakarotul maut


1. Iblis yang datang pada golongan pertama ini menggoda manusia yang pada saat hidupnya sangat rakus dan tamak, maka iblis itu akan menyerupai emas perak, berlian dan macam-macam perhiasan, tapi kadang-kadang pula berupa makanan dan minuman yang lezat. Bila manusia itu mati dalam keadaan setelah godaan ini, ia itu lalai, lupa kepada Allah SWT maka mati dalam keadaan ini adalah mati dalam keadaan fasik dan munafik, nerakalah tempatnya.

2. Pada golongan kedua ini, Iblis akan merubah dirinya menjadi binatang yang ditakuti orang yang akan digodanya, dan apabila orang yang sakaratul maut itu memandang binatang tersebut maka diapun akan meraung dan melompat kerana takut, seketika itu juga putuslah roh dari badannya. Maka mati dalam keadaan ini adalah mati dalam keadaan fasik dan munafik, nerakalah tempatnya.

3. Golongan ini iblis akan menyerupai seperti binatang yang menjadi kesukaan orang yang sedang sakaratul maut, kalau orang yang akan mati itu menyukai burung maka iblis akan menyerupai burung dan apabila tangan orang yang akan mati itu meraba kepada binatang tersebut dan kemudian ia meninggal, maka ia mati dalam keadaan lalai dan lupa kepada Allah, nerakalah tempatnya.

4. Manusia yang mati dalam golongan keempat ini, iblis akan datang pada rupa orang yang paling dibencinya, maka orang yang akan sakaratul maut itu akan timbul rasa kebenciannya kepada orang yang dilihatnya itu dan berusaha membunuhnya, maka ia akan lalai dan lupa kepada Allah, dan nerakalah tempatnya .

5. Pada golongan kelima ini iblis akan datang menyerupai orang terdekatnya, misalnya orang tuanya yang membawakan makanan dan minuman. Orang yang sedang sakaratul maut itu kebetulan dalam keadaan haus dan lapar, lalu ia pun mengambil makanan dan minuman yang dibawa orang tuanya itu yang tak lain adalah jelmaan iblis, dengan rayuannya iblis berkata: wahai anaku, inilah makanan dan minuman yang kami bawakan untukmu ambillah bekal ini dan berjanjilah engkau akan mengikuti kami dengan menyembah tuhan yang kami sembah, supaya kita tidak bercerai berai sekarang marilah kita menuju syurga. Dan diapun mengikuti rayuan iblis tersebut tanpa berfikir lagi dan jika pada masa itu ia mati, maka matilah ia dalam keadaan kafir. Dan kekallah ia di dalam neraka.

6. Pada golongan keenam ini iblis akan menyerupai seorang ulama yang dikagumi kemudian ia berkata: wahai muridku lamalah sudah kami menunggumu rupanya kamu sedang sakit di sini. Oleh sebab itu kami bawakan padamu ubat dan tabib. Lalu diminumlah ubat itu oleh orang yang dalam sakaratul maut tersebut dan hilanglah rasa sakitnya. Selepas itu Iblis berkata: Tunggu, sebentar lagi dinding dan tirai akan terbuka untukmu. Dan ketika tirai dibuka maka terlihatlah suatu benda yang sangat besar, seolah-olah lebih besar dari langit dan bumi dan berkatalah Iblis, itulah Dzat Allah yang patut kita sembah. Dan berkatalah orang itu, wahai guruku, bukankah ini benda yang sangat besar, tapi benda ini mempunyai enam sudut, iaitu kiri dan kanannya. Serta depan dan belakang. Sekarang apakah benda ini yang patut aku sembah? Dalam keraguan dan kekaguman itu maka datanglah malaikat maut mencabut nyawanya, maka matilah orang itu dalam keadaan kafir. Dan ia akan kekal di dalam neraka.

7. Rombongan iblis yang ketujuh ini terdiri dari 72 barisan. Hal ini sesuai dengan hadith Rasulullah bahwa umat beliau akan terbahagi menjadi 73 golongan. Dan hanya satu golongan saja yang diterima Allah, dan 72 nya tidak diterima Allah. Maka iblis dengan 72 barisannya ini agan mengganggu dengan berbagai macam cara.

Oleh karena itu hendaklah kita mengajarkan orang yang akan meninggal dengan kalimat “LAA ILA HA ILLALLAH” demi menyelamatkan orang yang kita sayangi menghadapi sakaratul maut agar terhindar dari gangguan iblis.

Hal ini sesuai dengan hadits, “Ajarkan olehmu (orang yang masih hidup) kepada orang yang hampir meninggal, laa ilaaha illa Allah.”

Itulah beberapa iblis yang akan mengganggu manusia ketika sakaratul maut, dan ingatlah iblis hanya bisa mengganggu orang yang lemah imannya, maka bertawakallah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Sebagaimana firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu mengikuti langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Qs. Al-Baqarah 2: 208).

Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/04/karena-ketika-seorang-manusia-tiba.html

Sebelum Merebut Suami Orang, Ini Pesanku Untukmu yang Hendak Lancang!


Siapapun pernah ingin bunuh diri, setidaknya sekali dalam hidupnya. Dan itupun kualami sekitar 10 tahun yang lalu, saat aku sebagai seorang gadis di usia puncaknya berhadapan dengan orang tua yang terlalu over protective, mengatur dan di mataku hanya ingin menang sendiri dan ‘not to mention’ kepala batu. Terutama ayahku.

Baca juga : Karena Ayah Hanya Meminta Ini, Untukmu Putri Kecil Kami yang Kini Dewasa


Dalam kegalauan karena gagalnya kisah-kisah percintaan dan perjodohanku karena campur tangan orang tuaku, aku nekat untuk mengakhiri hidup dengan caraku. Aku mendaftarkan diri menjadi relawan untuk organisasi kemanusiaan yang memiliki program khusus di daerah konflik dan rawan. Hal ini kusengaja selain sebagai bentuk protesku kepada ayah dan ibuku, juga untuk menyelesaikan hidup penuh frustasiku dengan harapan ada sebutir peluru yang mampir ke kepalaku atau sebilah parang yang bisa mengakhiri hidupku. Sebuah pemikiran ekstrim untuk seorang gadis di usiaku yang belum mencapai 30 tahun saat itu. Namun itulah yang terjadi karena akumulasi kekecewaan sekaligus kemarahanku kepada ayah dan ibuku.

Singkat cerita aku meninggalkan orang tuaku dan keluargaku di Pulau Jawa. Selepas wisuda sarjana di bidang medis, aku mulai berpetualang dengan tim relawan dimana aku ditunjuk sebagai koordinatornya. Di daerah konflik yang aku datangi, tugas kami hanyalah berkisar di antara masalah kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan hal-hal lain yang bersifat sosial dan kemanusiaan.

Untuk memperlancar komunikasi dan mencairkan interaksi dengan penduduk asli, kami dipandu oleh seorang pemuda lokal yang di mata masyarakat sesama sukunya, adalah pemuda yang disegani dan cukup terpandang bukan saja karena garis keturunannya yang berasal dari seorang ‘panglima perang’ sukunya, namun juga karena kecerdasannya yang didapatkan saat menjadi aktivis di beberapa organisasi lokal kedaerahan yang diikutinya. Di mataku dia sangat berbeda dengan mitos yang ada serta anggapanku sebelumnya tentang sifat dan karakter dari penduduk lokal, karena selain cerdas, dia juga sangat perhatian, lemah lembut dan sangat melindungi kami, khususnya anggota tim yang perempuan.

Hingga tak sadar muncul simpati dari hatiku yang notabene juga sedang mencari tambatan atas segala kekecewaan yang telah membuatku berada di ambang frustasi. Kami mulai saling memiliki ketertarikan dan kemudian ‘jatuh hati’. Namun sayang seribu sayang, dia akhirnya mengakui bahwa dirinya telah memiliki pasangan dan dengan pasangannya dia telah memiliki seorang anak laki-laki.

Aku kaget, kecewa, patah hati dan kemudian berusaha untuk menjauh. Aku tak mau menjadi ‘benalu’ bagi dirinya dan pasangannya. Bahkan demi menjaga agar tak terjadi kesalahpahaman, akupun menemui perempuan yang menjadi pasangannya dan berbicara dari hati ke hati. Kami sepakat untuk saling menghormati dan saling menjaga perasaan masing-masing sebagai perempuan yang terlanjur sama-sama menyayangi laki-laki yang sama. Tepatnya aku mengalah.

Tapi yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang biasa terjadi pada sebuah cinta segitiga. Singkatnya seluruh faktor yang melingkupi hubungan kami pada waktu itu justru semakin mendekatkan kami, terutama dia yang ternyata tak mau kehilangan aku. Hingga pada satu moment akhirnya terjadilah apa yang harus terjadi, si perempuan pasangannya meninggalkan dirinya dan anak laki-lakinya karena pertikaian terus terjadi pada mereka berdua.

Dengan sumpah serapahnya, perempuan yang merupakan pasangan dari laki-laki itu menimpakan kesalahan pada diriku. Aku dianggap sebagai biang keladi retaknya hubungan cinta mereka, ayah kandung anak laki-lakinya.

Akupun merasa bersalah, mencoba melarikan diri darinya. Namun dalam pelarian dan persembunyianku darinya, justru kondisi ragaku tak mampu mendukung niatku. Akupun jatuh sakit dan dialah yang merawatku setelah dengan berbagai cara bisa menemukanku. Dan dalam kegalauan terpuncak yang bisa dirasakan oleh seorang perempuan, akhirnya aku meminta dia untuk ‘menikahiku atau meninggalkanku’, dan tentu saja dia menikahiku walau harus memeluk agama keyakinanku sebagai sarat mutlaknya.

Kami menikah, tanpa restu dan kehadiran kedua orang tuaku (yang memang tak kuinginkan terjadi, karena aku tahu pasti mereka akan menolak mentah-mentah ‘kegilaanku’ ini). Kami segera dikaruniai anak perempuan yang lucu, dan rumah tangga kamipun sempat berjalan selama hampir 7 tahun lamanya, saat akhirnya kusadari bahwa ‘pemberontakan’ terbesarku, upaya ‘mengakhiri hidupku’ justru mengarahkanku pada jalan berliku yang menuntunku pada satu hal.



Baca juga : Ketika Wanita Masuk Neraka, dan Kau Akan Ikut Bersamanya! Siapa Saja Dirimu?

Kemarahanku kepada orang tuaku sekian tahun lalu, nyatanya berbalik memukulku dengan sangat keras dan nyata. Di akhir tahun ke 7 pernikahanku dengannya, kami bercerai. Dan alasan perceraian kami, tidak kurang dan tidak lebih sama dengan kisah yang mengawali seluruh kisah percintaan kami, yakni: cinta segitiga.

Ya, aku yang pernah menjadi ‘orang ketiga’ untuk hubungan cinta antara dua anak manusia akhirnya harus memainkan peran yang berbeda dalam sebuah cinta segitia. Dan sekali lagi, seolah semua perjalanan dalam sepenggal hidupku ini telah menunjukkan bahwa; murkaku kepada orang tuaku di masa gadisku dulu, kini akhirnya berbalik dengan keras meninjuku. Telak.

“What goes around, comes around…”

Kini, 10 tahun sejak pertemuanku dengan dia, aku tinggal dengan anak perempuanku, kembali ke Pulau Jawa dan menekuni kembali perjalanan hidupku. Aku bukan sebagai gadis muda yang mencari mati seperti dulu, namun menjadi ibu dan single parent yang berusaha untuk tetap hidup dan menjalani kehidupan bagi anak perempuanku.

Karena kenyataannya, sampai hari ini, anak perempuanku yang belum berusia 4 tahunpun, belum pernah sama sekali pun bertemu dan melihat ayah kandungnya. Pemuda kekar yang melindungiku dan menjauhkanku dari berbagai macam peluru dan parang yang saat itu justru kunanti dan kucari sebagai cara untuk mengakhiri hidupku. Dan ini semua mungkin juga karena doa dari ayah ibuku yang kinipun telah tiada. (Dikutip dari cerita perempuan hebat yang ingin memberikan sebuah kisah inspiratif kepada para perempuan lainnya).

Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/04/sebelum-merebut-suami-orang-ini-pesanku.html