Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Mei 2017

Penting, Ini Hukum Lewat Di Depan Orang yang Sedang Shalat


Pernahkah anda sedang shalat jamaah atau tarawih misalnya, tiba-tiba entah karena sakit atau apa ingin keluar dari soft anda yang berada ditengah.  Nah, bagaimana anda melewati jamaah lain yang sedang shalat?


Bagaimana hukumnya?

Mengenai hal ini perlu dirinci pembahasannya terkait beberapa keadaan. Berikut penjelasannya dikutip dari muslim.or.id oleh Ustadz Aris Munandar, S.Sos., M.Pi.

Shalat Dengan Menggunakan Sutrah
Apa itu sutrah?

Sutrah berarti pembatas, yang dimaksud dengan sutrah adalah pembatas yang diletakkan di depan mushalli untuk menjaga shalatnya dari kekurangan atau pemutusan.

Tidak ada perbedaan di antara para ulama bahwa lewat di depan sutrah hukumnya tidak mengapa dan lewat di tengah-tengah antara orang yang shalat dengan sutrahnya hukumnya tidak boleh dan orang yang melakukannya berdosa (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 24/184).

Berdasarkan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya ia adalah setan” (HR. Al Bukhari 509, Muslim 505)

Juga sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

لَا تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلَا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ؛ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ

“Janganlah shalat kecuali menghadap sutrah, dan jangan biarkan seseorang lewat di depanmu, jika ia enggan dilarang maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan)” (HR. Ibnu Khuzaimah 800, 820, 841. Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi (115) mengatakan bahwa sanadnya jayyid, ashl hadist ini terdapat dalam Shahih Muslim).

Dengan demikian kita tidak boleh lewat diantara orang yang shalat dengan sutrahnya, hendaknya kita mencari jalan di luar sutrah, atau lewat belakang orang yang shalat tersebut, atau mencari celah antara orang yang shalat, atau cara lain yang tidak melanggar larangan ini.

Shalat Tanpa Menggunakan Sutrah
Demikian juga terlarang lewat di depan orang yang sedang shalat walaupun ia tidak menghadap sutrah, orang yang melakukannya pun berdosa. Berdasarkan hadits dari Abu Juhaim Al Anshari, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ مِنَ الإِْثْمِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

“Andaikan seseorang yang lewat di depan orang yang shalat itu mengetahui dosanya perbuatan itu, niscaya diam berdiri selama 40 tahun itu lebih baik baginya dari pada lewat” (HR. Al Bukhari 510, Muslim 507)

Namun para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan lafadz بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي (di depan orang yang shalat) yaitu berapa batasan jarak di depan orang shalat yang tidak dibolehkan lewat? Dalam hal ini banyak pendapat yang dinukil dari para ulama:


Tiga hasta dari kaki orang yang shalat
Sejauh lemparan batu, dengan lemparan yang biasa, tidak kencang ataupun lemah
Satu langkah dari tempat shalat
Kembali kepada ‘urf, yaitu tergantung pada anggapan orang-orang setempat. Jika sekian adalah jarak yang masih termasuk istilah ‘di hadapan orang shalat’, maka itulah jaraknya.
Antara kaki dan tempat sujud orang yang shalat

Yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin adalah antara kaki dan tempat sujud orang yang shalat. Karena orang yang shalat tidak membutuhkan lebih dari jarak tersebut, maka ia tidak berhak untuk menghalangi orang yang lewat di luar jarak tadi (Syarhul Mumthi’, 3/246).

Dengan demikian jika ingin lewat di depan orang yang shalat yang tidak menggunakan sutrah hendaknya lewat diluar jarak sujudnya, dan ini hukumnya boleh.

Shalat Berjama’ah
Pada tulisan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa para ulama sepakat bahwa makmum dalam shalat jama’ah tidak disunnahkan untuk membuat sutrah.

Sutrah imam adalah sutrah bagi makmum. Namun apakah boleh seseorang lewat di depan para makmum? Atau bolehkah lewat diantara shaf shalat jama’ah? Dalam hal ini ada dua pendapat diantara para ulama :

Hukumnya tidak boleh, berdasarkan keumuman larangan dalam hadits Abu Juhaim. Selain itu gangguan yang ditimbulkan oleh orang yang lewat itu sama baik terhadap orang yang shalat sendiri maupun berjama’ah.

Hukumnya boleh berdasarkan perbuatan Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahihain, Ibnu Abbas berkata,

قْبَلْتُ رَاكِبًا عَلَى حِمَارٍ أَتَانٍ وَأَنَا يَوْمَئِذٍ قَدْ نَاهَزْتُ الِاحْتِلَامَ ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ بِمِنًى إِلَى غَيْرِ جِدَارٍ ، فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ بَعْضِ الصَّفِّ ، فَنَزَلْتُ وَأَرْسَلْتُ الْأَتَانَ تَرْتَعُ ، وَدَخَلْتُ فِي الصَّفِّ فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيَّ أَحَدٌ

“Aku datang dengan menunggang keledai betina. Ketika itu aku hampir menginjak masa baligh. Rasulullah sedang shalat di Mina dengan tidak menghadap ke dinding. Maka aku lewat di depan sebagian shaf. Kemudian aku melepas keledai betina itu supaya mencari makan sesukanya. Lalu aku masuk kembali di tengah shaf dan tidak ada seorang pun yang mengingkari perbuatanku itu” (HR. Al Bukhari 76, Muslim 504).

Perbuatan sahabat Nabi, jika diketahui Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan banyak sahabat namun tidak diingkari, maka itu adalah hujjah (dalil). Dan ini merupakan sunnah taqririyyah, sunnah yang berasal dari persetujuan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam terhadap sebuah perkataan atau perbuatan. Sehingga sunnah taqririyyah ini merupakan takhsis (pengkhususan) dari dalil umum hadits Abu Juhaim.

Yang shahih, boleh lewat di depan para makmum shalat jama’ah, yang melakukan hal ini tidak berdosa dengan dalil perbuatan Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma. Namun andaikan bisa menghindari atau meminimalisir hal ini, itu lebih disukai. Karena sebagaimana jika kita shalat tentu kita tidak ingin mendapatkan gangguan sedikit pun, maka hendaknya kita pun berusaha tidak memberikan gangguan pada orang lain yang shalat. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

“tidak beriman seseorang sampai ia menyukai sesuatu ada saudaranya sebagaimana ia menyukai sesuatu itu ada pada dirinya” (lihat Syarhul Mumthi, 3/279).

Shalat Di Masjidil Haram Atau Tempat Yang Banyak Dilalui Orang
Apakah boleh lewat di depan orang yang shalat di Masjidil Haram? Sebagian ulama membolehkan secara mutlak karena darurat dikarenakan banyaknya dan merupakan tempat lalu lalangnya orang-orang dalam rangka thawaf dan lainnya. Syaikh Shalih Al Fauzan menyatakan: “demikian juga jika seseorang shalat di Masjidil Haram, maka tidak perlu menghadang orang yang lewat di depannya, karena terdapat hadits bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah shalat di Mekkah, orang-orang melewati beliau, ketika itu tidak ada sutrah dihadapan beliau. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Khamsah” (Mulakhash Fiqhi, 145).

Sebagian lagi tetap melarang berdasarkan keumuman hadits Abu Juhaim. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan: “Tidak ada perbedaan hukum lewat di depan orang shalat baik di Mekkah maupun di selain Mekkah. Inilah pendapat yang shahih. Tidak ada hujjah bagi yang mengecualikan larangan ini dengan hadits

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah shalat (di Mekkah), orang-orang melewati beliau, ketika itu tidak ada sutrah dihadapan beliau”

karena dalam hadits ini tedapat perawi yang majhul. Adanya perawi majhul adalah kecacatan bagi hadits. Andaikan hadits ini shahih pun, maka kita bawa kepada kemungkinan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam shalat di tempat orang ber-thawaf.

Dan orang yang thawaf itu adalah orang-orang yang lebih berhak berada di tempat thawaf. Karena tidak ada tempat lain selain ini. Sedangkan orang yang shalat, dia bisa shalat di tempat lain. Adapun orang yang thawaf tidak memiliki tempat lain selain sekeliling Ka’bah, sehingga ia lebih berhak. Demikian andaikan haditsnya shahih.

Oleh karena itu Imam Al Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya memberi judul bab “sutrah di Mekkah dan tempat lainnya”. Artinya, menurut beliau hukum sutrah di Mekkah dan tempat lain itu sama” (Syarhul Mumthi, 3/248).

Dari penjelasan beliau ini juga dapat dipahami bahwa jika seseorang shalat di tempat melakukan thawaf maka boleh dilewati, karena orang yang thawaf lebih berhak untuk berada di tempat thawaf.

Yang paling bagus dalam masalah ini adalah rincian yang dipaparkan oleh Ibnu ‘Abidin rahimahullah dan sebagian ulama Malikiyyah, yaitu sebagai berikut:

Jika orang yang shalat tidak bersengaja shalat di tempat orang-orang lewat, dan terdapat celah yang memungkinkan bagi orang yang lewat untuk tidak lewat di depan orang shalat, maka orang yang lewat tadi berdosa. Sedangkan yang shalat tidak berdosa.

Jika orang yang shalat sudah tahu dan sengaja shalat di tempat orang-orang biasa lewat, sedangkan tidak ada celah yang memungkinkan untuk lewat selain melewati orang shalat, maka dalam hal ini orang yang shalat berdosa. Adapun orang yang lewat tidak berdosa.

Jika orang yang shalat sudah tahu dan sengaja shalat di tempat orang-orang biasa lewat, dan ada celah yang memungkinkan untuk lewat, maka keduanya berdosa.

Jika orang yang shalat tidak bersengaja shalat di tempat orang-orang lewat dan tidak ada celah untuk lewat, maka boleh lewat dan keduanya tidak berdosa (lihat Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 24/185).

Perlu dicatat bahwa rincian ini berlaku dalam keadaan tempat shalat yang ramai orang berlalu-lalang dan banyak orang melakukan shalat semisal Masjidil Haram.

Adapun di tempat biasa yang tidak terlalu banyak orang lalu-lalang, maka tidak ada alasan untuk melewati orang yang shalat walaupun andaikan tidak ada celah dan ia ada keperluan untuk melewatinya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan: “Tidak ada perbedaan antara orang yang punya keperluan untuk lewat atau pun tidak punya keperluan. Karena ia tidak punya hak untuk lewat di depan orang yang shalat. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ مِنَ الإِْثْمِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

“Andaikan seseorang yang lewat di depan orang yang shalat itu mengetahui dosanya perbuatan itu, niscaya diam berdiri selama 40 tahun itu lebih baik baginya dari pada lewat”

arba’in di sini artinya 40 tahun (Syarhul Mumthi’, 3/247). Maka yang patut dilakukan adalah menunggu orang yang shalat selesai.

Ibnu Rajab mengomentari hadits ini: “ini adalah dalil bahwa berdirinya seseorang selama 40 tahun untuk menunggu adanya jalan agar bisa lewat, itu lebih baik daripada lewat di depan orang yang shalat jika ia tidak menemukan jalan lain” (Fathul Baari Libni Rajab, 4/80).

Baca Juga: Jadi Mualaf, Artis ini Rela Dibenci Keluarga dan Diceraikan Suami, Namun Sekarang Kaya Raya
Apakah Shalat Menjadi Batal Dengan Adanya Sesuatu Yang Lewat?
Shalat bisa menjadi batal jika ia dilewati oleh wanita, atau keledai, atau anjing. Adapun jika yang lewat adalah selain tiga hal ini, maka tidak batal. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يَقْطَعُ الصَّلَاةَ، الْمَرْأَةُ، وَالْحِمَارُ، وَالْكَلْبُ، وَيَقِي ذَلِكَ مِثْلُ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ

“Lewatnya wanita, keledai dan anjing membatalkan shalat. Itu dapat dicegah dengan menghadap pada benda yang setinggi mu’khiratur rahl” (HR. Muslim 511)

anjing yang dimaksud adalah anjing hitam sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain:

إذا صلَّى الرَّجلُ وليسَ بينَ يدَيهِ كآخرةِ الرَّحلِ أو كواسطةِ الرَّحلِ قطعَ صلاتَه الكلبُ الأسودُ والمرأةُ والحمارُ

“Jika salah seorang dari kalian shalat, dan ia tidak menghadap sesuatu yang tingginya setinggi ujung pelana atau bagian tengah pelana, maka shalatnya bisa dibatalkan oleh anjing hitam, wanita, dan keledai” (HR. Tirmidzi).

Batalnya shalat dalam hal ini berlaku baik jika yang shalat memakai sutrah, lalu wanita, atau keledai, atau anjing lewat di antara ia dan sutrahnya, maupun tanpa sutrah namun mereka lewat di daerah sujud orang yang shalat. Namun tidak berlaku untuk makmum shalat jama’ah karena sutrah imam adalah sutrah bagi makmum, dan makmum tidak disyari’atkan untuk menahan orang yang lewat di depannya. Sehingga jika wanita, atau keledai, atau anjing lewat diantara shaf shalat jama’ah maka tidak membatalkan shalat.

Sebagian ulama berpendapat bahwa secara mutlak shalat tidak bisa dibatalkan dengan lewatnya sesuatu, sedangkan hadits di atas maksudnya batal pahala atau kesempurnaan shalatnya. Tentu saja ini merupakan ta’wil yang tidak memiliki dasar. Dan petunjuk Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adalah sebaik-baik petunjuk.

Al Lajnah Ad Daimah menyatakan: “yang shahih, lewatnya hal-hal yang disebutkan itu di depan orang yang shalat atau antara ia dan sutrahnya itu membatalkan shalatnya. Karena terdapat hadits shahih bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Lewatnya wanita, keledai dan anjing membatalkan shalat. Itu dapat dicegah dengan menghadap pada benda yang setinggi mu’khiratur rahl‘. Riwayat Imam Muslim. Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat tidak bisa batal dengan hal-hal tersebut. Namun pahalanya berkurang karena berkurangnya seluruh kekhusyukannya atau sebagian kekhusyukannya. Namun yang nampaknya lebih tepat adalah apa yang terdapat dalam hadits, sedangkan pendapat yang kedua tadi merupakan ta’wil yang tidak didasari oleh dalil” (Fatawa Lajnah Daimah, no. 6990 juz 7 hal 82).

Tapi, jika wanita, anjing hitam atau keledai lewat di depan orang yang shalat, sedangkan orang yang shalat ini sudah mencari tempat yang aman dari orang yang lewat, sudah menghadap sutrah, atau ia pun sudah berusaha menghadang dan menahan yang lewat tadi dengan sungguh-sungguh namun tetap saja bisa lolos, maka shalat tidak batal.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menyatakan: “(jika wanita lewat) secara zhahir shalatnya batal, dan wajib diulang. Namun menurut saya, ada sesuatu yang kurang tepat dalam pendapat ini. Karena seorang yang melakukan shalat, ketika ia sudah melakukan apa saja yang diperintahkan oleh syari’at, lalu datang perkara yang bukan atas kehendaknya, dan ini pun bukan karena tafrith (lalai) ataupun tahawun (menyepelekan), bagaimana mungkin kita mengatakan ibadahnya batal karena sebab perbuatan pihak lain? Karena yang berdosa adalah yang lewat. Adapun jika hal itu terjadi karena menyepelekan atau lalai sebagaimana dilakukan kebanyakan orang, maka shalatnya batal tanpa keraguan” (Syarhul Mumthi’, 3/239). Inilah pendapat yang kami anggap sebagai pendapat yang lebih pertengahan dalam hal ini.

Mungkin ada yang bertanya, “bagaimana dengan wanita? apakah shalat seorang wanita batal jika dilewati wanita lain?”. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah ditanya pertanyaan serupa, beliau menjawab: “iya, batal. Karena tidak ada perbedaan hukum antara lelaki dan wanita kecuali ada dalil yang menyatakan berbeda hukumnya. Namun jika wanita tersebut lewat di luar sutrah jika ada sutrah, atau di luar sajadah jika shalatnya pakai sajadah, atau di luar area sujud jika tidak pakai sutrah dan sajadah, maka ini tidak mengapa dan tidak membatalkan” (Majmu’ Fatawa war Rasail Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin, 13/318).

Hukum Menghalangi Orang Lewat
Disyariatkan bagi orang yang shalat untuk menahan atau menghalangi orang yang lewat di depannya. Baik ia memakai sutrah maupun tidak. Dalilnya hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka perangilah ia, karena sesungguhnya ia adalah setan” (HR. Al Bukhari 509)

Sebagian ulama berdalil dengan mafhum hadits ini, bahwa yang disyariatkan untuk menahan orang yang lewat adalah jika shalatnya memakai sutrah. Pendapat ini tidak tepat karena dalam riwayat yang lain Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk menghalangi orang yang lewat secara mutlak.

إذا كان أحدُكم يصلِّى فلا يدعُ أحدًا يمرُّ بين يدَيه . وليدرَأْه ما استَطاع . فإن أبى فلْيقاتِلْه . فإنما هو شيطانٌ

“Jika seorang di antara kalian shalat, jangan biarkan seseorang lewat di depannya. Tahanlah ia sebisa mungkin. Jika ia enggan ditahan maka perangilah ia, karena sesungguhnya itu setan” (HR. Muslim 505. 506).

Namun para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menahan orang yang lewat ketika sedang shalat, apakah wajib atau tidak? Karena lafadz-lafadz hadits mengenai hal ini menggunakan lafadz perintah, yaitu فليدفَعْهُ (cegahlah) dan وليدرَأْه (tahanlah) atau semacamnya, maka pada asalnya menghasilkan hukum wajib. Ini adalah salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad. Lebih diperkuat lagi wajibnya karena diperintahkan untuk memerangi orang yang enggan dicegah untuk lewat (lihat Syarhul Mumthi’, 3/244).

Sedangkan jumhur ulama berpendapat hukumnya sunnah karena sibuk menahan orang yang lewat dapat menghilangkan tujuan dari shalat yaitu khusyuk dan tadabbur. Selain itu juga adanya perbedaan hukum melewati orang yang shalat, sebagaimana telah dijelaskan, mengisyaratkan tidak wajibnya menahan orang yang lewat. Ini adalah pendapat Syafi’iyyah, Malikiyyah, Hanafiyyah (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 24/187) dan serta pendapat mu’tamad madzhab Hambali (Syarhul Mumthi’, 3/243).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin memaparkan kompromi yang bagus antara yang mewajibkan secara mutlak dengan yang mensunnahkan secara mutlak: “Dapat kita bawa kepada kompromi berikut: perlu dibedakan antara lewat yang membatalkan shalat dengan yang tidak sampai membatalkan shalat. Jika lewatnya tersebut membuat shalat batal, maka wajib ditahan. Namun jika tidak sampai membatalkan shalat, maka tidak wajib (sunnah) untuk ditahan. Karena dalam kondisi ini, adanya yang lewat tersebut maksimal hanya membuat shalat kurang sempurna, tidak sampai membatalkan. Berbeda halnya jika adanya yang lewat tadi dapat membatalkan shalat. Lebih lagi jika shalatnya adalah shalat fardhu, jika anda membiarkan sesuatu lewat hingga membatalkan shalat anda sama saja anda sengaja membatalkan shalat. Dan hukum asal membatalkan shalat fardhu adalah haram” (Syarhul Mumthi’, 3/245).

Cara Menahan Orang Yang Lewat
Sebagaimana hadits yang telah disebutkan, disebutkan cara menahan orang yang lewat adalah

وليدرَأْه ما استَطاع . فإن أبى فلْيقاتِلْه

“Tahanlah ia sebisa mungkin. Jika ia enggan ditahan maka perangilah ia”

Maksudnya ketika lewat pertama kali, maka tahanlah dengan cara yang ringan namun cukup untuk menahannya. Jika ia berusaha untuk lewat kedua kalinya, maka tahanlah dengan lebih bersungguh-sungguh. Sebagaimana perbuatan seorang sahabat Nabi, Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu:


“aku (Abu Shalih; perawi hadits) ketika itu bersama yang Abu Sa’id sedang shalat pada hari Jum’at dengan menghadap sutrah. Kemudian datang seorang pemuda dari Bani Abi Mu’yath hendak lewat di depan beliau. Kemudian beliau pun menahannya di lehernya. Lalu pemuda itu melihat-lihat sekeliling, namun ia tidak melihat celah lain selain melewati Abu Sa’id. Sehingga pemuda itu pun berusaha lewat lagi untuk kedua kalinya.

Abu Sa’id lalu menahannya lagi pada lehernya namun lebih sungguh-sungguh dari yang pertama. Akhirnya pemuda itu berdiri sambil mencela Abu Said.

Setelah itu dia memilih untuk membelah kerumunan manusia. Pemuda tadi pergi ke rumah Marwan (gubernur Madinah saat itu). Ia menyampaikan keluhannya kepada Marwan. Lalu Abu Sa’id pun datang kepada Marwan. Lalu Abu Sa’id pun datang kepada Marwan.

Marwan bertanya kepadanya: ‘Apa yang telah kau lakukan kepada anak saudaramu sampai-sampai ia datang mengeluh padaku?’ Lalu Abu Sa’id berkata, aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah di lehernya. jika ia enggan dicegah maka perangilah ia, karena sesungguhnya ia adalah setan’” (HR. Muslim 505)

dalam riwayat lain:

“dari Abu Sa’id, ia pernah shalat lalu anaknya Marwan lewat di depannya, ia pun memukulnya. Marwan setelah kejadian itu bertanya kepada Abu Sa’id: ‘Apakah engkau memukul anak saudaramu?’. Abu Sa’id berkata: ‘Tidak, aku tidak memukulnya. Yang aku pukul adalah setan’”.

Ishaq bin Ibrahim pernah melihat Imam Ahmad shalat, ketika ada yang hendak lewat di depannya, beliau menahannya dengan lembut. Namun ketika orang itu mencoba lewat lagi, Imam Ahmad menahannya dengan keras (Fathul Baari Libni Rajab, 4/83).

Ibnu ‘Abdil Barr menjelaskan makna فليقاتِلْه (perangilah ia) beliau berkata”maksudnya adalah menahan. Dan menurutku makna perkataan ini bukanlah melakukan kekerasan, karena segala sesuatu itu ada batasnya”. Beliau juga berkata: “para ulama bersepakat maksudnya memerangi di sini bukanlah memerangi dengan pedang (senjata), dan tanpa menoleh, dan tidak sampai pada kadar yang membuat shalatnya batal” (Fathul Baari Libni Rajab, 4/84).

Para ulama juga bersepakat bahwa hendaknya cara yang digunakan untuk menahan orang yang shalat itu bertahap, dimulai dari yang paling ringan dan lembuat setelah itu jika berusaha lewat lagi maka mulai agak keras dan seterusnya (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 24/187).

Adapun mengenai makna فإنما هو شيطانٌ (sesungguhnya orang yang lewat di depan orang shalat adalah setan), ada dua tafsiran dari para ulama:

Orang tersebut disertai dan ditemani setan yang setan ini memerintahkan dia untuk melewati orang shalat. Ini pendapat yang dikuatkan Abu Hatim. Sebagaimana dalam sebagian riwayat dikatakan:
فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ

“karena bersamanya ada qarin (setan)”

Perbuatan melewati orang shalat adalah perbuatan setan, sehingga orang ini adalah setan berbentuk manusia. Ini adalah pendapat Al Jurjani. (lihat Fathul Baari Libni Rajab, 4/88)

Demikian risalah singkat mengenai sutrah shalat. Semoga dengan mengetahui fiqih mengenai sutrah, kaum Muslimin dapat lebih menjaga dan meningkatkan kualitas shalatnya, sehingga shalat tidak hanya sekedar gerakan bungkuk-berdiri. Melainkan sebuah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menggapai ridha-Nya. Wallahu waliyyut taufiq.

Sumber  : http://www.wajibbaca.com/2017/05/penting-ini-hukum-lewat-di-depan-orang.html

3 Bentuk Godaan Setan Jelang Pernikahan, Yang Mau Nikah Harus Waspada

Pernikahan tentu menjadi momentum yang sangat ditunggu-tunggu bagi semua orang. Tidak hanya calon mempelai, keluarga juga turut bahagia dengan salah satu proses kehidupan yang akan dilalui ini.

Namun setan begitu benci jika ada manusia memutuskan menikah. Bahkan, mereka akan melakukan segala cara agar pernikahan tidak terjadi. Salah satu yang diutus untuk menghalang-halangi pasangan yang akan menikah adalah setan A’war.


Tidak heran jika ada pasangan yang sudah mantap menikah harus batal dan kandas ditengah jalan. Untuk mengantisipasinya manusia perlu mengetahui bentuk godaan yang dilakukan oleh setan. Seperti apa? Berikut ringkasannya.

1. Menumbuhkan Rasa Ragu
Diantara pasangan yang sudah menikah pasti pernah berfikir “Jadi menikah dengan dia atau tidak”, “Apakah nantinya dia bisa membahagiakan saya?”, “Apakah dia orang yang tepat” dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya. Tidak dipungkiri ada orang yang awalnya mantap menikah kemudia memutuskan untuk membatalkannya karena keragu-raguan ini.

Ternyata sifat ragu adalah tipu daya setan. Mereka menumbuhkan perasaan ragu agar calon mempelai bimbang dan memutuskan untuk tidak menikah. Rasulallah saw pernah bersabda, bahwa rasa was-was itu, rasa takut dan khawatir yang berlebihan datangnya dari setan yang dihembuskan oleh setan melalui hawa nafsu untuk menghambat manusia beribadah kepada Allah SWT dalam urusan pernikahan.

BACA JUGA : 3 'Fakta' Kenapa Wanita Jaman Sekarang Nggak Nikah - Nikah!

Sejatinya setan akan menjerumuskan manusia kepada hal-hal zina, sehingga ketika keraguan ini muncul, dan memutuskan membatalkan pernikahan, maka setan berhasil menjerumuskan mereka ke dalam lubang perzinan. Misalnya mereka kembali mencari calon mempelai lagi dengan jalan berpacaran dan sebagainya.

2. Mendadak ‘Laris Manis’
Godaan setan selanjutnya adalah menumbuhkan rasa dihati calon mempelai bahwa mereka banyak yang suka. Baik calon mempelai laki-laki atau perempuan merasa seolah-olah banyak orang lain yang  seolah-olah menyukai atau jatuh cinta padanya.

Biasanya perasaan ini muncul ketika keputusan pernikahan sudah diambil. Setan pun melancarkan serangannya dengan menghadirkan perasaan tersebut. Tidak sedikit laki-laki atau perempuan yang menuruti godaan ini, hingga sampai menjalin hubungan hati dengan laki-laki atau perempuan lain.

Biasanya calon pengantin akan mulai membanding-bandingkan calon istri atau suaminya dengan orang baru tersebut. Celakanya jika orang baru ini agresif maka mereka akan lebih mudah untuk mendapatkan hati calon mempelai.

Memang, laki-laki atau perempuan yang akan menikah biasanya   memancarkan aura bahagia dari dalam jiwanya. Hal inilah yang membuat orang lain menjadi tertarik  bahkan jatuh cinta kepadanya, padahal ia sudah tinggal menunggu waktu untuk melaksanakan pernikahan.

Tidak heran jika ada pasangan yang sudah mempersiapkan hari H namun menikahnya dengan orang lain. Setan akan masuk ke dalam diri manusia melalui pintu hasud dan rakus. Manusia akan dibuat tidak akan pernah puas dengan apa yang Ia dapatkan saat ini.Ketika ada yang lebih tampan, cantik, dan kaya, maka calon mempelai yang lemah imannya akan mudah tergoda. Padahal bisa saja hal itu tampak di awal saja.

3. Memperlihatkan Kekurangan dan Kelemahan Pasangan
Jelang pernikahan,  setan juga akan memperlihatkan kekurangan dan kelemahan calon suami atau istri. Sedikit saja masalah akan memicu kemarahan besar, bahkan berujung fatal hingga membatalkan pernikahan. Marah menimbulkan kekacauan pikiran. Jika seseorang marah, setan akan mempermainkannya seperti anak kecil yang memainkan bola.

Padahal tidak ada manusia yang sempurna. Dengan siapa pun kita akan menikah, pasti mereka juga memiliki kekurangan. Kekurangan pasangan sejatinya kekuranganmu yang harus ditutupi. Ini adalah tipu daya setan yang menyesatkan. Sehingga mereka tertawa bahagia ketika pasangan yang akan membangun rumah tangga membatalkan pernikahannya

Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/05/3-bentuk-godaan-setan-jelang-pernikahan.html

Sulit Mendapatkan Kebahagiaan? Simaklah Kisah Lebah dan Lalat Ini

Mengapa lebah cepat menemukan bunga? Mengapa lalat cepat menemukan kotoran?

Karena naluri lebah hanya menemukan bunga. Sedangkan naluri lalat hanya menemukan kotoran. Lebah tidak tertarik pada kotoran, lebah tertarik pada harum dan keindahan bunga. Alhasil lebah kaya akan madu. Sedangkan lalat kaya kuman penyakit.


Lalu, mengapa ada orang yang menjadi jahat dan ada orang menjadi baik? Orang jahat tidak tertarik pada hal-hal yang baik, sebaliknya pada hal-hal yang jahat dan menyakitkan: bohong, permusuhan, gosip, dan emua hal-hal jahat. Orang baik ialah orang yang tidak tertarik akan hal-hal buruk.

Hidup ini sangat tergantung dengan hati dan pikiran. Apa yang dipikirkan, menghasilkan yang dilihat. Apa yang dilihat menghasilkan yang diperoleh.

Jika hati dan pikiran selalu negatif maka apa saja yang dilihat akan selalu negatif. Hasilnya adalah penderitaan, sakit hati, kecewa, iri hati, dan sirik.

Bagaimana bila ingin berhasil dan ingin bahagia? Miliki hati dan pikiran yang selalu positif, maka apa saja yagn dilihat akan selalu positif dan hasilnya adalah kebahagiaan.

Jika kita seperti lebah yang menghasilkan madu, maka orang-orang di sekeliling kita juga akan mencicipi manisnya. Tapi jika kita seperti lalat, maka kuman yang kita tebarkan akan mencelakakan orang lain.

Ciptakan positive thinking di setiap kita bangun tidur.

Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/05/sulit-mendapatkan-kebahagiaan-simaklah.html

Inilah Wajah Misterius yang Hadir dalam Mimpi Ribuan Orang

Ada sebuah wajah dari seseorang yang katanya kerap muncul di mimpi ribuan orang seluruh dunia dan inilah wajah misterius yang hadir dalam mimpi ribuan orang yang ingin dilihat oleh banyak orang juga.

Wajah misterius yang katanya banyak muncul dalam mimpi orang-orang di luar sana telah dibuat dalam sebuah sketsa dan tentunya hal ini pun membuat rasa penasaran meningkat.


Sebuah situs dengan sengaja mempublikasikan wajah orang tersebut dan ada banyak respon yang rupanya didapatkan terlepas dari benar tidaknya wajah ini pernah muncul dalam mimpi banyak orang.

Sebuah situs ternyata telah membuat dan memposting sketsa wajah yang disebut-sebut ada dalam banyak mimpi orang dan yang membuat penasaran bukanlah hanya wajah misterius itu sendiri atau wajah seorang pria atau wanita.

BACA JUGA : Mendadak Lihat Postingan 'Hot' Ketika Puasa, Apakah Batal?

Tapi juga dari manakah informasi mengenai hal ini bisa situs itu dapatkan sehingga dapat menyimpulkan dan menggambar sebuah sketsa wajah.

Kita tidak pernah tahu kebenaran dari wajah misterius yang telah dibuat sketsanya itu, dan lebih-lebih kita juga tidak tahu kebenaran apakah wajah seseorang tersebut memang benar-benar banyak muncul di mimpi orang-orang. Hal-hal inilah yang bakal kita bahas dan dapatkan jawabannya.

Wajah misterius dalam mimpi banyak orang itu adalah sebuah wajah seorang laki-laki dan mengapa sampai situs itu bisa mendapatkan informasi gambaran wajah tersebut?

Ternyata, itu bisa terjadi karena setiap pengakses situs diminta untuk memberitahukan info terkait apakah mungkin wajah pria itu kiranya pernah muncul dalam mimpi mereka.

Menurut kabarnya, sketsa wajah pria itu memang telah banyak muncul dalam mimpi ribuan orang di seluruh belahan dunia dan untuk alasan inilah banyak yang kemudian ingin melihat atau bahkan memastikan.

Ada yang mungkin mengakses karena rasa penasaran saja, tapi mungkin ada juga yang berniat untuk memastikan apakah dirinya pernah memimpikan orang itu, oleh karena itu tidaklah heran kalau situs tersebut langsung diserbu.

Misteri sesosok wajah yang muncul di mimpi ribuan orang yang dipajang melalui sketsa itu membuat situs yang memublikasikan menjadi terkenal sehingga tidak dapat terhindarkan lagi padatnya trafik aksesnya.

Disebutkan pula di situs tersebut, sketsa wajah seorang laki-laki misterius itu ternyata dibuat oleh seorang perempuan pertama kali sekitar 3 tahun yang lalu tepatnya waktu ia dalam proses sesi terapi dengan seorang psikiater.

Dijelaskan oleh perempuan tersebut bahwa wajah pria itu bisa muncul berkali-kali dalam mimpinya. Seperti itulah laporan yang dikutip dari Big News Networks, jadi bisa dibilang perempuan itulah yang menggambar namun ia sama sekali tidak tahu siapa pria tersebut.

Pernah memimpikan pria misterius ini juga? Dalam keterangan yang dikutip tersebut pulalah si perempuan yang menggambar sketsa wajah si pria misterius mengaku belum pernah bertemu apalagi melihat pria tersebut secara langsung sebelumnya.

Yang membuat aneh di sini adalah seorang pasien lainnya mengakui bahwa ia pun pernah melihat wajah tersebut di dalam mimpinya. Waktu gambar tersebut dikirimkan oleh si psikiater ke rekan-rekannya, ternyata beberapa pasien rekannya ini pun merasa pernah melihat wajah misterius sang pria.

Hanya butuh dua minggu saja situs yang memajang sketsa tersebut langsung penuh dengan pengunjung yang berjejalan untuk melihat dan seketika itu juga menjadi sebuah fenomena.

Banyak yang ingin membuka situs itu tapi mengaku tidak bisa dan mungkin itu dikarenakan banyaknya orang yang masuk ke situs itu sehingga kepadatan trafik akses meningkat. Inilah wajah misterius yang hadir dalam mimpi ribuan orang yang juga dikatakan sebagai sebuah sensasi belaka.

Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/05/inilah-wajah-misterius-yang-hadir-dalam.html

NGERI! Niat Ingin Foto Bersama, Pasangan Ini Tewas Diseret Ombak

Laut memang menjadi tempat paling indah, apalagi di pantai. Namun, laut akan menjadi sangat menyeramkan saat ombaknya sangat besar. Tak hanya seram saja, tapi juga bisa menghancurkan apa saja di depannya, termasuk juga manusia.


Oleh karena itu, Sebaiknya jangan sesekali berani mendekati laut ketika sedang badai karena ombaknya sangat besar dan bisa menyeret Anda sampai ke tengah laut.

Tapi apa yang dilakukan sepasang kekasih ini semoga jadi pelajaran buat kita semua. Pasangan itu nekat melakukan foto bersama di sisi pantai saat badai sedang melanda. Akibatnya mereka tak sadar ada ombak besar menghampiri mereka kemudian menyeret mereka ke tengah laut.

Dilansir Danified, pasangan itu dilaporkan tewas terbawa ombak di pantai dekat Desa Rio Das Ostras Blue di Rio de Janerio, Brazil. Detik-detik saat pasangan itu terseret ombak bahkan sempat terekam video oleh salah seorang temannya. Video ini kini sudah tersebar luas di media sosial.

Dalam video berdurasi 35 detik itu tampak satu perempuan dan satu laki-laki diseret ombak saat mereka sedang melakukan foto bersama di bebatuan yang jadi area hantaman ombak. Pasangan itu terlihat tidak berdaya ketika tubuh mereka diseret ombak.


Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/05/ngeri-niat-ingin-foto-bersama-pasangan.html

Ini Ciri-ciri Orang yang Rugi, Gara-gara gagal Dapatkan Ampunan di Bulan Suci

Tiada bulan yang paling istimewa daripada Bulan Ramadhan. Disinilah kita bisa merasakan nikmat berpuasa, nikmat berbuka, dilipat gandakan kebaikan kita dan diampuni dosa-dosa kita.



BACA JUGA: Ini Tandanya Puasa Kita Diterima Atau Malah Ditolak Oleh Allah SWT

Oleh karena itu, banyak orang yang berlomba-lomba untuk mendapatkan keberkahan tersebut. Namun, tidak semua orang bisa menghapus dosanya di bulan suci ini. Mereka gagal untuk meraih ampunan Allah SWT. Hal ini mungkin bisa terjadi karena 4 hal ini, seperti yang dikutip dari infoyunik.

1. Puasa Tanpa Dasar Ikhlas
Penyebab pertama yang membuat seseorang gagal untuk meraih ampunan dari Allah SWT selama bulan suci Ramadhan dikarenakan mereka melaksanakan puasa tanpa dasar ikhlas. Padahal seperti yang diketahui bahwa ketika kita melaksanakan amalan kebaikan haruslah didasari keikhlasan untuk mengharapkan ridha dari Allah SWT.

Apabila Ia berpuasa namun tanpa keikhlasan untuk mengharap ridha dari Allah maka akan mudah baginya terjerumus ke dalam sifat riya’. Contoh ketidakikhlasan dalam melaksanakan puasa itu bisa dilihat dari niatnya. Ada orang yang ingin melaksanakan puasa agar badannya sehat, untuk diet dan lain sebagainya. Niatan yang seperti ini akan membuat Allah SWT menolak amalan yang dilakukan orang tersebut karena bukan atas dasar keikhlasan kepada-Nya.

2. Puasa Tanpa Dasar Ilmu
Hal kedua yang juga dapat menyebabkan seseorang gagal mendapatkan ampunan dari Allah ketika bulan suci yakni mereka berpuasa tanpa dasar ilmu. Padahal sebenarnya ilmu menjadi salah satu hal penting yang harus diperhatikan ketika hendak melaksanakan suatu amalan.

Apabila melakukan sesuatu tanpa didasari ilmu, bisa saja hal yang kita anggap benar justru merupakan kesalahan yang fatal di hadapan Allah SWT. Ada banyak tempat yang bisa dijadikan wadah untuk menuntut ilmu, seperti sekolah, majelis taklim, buku-buku keagamaan dan lain sebagainya. Apabila kita telah mengetahui ilmunya maka akan mudah untuk mendapatkan ampunan sebanyak-banyaknya dari Allah SWT.

3. Puasa Lahir Penuh, tapi Puasa Batin Nol
Penyebab selanjutnya yang membuat seseorang gagal memperoleh ampunan dari Allah SWT di bulan Ramadhan adalah karena mereka hanya puasa secara lahir namun batinnya tidak. Artinya mereka berpuasa hanya sekedar menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan badan. Akan tetapi mereka tidak mempuasakan anggota tubuh lainnya dan membiarkannya tetap melakukan perbuatan yang bernilai maksiat.

Seseorang yang hendak mempuasakan batinnya juga harus menahan pandangan, pendengaran, ucapan yang tidak bermanfaat. Seperti menyaksikan acara televisi yang berisi program-progam tidak mendidik, mendengarkan gosip dan lain sebagainya yang bisa mengurangi pahala puasa.

4. Puasa Dengan Bermalas-Malasan
Banyak orang yang bermalas-malasan ketika sedang melaksanakan ibadah puasa. Mereka menjadikan puasa sebagai waktu yang tepat untuk berleha-leha, lesu, dan tidak bersemangat. Padahal kebiasaan seperti ini justru menyebabkan dirinya akan mengalami kegagalan untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

Seperti yang diketahui bahwasaya bulan Ramadhan menjadi saat yang tepat untuk meraup keberkahan dari Allah. Seharusnya, moment seperti ini menjadi saat yang tepat agar kita termotivasi untuk mengais rahmat ampunan dan janji-janji Allah lainnya.

Perbanyaklah melakukan amala kebaikan seperti tilawah Al-Qur’an, tarawih, bersedekah dan menolong orang lain katika berpuasa. Dengan demikian akan membuat puasa yang kita laksanakan lebih terasa berkah.

Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/05/ini-ciri-ciri-orang-yang-rugi-gara-gara.html

[Viral] Video Bayi Baru Lahir Langsung Bisa Jalan Dengan Tali Pusar Masih Menempel

Melihat perkembangan seorang bayi menjadi hal yang menyenangkan bagi seti orangtua.
Melihat mereka berkembang dari hanya tidur hingga bisa berjalan dengan kaki mereka sendiri.

Biasanya butuh beberapa bulan hingga seorang bayi bisa berjalan.

Hal ini nggak berlaku untuk bayi yang satu ini.

Akun Facebook Arlete Arantes mengunggah video bayi berjalan ini pada Jumat (26/5/2017).

Hanya dalam tiga hari, video ini telah ditonton lebih dari 71 juta.

Serta mendapat like 332 ribu, sudah satu juta akun membagikan ulang video ini.

Bukan sembarang bayi berjalan, tapi bayi ini baru saja lahir, tali pusarnya aja masih menggantung, pada video berdurasi 41 detik ini terlihat bayi tampak berjalan.

Seorang perawat memegang bayi tersebut, perlahan-lahan bayi tersebut berjalan hingga jarak kurang lebih setengah meter lho.

Padahal bayi tersebut baru aja lahir, Hal yang menarik lagi adalah ketika bayi tersebut hendak ditidurkan.
Bayi tersebut malah berontak dan kembali berjalan, luar biasa banget.

Langsung aja lihat videonya.


Bikin Nangis, Miris Melihat Seorang Ibu Tega Injak Tubuh Mungil Anaknya Karena Sepotong Sosis

Ibu mana yang tak cinta pada anaknya? Mungkin, jawabanya tidak ada.
Ibu mengandung sembilan bulan akan memiliki ikatan batin yang kuat dengan anaknya, bahkan, seorang ibu rela melakukan apa saja untuk anaknya, agar tidak kelaparan.


Begitu juga dengan seorang ibu yang ada di China ini, Huang, ibu muda berumur 36 tahun tak kuasa menahan beratnya hidup. Ibu muda ini stres lantaran sulit mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan uang. Sayangnya, Huang melampiaskan rasa frustasinya kepada anak balitanya.

Tentu tindakan ini sangat tidak dibenarkan, Huang kedapatan menginjak anaknya di depan umum.
Seorang saksi mata dan pihak kepolisian menyatakan Huang telah menginjak putrinya sendiri.
Kejadian ini terjadi di depan umum, orang-orang yang menyaksikan aksi Huang mencoba menyelamatkan anaknya.

Tapi tindakan itu justeru membuat Huang makin marah demi keamanan sang anak, orang-orang menyerahkan Huang ke kantor polisi, Seperti dilansir Straits Times, Huang bercerita bahwa pada mulanya ia membelikan anaknya sepotong sosis.

Tapi, rupanya sang anak tidak menyukai rasa sosis tersebut, Sang anak malah memutahkan sosis dari dalam mulutnya, Padahal, uang untuk membeli sosis itu adalah uang terakhirnya.

Huang mengaku rela menahan lapar demi membeli sosis untuk anaknya kepada polisi, Huang mengaku rela tidak memakan apapun, Pengorbanan itu, menurut Huang, rasa cintanya pada sang anak.

Hari itu, untuk kesekian kalinya Huang gagal mendapatkan pekerjaan, Di kantor polisi Huang bercerita, selama ini dirinya hidup menggelandang, Huang pergi dari rumah setelah bercerai dengan suaminya.


Masing-masing membawa satu anak dari hasil pernikahan mereka, Selama hidup di jalanan, Huang bersma balitanya, Mencari pekerjaan adalah hal sulit bagi Huang.

Setiap kali ia melamar pekerjaan, tempat pekerjaan itu selalu menolaknya, setelah melihat anaknya.
Jika Huang sedang stres seperti itu, sering kali dilampiaskan kepada anaknya.

Huang juga mengaku dirinya menderita post partum depression yang berat setelah melahirkan anaknya, Namun, ia berkata sangat mencintai anaknya, dan rela melakukan apapun agar anaknya bisa makan.

Video kelakuan Huang pun viral di media sosial yang dikutip dari style.tribunnews.

Beragam reaksi netizen mengecam aksi itu, pun begitu dengan sang mantan suami Huang.
Suami Huang murka setelah melihat video itu dan berniat untuk mengambil hak asuh atas anaknya.

"Mengemis" Untuk di "Like" Ternyata Ini Modus Dari Postingan Yg Sering Minta Di Like

Kamu pasti sudah sering melihat postingan di Facebook yang memperlihatkan foto-foto orang-orang yang tengah terluka, atau foto orang-orang yang meninggal dalam kondisi mengenaskan, orang yang memiliki kekurangan fisik, dan sebagainya. Di akhir postingan tersebut biasanya sang pemilik Facebook “mengemis” untuk di “like” atau dikomentari dengan kata “amin”.
Bahkan ada yang sedikit bernada ancaman dengan mengatakan,”Yang bilang amin akan masuk surga, yang tidak peduli dengan tidak memberikan like akan mendapatkan musibah.” Alhasil, foto tersebut pun mendapatkan ribuan “like” dan juga “amin”. Apakah kamu termasuk orang yang memberikan “like” tanpa memikirkan apa keuntungannya buat si yang punya Facebook?



Sebelum memberikan “like” atau komentar dalam postingan serupa lagi, maka sebaiknya kamu mendengar cerita dari seorang netizen bernama Didik Nugroho berikut ini. Dalam cerita yang kini tengah viral di Facebook dijelaskan bahwa Didik telah berhasil menjebak admin Facebook yang doyan men-share postingan-postingan minta di like.

“Si Didik ini berpura-pura hendak membeli akun Facebook tersebut seharga Rp15 juta. Ia kemudian menscreenshot percakapan mereka, dan membagikannya ke medsos agar netizen lebih waspada dan nggak sembarang ngasih jempol lagi,” tulis sebuah postingan yang kini tengah viral di Facebook seperti yang dikutip dari planet.merdeka.com.



Dijelaskan Didik bahwa komentar yang ada di dalam Facebook tersebut memang tidaklah penting karena yang lebih penting dari itu semua adalah jumlah “like” yang ada dalam satu foto karena jumlah tersebutlah yang akan menentukan berapa banyak uang yang akan didapat oleh si pemilik Facebook. Biasanya setiap 100.000 “like” yang di dapat oleh satu postingan akan dihargai sekitar Rp2 juta.

Jadi bisa kamu bayangkan berapa harga satu akun Facebook jika setiap postingannya memiliki lebih dari 100.000 “like”. Nantinya akun Facebok tersebut bisa dijual, nah, postingan yang sudah mendapatkan banyak “like” itu biasanya akan diganti dengan foto-foto barang dagangan alias produk iklan, sehingga seolah-olah produk tersebut terlihat disukai oleh banyak orang. Mulai sekarang sebaiknya jangan sembarangan kasih “like”.

Renungan Untuk Istri, Untuk Suami Pekerja Keras, Terima Kasih Selalu Kuat Bertahan

NASIHAT UNTUK PARA ISTRI

Saat kau sudah menjadi istri, sesekali pandanglah wajah suamimu ketika ia terlelap.
Itulah orang yang tiada hubungan darah dengan mu namun tetap terus berusaha mencintaimu.

Sesekali saat suami pulang bekerja atau dari tempat usahanya, pandang wajahnya, cium tangannya.

Itulah tangan yang bekerja keras mencari rizki untuk menafkahi dirimu dan anak-
anakmu.

Padahal, sebelum akad nikah ia tak punya hutang budi terhadapmu.

Bahkan ia mempunyai hutang budi terhadap Ibu bapaknya.

Ia memilihmu sebelum ia sempat membalas seluruh hutang budi kedua orang tuanya.

Sesekali saat kau berdua dengannya, lihatlah suamimu, pandanglah wajahnya dengan penuh sayang.

Untuk Suami Pekerja Keras, Terima Kasih Selalu Kuat Bertahan

Suara pintu digedor membuatku tersadar dari tidur ayam siang-siang di sofa. Bunyi dentuman itu masih berulang terus, barulah aku sadar bukan rumah ini yang digedor. Aku memberanikan diri ke luar untuk melihat rumah siapa yang sedang digedor hingga seperti itu.

Sebelah rumah, tempat sepasang suami-istri kaya tinggal bersama anak-anaknya, dipenuhi oleh orang-orang kekar berbaju hitam. Mereka yang kekar itu berteriak dengan garang, mengancam si empunya rumah membuka pintu atau mereka akan mendobrak dan merusak apa yang ada.

Dua menit, tiga menit, tak ada jawaban. Aku berpandangan dengan tetangga seberang rumah yang juga menyembul kepalanya dari balik pintu rumahnya akibat berisik-berisik ini. Suasana mendadak tegang, terlebih ketika pemilik rumah tidak kunjung keluar dan orang-orang kekar itu mulai berteriak lagi.

Pintu rumah sebelah akhirnya benaran didobrak. Di dalam ternyata ada orang, terdengar jerit-jerit kaget, memelas dan mengucap beragam alasan untuk membayar hutang.

Orang kekar menyebut jumlah hutang dengan lantang. 700 juta rupiah. Aku membelalak bersamaan dengan tetangga seberang, tak menyangka keluarga kaya itu memiliki hutang sedemikian fantastis.

“Neng?”

Suamiku menyapa dari luar, mungkin keheranan aku tak menunggunya di depan pintu seperti biasa.

Aku di kamar, menyeka pipi yang basah. Baru mau ke ruang tamu, suamiku sudah duluan sampai di depan kamar.

Aku menggigit bibir bertatapan dengannya. Mataku panas, hidungku mungkin sudah memerah. Dengan lirih aku bersuara, “Bang, makasih udah ikhlas berjuang nyari nafkah selama ini.”

Tadi siang sungguh mengerikan. 700 juta rupiah bisa membuat orang kalap, rupanya. Sementara di luar mulai ramai tetangga lain berkumpul, di dalam rumah sebelah tak kalah ramai benda-benda dihancurkan, segala vas, gelas dan piring kristal yang sinarmya selalu menyilaukan tiap lewat rumahnya itu, sudah tak lagi bisa membela dan membanggakan pemiliknya. Pecah dibanting ke lantai, berkeping-keping.

4 orang anak yang semuanya perempuan, menangis jejeritan. Mungkin dijambak rambutnya, dirontokkan perhiasan emas dan mutiara dari badan montok mereka.

“Gue jadiin ini sebagai jaminan! Kalo Ibu lu nggak bayar-bayar, gue sita nih rumah!” seorang kekar berteriak mengancam.

Tak ada yang menolong 4 anak perempuan itu hingga kericuhan reda, menyisakan tangisan dan ratapan yang melengking memilukan. Tak ada Pak RT atau polisi sempat datang.

Keluarga itu, apalagi Ibu mereka, terlalu angkuh untuk dibantu, terlalu banyak menyakitkan para tetangganya yang dianggapnya miskin-miskin dan menjijikkan, jadi tak ada yang sudi memanggil polisi.

Lalu, Pak RT? Hingga kemarin, Ayah dari keluarga itulah yang menjadi RT di sini. Dia baik, tampangnya memelas dan menderita. Hanya saja dia memelihara seorang lintah perempuan menjadi istrinya, jadi dia tak mendapat kasihan dari warganya sendiri, karena mengurus KTP saja harus rumit kalau tak punya uang, karena perempuan lintah itu. Warga menyesal sudah memilih keluarga itu mengurus lingkungan. Kemarin malam setelah bertengkar dengan istrinya, Pak RT yang selalu hidup di bawah perintah istrinya itu pergi, kabur entah kemana.

Aku memeluk erat anak perempuanku di tempat tidurnya, selesai membacakan dongeng. Kulapalkan doa untuknya agar tak pernah banyak tingkah nanti dewasa, tapi bersedia sederhana dan berbakti pada aku dan suamiku. Aku mematikan lampu kamar dan menutup pintu, menuju kamarku di sebelah.

Suamiku sudah terbaring lelah di ranjang kamar kami. Aku menatap kulit kusam itu, membayangkan ia berlelah-lelah di bawah matahari sebagai tukang kue semprong.

Aku menyeka butiran air di ujung mata sebelum membesar, dan pecah mengalir ke pipi. Aku bersyukur. Meski sederhana dan kadang makan kadang tidak, setidaknya suamiku terus bekerja keras hingga kami tak perlu hutang sana-sini.

Aku malu, pernah kadang iri pada tetangga sebelah. Iri pada anak-anak gadisnya yang subur-subur dan cantik oleh perawatan, dihiasi emas sekujur tubuh. Aku iri, karena anak perempuanku bisa sekolah saja sudah untung.

Sekarang aku tak ingin begitu. Kaya tapi hasil hutang, hanya karena gengsi. Sekarang aku merasa cukup memiliki suami yang ikhlas bekerja keras, bertahan mencari nafkah halal untuk aku dan anak perempuannya yang sangat ia cintai, ia perjuangkan mati-matian.

Kuli dan Pekerja Keras, Bolehkah Tidak Berpuasa Karena Alasan Tidak Kuat? Ini Penjelasannya

Berpuasa tidak dimaksudkan untuk menghalangi aktivitas harian, terlebih lagi aktivitas mencari nafkah dalam memenuhi kebutuhan hidup. Pasalnya, kegiatan dalam rangka memenuhi kebutuhan dapur tidak kalah wajibnya dengan puasa Ramadhan.

Namun ketika bulan Ramadhan tiba, kondisi orang dalam keadaan beragam. Ada di antara mereka yang sehat dan segar bugar, juga muda. Ada lagi yang sudah renta, ada yang terbaring sakit, ada lagi yang dalam perjalanan, juga mereka yang pekerjaannya membutuhkan tenaga ekstra.


Perihal orang yang kesehariannya bekerja agak berat, Syekh Said Muhammad Ba’asyin dalam Busyrol Karim mengatakan,

ويلزم أهل العمل المشق  في رمضان كالحصادين ونحوهم تبييت النية ثم من لحقه منهم مشقة شديدة أفطر، وإلا فلا. ولا فرق بين الأجير والغني وغيره والمتبرع وإن وجد غيره، وتأتي العمل لهم العمل ليلا كما قاله الشرقاوي. وقال في التحفة إن لم يتأت لهم ليلا، ولو توقف كسبه لنحو قوته المضطر إليه هو أو ممونه علي فطره جاز له، بل لزمه عند وجود المشقة الفطر، لكن بقدر الضرورة. ومن لزمه الفطر فصام صح صومه لأن الحرمة لأمر خارج، ولا أثر لنحو صداع ومرض خفيف لا يخاف منه ما مر.

Ketika memasuki Ramadhan, pekerja berat seperti buruh tani yang membantu penggarap saat panen dan pekerja berat lainnya, wajib memasang niat puasa di malam hari. Kalau kemudian di siang hari menemukan kesulitan dalam puasanya, ia boleh berbuka. Tetapi kalau ia merasa kuat, maka ia boleh tidak membatalkannya.

BACA JUGA : Langsung Makan Nasi Saat Berbuka Puasa, Ini Efeknya!

Tiada perbedaan antara buruh, orang kaya, atau sekadar pekerja berat yang bersifat relawan. Jika mereka menemukan orang lain untuk menggantikan posisinya bekerja, lalu pekerjaan itu bisa dilakukannya pada malam hari, itu baik seperti dikatakan Syekh Syarqawi.

Mereka boleh membatalkan puasa ketika pertama mereka tidak mungkin melakukan aktivitas pekerjaannya pada malam hari, kedua ketika pendapatannya untuk memenuhi kebutuhannya atau pendapatan bos yang mendanainya berbuka, terhenti.

Mereka ini bahkan diharuskan untuk membatalkan puasanya ketika di tengah puasa menemukan kesulitan tetapi tentu didasarkan pada dharurat. Namun bagi mereka yang memenuhi ketentuan untuk membatalkan puasa, tetapi melanjutkan puasanya, maka puasanya tetap sah karena keharamannya terletak di luar masalah itu.

Tetapi kalau hanya sekadar sedikit pusing atau sakit ringan yang tidak mengkhawatirkan, maka tidak ada pengaruhnya dalam hukum ini.

Dengan kata lain, bagaimanapun wajibnya mencari nafkah, kewajiban puasa Ramadhan perlu dihargai. Dalam artian, kita tetap memasang niat puasa di malam hari. Kalau memang di siang hari puasa terasa berat, kita yang berprofesi sebagai pekerja berat dibolehkan membatalkannya.

Uraian ulama tersebut menunjukkan betapa mulianya ibadah puasa Ramadhan kendati mereka yang udzur tetap mendapat keringanan untuk berbuka puasa.


Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/05/kuli-dan-pekerja-keras-bolehkah-tidak.html

Mana yang Benar “Umat Islam” atau “Umat Muslim”?

Menjelang dan selama bulan Ramadhan atau puasa, pun saat hari raya Idul Fitri alias lebaran, kita akan terbiasa mendengar dan melihat ucapan-ucapan selamat.

Contohnya “Selamat menjalankan ibadah puasa kepada umat Islam” atau terkadang “Selamat menunaikan ibadah puasa kepada umat muslim”.


Terlihat sama saja? Tentu saja sebagian besar dari kita akan melihat kedua ucapan tersebut memiliki arti yang sama. Padahal, jika diperhatikan, ada penggunaan kata yang kurang tepat di dalamnya.

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata umat memiliki arti (1) ‘para penganut (pemeluk, pengikut) suatu agama; penganut nabi’ atau (2) ‘makhluk manusia’.

Maka dari itu, penggunaannya harus diikuti dengan nama agama atau nama nabi. Contohnya adalah ungkapan umat Islam atau umat Nabi Nuh.

Sementara itu, kata muslim dalam KBBI memiliki arti ‘penganut agama Islam’. Dengan demikian, jika kita menggunakan ungkapan umat Muslim, maka artinya adalah umat yang mengikuti penganut agama Islam.

Mereka, umat yang dimaksud dalam ungkapan tersebut, mengikuti orang (penganut) yang bergama Islam, bukan agamanya.

Tentu saja frasa tersebut tidaklah tepat untuk digunakan. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka ungkapan yang paling tepat adalah umat Islam bukan umat muslim.

Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/05/mana-yang-benar-umat-islam-atau-umat.html

Saat Suamiku Dalam Kekurangan Hanya Doa Yg Bisa Aku Berikan

Menjadi seorang ibu dirumah, merangkap manager pribadi dari para suami, memang bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang istri. Perlu banyak tenaga, ketelatenan dan persediaan sabar yang cukup untuk tetap stabil mengatur keuangan apalagi jika memang kenyataan tengah menempatkan kita ditengah kekurangan.


Seribu satu pemikiran yaitu campuran dari ketelitian, kreativitas, keuletan, kepuyengan dan rasa syukur di tampilkan demi tetap berputarnya ekonomi keluarga.

Memang, siapa yang dapat dengan mudah berkompromi dengan perut yang lapar?. Batin kita pun pasti tidaklah tega ketika harus mendengar rintihan suara kelaparan dan kekurangan dari anak- anak kita. Namun, marah, protes apalagi sampai memaki suami, tidaklah akan mempermudah jalan keluar, malah akan semakin menambah masalah, dan dosa pun pasti tercatat untuk kita.

Bersabar, memang bukan hal yang mudah. Dan akan terasa lebih berat terutama bila seorang istri hanya selalu dan selalu mengingat kekurangan dan kejelekan suami serta alpa nya rasa syukur terhadap apa yang telah susah payah seorang suami perjuangkan. Dan, cukuplah hadits Rasulullah shollallohu `alaihi wassalam berikut menjadi nasehat untuk kita para istri,



"Saya melihat neraka yang tidak pernah aku lihat seperti hari ini. Dan saya melihat penghuni terbanyak dari kalangan wanita." Mereka (para sahabat) bertanya, "Kenapa wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Karena pengingkaran mereka." Beliau ditanya, "Apakah karena ingkar kepada Allah?" Beliau bersabda, "Mereka membangkang dan mengingkari kebaikan suami. Jika engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang tahun, lalu ia melihat darimu sesuatu (yang tidak disukai), maka ia berkata, saya belum pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.(Riwayat Bukhari)

BACA JUGA:  Renungan Untuk Istri, Untuk Suami Pekerja Keras, Terima Kasih Selalu Kuat Bertahan

Allah akan tersenyum ketika melihat seorang istri yang selalu mendampingi suami tidak hanya saat suaminya bersuka cita. Mulianya seorang istri justru terlihat ketika dia pun setia mendampingi di saat suaminya berduka atau ditimpa kesusahan. Keteduhan jiwa sang istri akan tampak nyata ketika dia berusaha menghiburnya, dan mendorongnya untuk kembali bersemangat. Kalau bukan anda, siapa lagi. Itulah sebuah pelajaran berharga yang dicontohkan Ummul Mukminin Khadijah, yang berusaha menghibur dan menenangkan hati Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam ketika pertama kali menerima wahyu.

Memanglah seorang laki- laki diciptakan kuat untuk menghadapi tantangan yang lebih berat di luar. Merekapun dilengkapi Allah dengan rahmat logika yang lebih kuat. Namun begitu, mereka tetaplah manusia biasa. Suamipun kadang diuji dalam pekerjaannya. Misalnya usahanya bangkrut, dan orang-orang yang dulu menjalin hubungan kerja sama dengannya, banyak yang meninggalkannya. Bisa juga ia diuji dengan suatu penyakit yang cukup parah, sehingga banyak orang meninggalkannya. Sebagai seseorang yang digambarkan sebagai separuh jiwanya, seorang istri yang baik dan setia, akan tetap menemaninya, dan tidak meninggalkannya di saat orang lain berbuat demikian terhadapnya. Sebagaimana yang dialami Nabi Ayyub alaihis salam.



Nabi ayub dahulunya kaya raya, tapi Allah kemudian mengujinya dengan kemiskinan dan penyakit. Namun sang istri tetap setia dan tak kenal penat, meladeni nabi Ayub yang sedang sakit itu dengan segala kasih mesra dan dengan bersusah-payah. Segala kesakitan yang diderita Nabi Ayub, seakan-akan dia sendiri ikut menderitanya pula. Nabi Ayub tetap dihibur dan diladeninya. Hal ini  menunjukkan keimanan seorang isteri yang kuat dan teguh. Hari- hari mereka selanjutnya penuh dengan penderitaan, bahkan melonjak lagi, lebih tinggi dan lebih hebat. Penghinaan dan ejekan pun datang dari orang-orang bekas kawan dan temannva dahulu ketika Beliau masih kaya raya.

BACA JUGA: Bikin Nangis, Miris Melihat Seorang Ibu Tega Injak Tubuh Mungil Anaknya Karena Sepotong Sosis

Mereka bukan kasihan dan datang menolong, tetapi mereka keberatan bila Nabi Ayub dan isterinya tetap berada di rumahnya dan bertetangga dengan mereka. Mereka bukan hanya merasa jijik saja melihat Nabi Ayub, tetapi juga takut kalau-kalau penyakitnya yang hebat itu dapat menular kepada mereka. Dengan tidak menaruh perasaan sedikitpun, mereka mendatangi istrinya dan berkata: Kami takut kalau penyakitnya Ayub berpindah kepada anak-cucu kami, sebab itu keluarkanlah Ayub dari sini atau kami akan mengeluarkannya kalau engkau tidak mau mengeluarkannya.

Mendengar ucapan yang kasar dan menyayat perasaan itu, sang isteri yang setia itu tetap tabah dalam tangisnya. Dia mengeluarkan segenap tenaga yang ada padanya, untuk memangku suaminya dan membawanya ke luar kampung dan tinggal di sebuah pondok yang sudah ditinggalkan orang. Di sanalah Nabi Ayub beserta isterinya menanggungkan derita lahir dan batin, dengan penuh kesabaran dan keimanan yang tidak pernah putus.

Untuk penghidupannya, sang istri terpaksa bekerja memotong-motong roti pada seorang pedagang roti. Setiap petang dia pulang menjumpai suaminya, dengan membawa beberapa potong roti yang dihadiahkan orang kepadanya. Tetapi setelah orang ramai tahu, bahwa itu adalah isteri  Nabi Ayub, maka pedagang roti itupun tidak mau dia bekerja lagi sebagai tukang potong roti, karena kawatir jika penyakit Ayub itu menulari roti yang akan dijualnya.

Kerana tidak ada lagi pekerjaan dan makanan, maka beberapa hari lamanya, baik Nabi Ayub dan istrinya tidak makan dan minum sedikitpun. Dan ketika mereka sudah tidak tahan menahan lapar dan dahaga, lalu sang istri minta izin kepada Nabi Ayub untuk pergi  berikhtiar mencari makanan dan minuman. Tidak lama kemudian dia pulang kembali dengan membawa sepotong roti dan air minum.

Setelah Nabi Ayub melihat sepotong roti segar yang dibawa isterinya itu, nabi Ayub mengira bahwa isterinya sudah menjual kehormatan dirinya untuk mendapatkan sepotong roti itu. Lalu sang istri menceritakan kepada Nabi Ayub, bagaimana caranya ia mendapatkan roti itu: Aku bukan menjual kehormatan diriku, aku berlindung diri kepada Allah dari segala perbuatan yang menodai diriku. Roti ini aku dapat dengan menukarkan rambutku yang panjang.

Melihat kejadian itu, Nabi Ayub sangat sedih hatinya, lalu dia menangis, bukan menangisi nasibnya, tetapi menangisi rambut isterinya, karena diantara yang paling menarik hatinya terhadap isterinya adalah rambutnya yang panjang.

Maka Berkatalah sang istri: Janganlah engkau menangisi rambutku yang sudah hilang. Rambut itu akan tumbuh kembali dan mungkin akan lebih indah dari yang sudah hilang itu. Demikianlah katanya menghibur suaminya. Mendengar jawapan isterinya itu, Nabi Ayub merasa senang hatinya. Dia kembali bersyukur, bertasbih, bertakbir memuji-muji Allah.

Karena keimanannya kepada Allah dan rasulNya, rahmat Ilahiyah pun akhirnya turun kpd Ayyub dan juga kpd istrinya,  yg tidak meninggalkan beliau ketika sakit dan tertimpa musibah.Allah mengembalikan kekayaan dan kesejahteraan kepadanya, seperti semula. Sungguh Allah merahmati istri nabi Ayub, Dan memuliakannya atas kesabarannya bersama suaminya dan membimbingnya kpd kemanisan taat dibawah naungan keridhoan Allah ta`ala.

Sungguh, kisah diatas adalah sarat dgn pelajaran berharga dan ibrah bagi para istri yang memiliki hati nurani, bahwa dunia adalah ladang akhirat. Selain itu, dalam menemani suami tentulah kita perlu untuk melatih diri mengendarai kendaraan sabar, tidak berkeluh kesah atas musibah yg menimpanya, bersungguh2 dalam melaksanakan hak Allah pada dirinya, dan tdk marah terhadap qadha dan takdir yg terjadi.

Percayalah, ketika para suami kita memiliki kelebihan rejeki, Insyaallah akan diberikan kepada kita nantinya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Lihatlah betapa merekapun telah menghabiskan banyak waktunya untuk keluarga, maka untuk siapa lagi mereka memperjuangkan nafkah keluarga kalau bukan untuk kita para istri dan anak- anak kita?

Percayalah bahwa dunia ini memang berputar. Mungkin saat ini kita di bawah, tapi bisa saja suatu saat kita diatas. Dan ketika kita dibawah, itulah justru kesempatan yang diberikan Allah untuk menunjukkan jati diri kita, kualitas kita sebagai seorang istri yang senantiasa mendampinginya. Sehingga kettika tiba waktunya kita harus berada diatas, kepercayaan suami atas kita insyaAllah tidak akan tergantikan.

Ketika jiwa kita masih berontak dengan berbagai perasaan was- was, maka yakinlah, bahwa semua di dunia ini, mempunyai waktu sendiri- sendiri atas mulai atau berakhirnya sesuatu, pun demikian insyaAllah dengan semua kekurangan yang ada pada kita. Asal kerja keras dan tawakkal tidak kita pangkas, maka Allah akan selalu menolong hamba- hambanya.  Banyak-banyak bersyukur, Insyaallah Allah akan menambah nikmat-Nya. Sesekali ada baiknya kita melihat ke bawah, karena betapa banyak orang yang hidupnya jauh lebih susah dibandingkan kita sekarang.

sumber: https://www.facebook.com/notes/aku-hanya-ingin-cinta-yang-halal-di-mata-allah/saat-suamiku-dalam-kekurangan/300736456603565/

Selasa, 09 Mei 2017

Sadari, Tak Ada Rumah Tangga yang Tanpa Ujian

Rumah tangga sakinah bukanlah yang terbebas dari ujian. Rumah tangga sakinah adalah yang mampu menghadapi ujian bersama seraya berpegang teguh pada syariat-Nya.



Seorang artis lawas yang kini telah paruh baya, pernah diundang di sebuah acara talkshow di TV swasta nasional. Ia telah mengalami tiga kali pernikahan. Pernikahan pertama dan kedua kandas di usia yang terbilang singkat, di mana usia sang artis juga masih belia. Di ujung acara, sang artis meninggalkan pesan yang membuat penonton terhenyak. “Kalau boleh menasihati, seandainya anak saya dalam pernikahannya mengeluhkan hal seperti saya dulu, maka saya akan menasihatinya untuk bersabar dan tidak perlu bercerai. Karena sebetulnya memang tak ada alasan untuk bercerai. Masalah itu sebetulnya muncul dari diri saya sendiri.”



Hakikat Ujian dalam Pernikahan

Sepanjang perjalanan pernikahan yang tak mengenal batas, selama itu pula akan ada ujian datang. “Tak ada rumah tangga yang tanpa ujian,” tegas pemerhati keluarga dan konselor Jogja Family Center (JFC), Cahyadi Takariawan. Oleh sebab itu, menurut Cahyadi, dalam Islam, ujian rumah tangga adalah keniscayaan dan tantangan yang harus dihadapi semua orang.

“Adakalanya ujian adalah sarana peningkatan kualitas,” ujar Cahyadi. Misalnya, ketika seorang istri menemui hal yang tidak menyenangkan dari suaminya, jangan mudah untuk berpikir pisah atau cerai. Sebab, menurut Cahyadi, “Itu pertanda lemahnya kesungguhan dalam menjaga keutuhan rumah tangga.”

Ujian juga harus dipandang sebagai rahmat dari Allah swt. Karena tak ada manusia yang lepas dari dosa, maka Allah menetapkan salah satu cara pembersihan dosa manusia dengan ujian-ujian yang diberikannya. Jika tak ada ujian, manusia akan sulit bersyukur dan jarang terbersihkan dosanya. “Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap Muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya,” (HR Bukhari).

Meski tak selalu, ujian dalam pernikahan juga hadir sebagai bentuk teguran Allah swt terhadap pelanggaran di masa terdahulu. “Saya sangat yakin bahwa kebahagiaan itu adanya di dalam jiwa kita. Dan hanya Allah yang bisa memberikan rasa bahagia itu. Maka semua proses sejak awal (niat dan caranya) harus selalu memenuhi tuntunan-Nya,” papar Cahyadi.



Islam, Landasan dan Solusi dalam Rumah Tangga

Islam adalah landasan sekaligus solusi bagi berbagai persoalan, termasuk dalam rumah tangga. Jika kita menjadikan Islam sebagai satu-satunya solusi dalam menghadapi badai rumah tangga, maka di samping menuai pahala, juga menyelesaikan masalah dan menguatkan cinta suami dan istri. Berikut cara Islami menyikapi ujian rumah tangga:



      Husnuzhan kepada Allah
Seperti telah disinggung di atas, seyogianya ujian juga merupakan bentuk perhatian Allah kepada hamba-Nya. Firman Allah, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah swt mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS Al-Baqarah: 216).



      Qana’ah dan bersabar
Ujian rumah tangga kadang datang berupa keterbatasan atau bahkan keterpurukan ekonomi keluarga. Di sinilah sifat qana’ah (menerima apa adanya dalam hal kebendaan atau duniawi) sangat dibutuhkan. Ia adalah rahasia kebahagiaan, yang tidak menjadikan kesempitan duniawi sebagai sumber percekcokan apalagi perceraian.



      Hindari caci maki dan kekerasan fisik
Konflik juga bagian dari ujian rumah tangga. Rumah tangga tanpa konflik ibarat masakan tanpa bumbu. Tapi jika bumbu terlalu banyak, masakan jadi tidak enak. Agar konflik tak semakin memanas dan berkepanjangan, hindari caci maki dan kekerasan fisik pada pasangan.

Cacian dan makian, jelas Cahyadi, akan menimbulkan luka batin yang lebih menyakitkan daripada kekerasan fisik, walau tidak mengucurkan darah. Meski begitu, kekerasan fisik juga amat tercela. Tindakan kekerasan fisik yang dilakukan dalam keadaan emosi akan sangat membahayakan keselamatan pasangan. “Tidak pantas dua orang yang berhimpun atas nama cinta, saling melukai dan mencaci. Tidak patut hal tersebut dilakukan oleh manusia yang bertakwa,” Cahyadi menegaskan.



      Jangan menampakkan konflik
Salah satu dampak negatif media sosial adalah semakin mudahnya seseorang mengumbar masalahnya di muka umum. Sedang kesal dengan suami, ditumpahkan di Twitter. Bahkan ada suami istri yang bertengkar dan saling melempar cacian di Facebook. Mereka tidak peduli pada teman di jaringan mereka yang menonton ‘pertunjukan’ tersebut.

Menurut Cahyadi, konflik dengan pasangan semestinya dikelola di ruang privat sembari mencari solusi bersama, bukan diumbar melalui jejaring sosial. Sudah semestinya seseorang mempunyai rasa malu jika aibnya diumbar. Selain itu, menampakkan konflik di muka umum, berpotensi memunculkan pihak ketiga yang berniat jahat dan ingin memperkeruh masalah.



Jika permasalahan atau ujian rumah tangga datang berulang, berdamailah dengan ujian tersebut. “Karena dalam rumah tangga, setiap hari bertemu dengan orang yang sama. Wajar jika persoalan yang ditemukan sering kali berulang,” jelas Cahyadi. Terakhir, Cahyadi berpesan, “Salah satu ujian dalam rumah tangga adalah mencintai orang yang sama dalam waktu lama.” Nah, tentu kita semua ingin lulus dalam ujian tersebut bukan?

Aida Hanifa

Wawancara: Didi Muardi



Sumber: Majalah Ummi, Bahasan Utama 1 08-XXVIII Agustus 2016

 Foto ilustrasi : Google

Sumber : http://www.ummi-online.com/sadari-tak-ada-rumah-tangga-yang-tanpa-ujian.html

70 Persen Masalah Rumah Tangga Akibat Gagal Komunikasi

Awalnya bercakap-cakap biasa dengan pasangan, akhirnya malah berujung pertengkaran. Sahabat Ummi pernah mengalami hal yang tak mengenakkan tersebut? Hati-hati, jika pertengkaran tersulut, tak jarang kata-kata buruk pun keluar dan akan sangat menyakitkan untuk diingat.

Konselor dan trainer Rumah Keluarga Indonesia (RKI) yang juga penulis buku seri Wonderful Family, Cahyadi Takariawan, S.Si, Apt,mengungkapkan bahwa 70% persoalan suami istri dipicu oleh kegagalan komunikasi.



Antisipasi Perbedaan Sejak Awal

Jika komunikasi yang sehat adalah salah satu kunci kebahagiaan rumah tangga, maka pertengkaran menjadi unsur yang paling merusak hubungan. Mengapa? Pertengkaran kerap timbul ketika pasangan sering merasakan ketidakcocokan atau tidak sekufu satu sama lain.

Apa itu sekufu? Dalam Islam, kufu adalah kesepadanan. Walau tidak termasuk dalam rukun nikah, tapi ia dipandang perlu karena bisa menumbuhkan keharmonisan pernikahan. Idealnya, masalah sekufu sudah melalui pertimbangan yang masak sejak awal menikah. Karena jika ini diabaikan, ia bisa berpotensi menghambat komunikasi pasutri di kemudian hari. Faktor kekufuan ini antara lain, perbedaan tingkat intelegensi dan pendidikan, jauhnya perbedaan usia, perbedaan latar belakang satus sosial, dan yang paling penting adalah perbedaan prinsip hidup dan beragama.

Hikmahnya, menurut Cahyadi, “Komunikasi menjadi lebih terbuka dan lancar jika pasangan sekufu. Bicara lebih nyambung, tanpa sekat, dan tanpa beban ‘kelas’.”

Kecuali perbedaan masalah agama yang tak bisa ditolerir dalam Islam, banyak pasangan yang tetap melangsungkan pernikahan walau tidak sekufu. Alasan cinta, menikah karena ibadah atau dakwah dan lainnya, kerap meneguhkan mereka memasuki jenjang pernikahan di tengah perbedaan. Namun keteguhan ini, jika tidak diiringi dengan antisipasi komitmen dan komunikasi yang sehat sejak awal, maka perlahan akan membuat pernikahan rapuh.

Memang tak ada rumah tangga yang bebas dari pertengkaran. Karenanya seiring pernikahan, kesepadanan itu tetap harus dicari, ditumbuhkan, dan ditemukan, bahkan setelah berpuluh tahun membina rumah tangga.



Bersama Hindari Badai

Kehidupan manusia yang dinamis dan zaman yang terus berubah tak ayal mengubah kehidupan seseorang. Gaya hidup, pola pikir, kepentingan, orientasi pun bisa berubah. Maka tidak heran, belasan tahun menikah baru timbul ketidakcocokan. Jika pernikahan tidak dilandasi dasar yang kokoh seperti komitmen ibadah dalam mempertahankan rumah tangga, maka perubahan-perubahan yang terjadi tadi akan menjadi badai tak berkesudahan bagi pernikahan. Bagaimana menghadapi badai dalam relasi suami istri ini?



  Tuntutan ekonomi
Rumah tangga yang tak ditopang dengan nafkah yang memadai sangat mungkin goncang. Masalah ekonomi menjadi pemicu terbesar kasus perceraian di banyak daerah di Indonesia.

Menyikapinya, Cahyadi mengatakan bahwa istri berhak meminta nafkah dari suami karena nafkah memang menjadi kewajiban suami. “Namun jika suami tidak mampu mencari nafkah disebabkan udzur syar'i misal sakit parah atau kendala manusiawi seperti dipenjara, tentu istri tidak patut menuntut kepada suami,” jelas trainer dan Konselor Jogja Family Center (JFC) ini. Agar bisa melalui badai bersama, dibutuhkan sikap keterbukaan dan kebersamaan dalam mencari solusi. Misalnya dengan istri ikut bekerja atau berwirausaha, bersama menguatkan lagi ibadah kepada Allah, seraya tetap saling menghargai satu sama lain.



  Ujian kesetiaan dan cemburu
Era media sosial yang memudahkan seseorang terhubung dengan sosok masa lalu juga teman-teman baru, ditambah peningkatan taraf hidup, membuat kesetiaan dan perselingkuhan menjadi ujian baru bagi rumah tangga kini. Namun tak bisa dianggap tidak setia, menurut Cahyadi, sepanjang proses yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. “Namun jika kita punya bukti bahwa pasangan selingkuh, wajib diingatkan dan ditegur dengan cara yang baik, jangan dibiarkan karena itu pelanggaran,” tegasnya.

Khusus bagi yang rentan terserang cemburu, pahami bahwa pasutri memang harus mempunyai rasa cemburu, namun mestiproporsional. Rasulullah saw pun melarang cemburu yang berlebihan. Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, cukup bagimu Shafiyyah, dia itu begini dan begitu (pendek).” Rasulullah menjawab, “Sungguh engkau telah mengucapkan satu kata, yang seandainya dicampur dengan air laut, niscaya akan dapat mencemarinya.” (HR Abu Dawud).



  Kehidupan seks yang tak membahagiakan
Walau banyak yang lebih penting dari aktivitas seks dalam relasi pasutri, namun mengabaikannya bisa mengurangi kasih sayang. “Seks harus bisa dinikmati bersama oleh pasangan suami istri, maka perlu keterbukaan jika ada masalah dalam hal ini,” saran Cahyadi. Karena, lanjutnya, jika hasrat seksual tidak terpenuhi, akan memicu ketegangan jiwa. Dampaknya bisa luas, lebih emosional, bersifat labil, mudah tersinggung, sulit konsentrasi, dan yang lebih membahayakan lagi, jika tergoda untuk menyalurkan hasrat secara menyimpang.



Jangan Bertengkar

Ujung dari komunikasi yang sehat adalah sedikitnya perselisihan atau pertengkaran, ini yang harus dicapai agar pernikahan sehat. Seringnya konflik bukan saja menyakiti perasaan, tapi juga memperburuk hubungan. Diskusikan masalah yang timbul dengan terbuka, tanpa bertengkar atau menyulut konflik.

Mengumbar kemarahan dengan perang terbuka bisa memadamkan cinta. Sedangkan terbiasa menekan perasaan untuk menghindari perselisihan juga tidak sehat, sebab akan membuat cinta kasih hambar karena selalu tertekan. Carilah kesimbangan di antara keduanya, kapan sesuatu harus diungkapkan dan kapan harus dilupakan, bukan dipendam. Keberhasilan pasutri mengelola ego dan emosi menjadi cara efektif untuk menjaga komunikasi sehingga rumah tangga aman dari pertengkaran.

Meutia Geumala

Wawancara: Didi Muardi

Sumber: Majalah Ummi, Bahasan Utama 3 08-XXVIII Agustus 2016

 Foto ilustrasi : Google

Sumber : http://www.ummi-online.com/70-persen-masalah-rumah-tangga-akibat-gagal-komunikasi.html

Ibu Rumah Tangga yang Ingin Berkarya Jangan Putus Asa, Bekerja Tidak Harus Kantoran

"Di rumah aja ngapain, paling cuma lihat langit-langit," ini pendapat kuno ketika teknologi belum canggih.

"Kasihan ya kamu di rumah aja gimana bisa melihat keindahan dunia,"

"Hidupmu terpenjara banget sih,"

Itu juga pendapat zaman penjajahan dimana akses ke mana-mana tidak seperti sekarang. Kalau saat ini raga bisa di sini, tapi pikiran bisa terbang menjelajahi apa saja yang dimaui.

Tidak sedikit memang yang bilang kalau di rumah itu membosankan, merasa enggak berharga, & tidak tahu harus berbuat apa. Dan biasanya, pendapat semacam itu lebih banyak ditujukan kepada ibu rumah tangga alias wanita yang sudah berkeluarga dan tidak bekerja di luar rumah dengan banyak alasan (masih punya anak kecil, dilarang suami, atau yang lain).

Sayangnya, pendapat orang luar yang hanya lewat sedetik dua detik itu kadang-kadang bisa memengaruhi kepercayaan diri bahkan mood bisa berubah drastis jadi buruk hanya karena mendengar komen yang bisa jadi iseng. Yang rugi siapa?

Untuk para wanita (calon ibu atau pengantin baru) yang terbiasa beraktivitas memang rasanya ada yang kurang ketika menikah tiba-tiba harus berubah jadi puteri raja alias enggak ngapa-ngapain karena dilarang suami misalnya. Padahal sebenarnya enak juga kan tinggal kipas-kipas santai sambil nunggu setoran duit. Nikmat Allah mana yang kita dustakan coba? Huehehe.

Tapi sebagai makhluk yang punya ego adalah wajar kok jika kita ingin berbuat sesuatu yang berarti. Kabar gembiranya ... hal itu sekarang bisa kita lakukan di mana saja, tidak harus sering-sering ke luar rumah yang bisa membuat suami khawatir. Bersyukurlah para bunda atau calon bunda yang hidup di masa sekarang. Sambil dasteran atau pakai baju rumahan aja kita bisa menangani klien baik dalam maupun luar negeri dengan bantuan teknologi. Alhamdulillah, kan.

Lalu, apa saja kegiatan produktif layaknya pekerja kantoran yang bisa kita lakukan di rumah?



1. Terjun di dunia kepenulisan

Bagi Bunda atau Calon Bunda yang memang suka menulis, kenapa tidak mencoba peruntungan di dunia literasi. Menjadi penulis pun masih bisa dipecah lagi karena dunia kepenulisan itu sangat luaasss tiada terkira. Kita bisa memilih untuk jadi blogger, penulis konten di website perusahaan tertentu, resensor, penulis buku (yang ini pun masih bisa dipecah lagi semisal mau jadi penulis buku anak, penulis novel, penulis buku pelajaran, atau penulis buku genre lain), penulis artikel di perusahaan yang menerbitkan buletin secara berkala, editor, penerjemah, copywriter, ilustrator, daann masih banyak lagi.



2. Menggeluti dunia kuliner

Mungkin Bunda atau Calon Bunda hobi masak, kenapa tidak diseriusin. Berjualan makanan ringan sampaii buka catering bisa dipilih.



3. Mengajar baik offline maupun online

Bagi yang memiliki passion membimbing orang lain, mengajar mungkin bisa jadi pilihan entah itu mengajar offline atau online.



4. Menggeluti dunia kecantikan, misal dengan membuka salon atau perawatan khusus wanita



5. Jualan baik offline maupun online



6. Menjadi konsultan sesuai bidang keahlian, misal konsultan keuangan, konsultan pajak, atau yang lain



7. Dann masih banyak lagiii



Profesi-profesi di atas adalah profesi pilihan yang bisa dilakukan oleh para bunda, calon bunda, atau wanita yang baru menikah yang mungkin tak bisa bekerja di kantor karena dilarang suami atau karena keinginan sendiri.

Semua profesi tersebut memang lebih banyak dilakukan di rumah. Kalau toh ke luar rumah, juga tidak dilakukan dalam jangka waktu yang lama.

Jadi, siapa bilang hidup kita akan hancur bila tak bekerja di kantor? Sungguh, itu pemikiran masa lalu yang harus diubah. Sesungguhnya di luar sana masih banyak kesempatan luas yang masih belum terjamah yang bisa kita coba dan mungkin itu yang lebih cocok buat kita.



Selamat produktif dari mana saja!

 Sumber : http://www.ummi-online.com/ibu-rumah-tangga-yang-ingin-berkarya-jangan-putus-asa-bekerja-tidak-harus-kantoran.html

Waspadai Debu Riba pada Harta Kita



“Sungguh akan datang pada manusia suatu masa (ketika) tiada seorang pun di antara mereka yang tidak akan memakan (harta) riba. Siapa saja yang (berusaha) tidak memakannya, maka ia tetap akan terkena debu (riba)nya.
(HR Ibnu Majah, HR Sunan Abu Dawud, HR Al-Nasa’i dari Abu Hurairah)

Sahabat Ummi, debu merupakan partikel kecil, ringan, berterbangan tertiup angin dan mudah menempel di mana saja. Itulah sebabnya hadits di atas menggunakan istilah “debu riba”.

Sebab ia hampir tak terasa keberadaannya, padahal ia telah mengotori setiap sisi fiansial kita; saat menggunakan kartu kredit untuk membeli barang elektronik idaman, saat menggunakan fasilitas KPR (kredit kepemilikan rumah) dari bank konvensional, saat mendaftar asuransi kesehatan, bahkan saat menabung di bank.

Balasan di Dunia dan Akhirat
Kita tentu sudah tak asing dengan istilah riba. Riba sering dikaitkan dengan bunga yang diberikan dalam kegiatan peminjaman uang pada bank konvensional. Menurut bahasa, riba berarti ziyadah (tambahan). Secara definisi, riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi maupun pinjam-meminjam.

Dalam Islam, hukum riba jelas haram, seperti termaktub dalam surat Al-Baqarah: 178, Ali Imran: 130, dan An-Nisa: 161. Maka bagi yang terlibat di dalamnya, berarti sudah melakukan dosa besar. “Kalau sudah bicara dosa besar, implikasinya juga sangat besar sekali, baik dari sisi nilai maupun dari sisi bahaya materialnya,” ujar Amang Syafrudin, Lc, M.Psi. Salah satu dampak yang sudah kita rasakan adalah krisis moneter yang menerpa dunia, termasuk Indonesia.

Selain dampak secara material, yang tak kalah dahsyat adalah dampaknya di kehidupan akhirat kita. Berikut ini adalah bahaya jika seseorang berinteraksi dengan riba.

  1.      Pelaku riba diancam siksa neraka.
Diriwayatkan dari Samurah bin Jundub ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda menceritakan tentang siksaan Allah kepada para pemakan riba, bahwa, “Ia akan berenang di sungai darah, sedangkan di tepi sungai ada seseorang (malaikat) yang di hadapannya terdapat bebatuan, setiap kali orang yang berenang dalam sungai darah hendak keluar darinya, lelaki yang berada di pinggir sungai tersebut segera melemparkan bebatuan ke dalam mulut orang tersebut, sehingga ia terdorong kembali ke tengah sungai, dan demikian itu seterusnya,” (HR Bukhari).

  1.      Dibangkitkan di hari kiamat seperti orang gila.
“Orang-orang yang memakan riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba,” (QS Al-Baqarah: 275).

  1.      Hilangnya keberkahan harta serta tidak diterimanya sedekah, infak, dan zakat.
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah,” (QS Al-Baqarah: 276).

“Sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka tidak bertambah dalam pandangan Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya),” (QS Ar-Rum: 39).

  1.      Doa pemakan riba tidak akan didengarkan dan dikabulkan oleh Allah.
“Ada seseorang yang melakukan safar (bepergian jauh), kemudian menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku!’ Akan tetapi makanan dan minumannya berasal dari yang haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan oleh barang yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan (oleh Allah)?” (HR Muslim).

  1.      Memakan riba lebih buruk dosanya daripada perbuatan zina.
“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui bahwa yang di dalamnya adalah hasil riba, dosanya itu lebih besar daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali,” (HR Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashabih mengatakan bahwa hadits ini shahih).

  1.      Orang yang berinteraksi dengan riba dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya.
“Dari Jabir ra, ia berkata: ‘Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksinya, dan penulisnya.’ Dan beliau bersabda, ‘Mereka semua sama (kedudukannya dalam hal dosa).’” (HR Muslim).

Aida Hanifa
Wawancara: Yuli Patilata
Kiat Hindari Riba
           
Jika mengkaji surat Al-Baqarah ayat 275 dan 276, terdapat dua solusi dari Allah untuk menjauhkan diri dari riba. Pertama, menjauhinya dengan cara melakukan jual beli secara tunai. Kedua, dengan sedekah. “Jika kita semua berkomitmen membuat gerakan menjauhi riba dengan cara ini, efeknya akan sangat dahsyat dan sudah terbukti dapat menghancurkan sistem riba,” tegas Amang.

Salah satu contoh konkretnya adalah apa yang dilakukan oleh Utsman bin Affan saat mewakafkan sebuah sumur milik Yahudi yang selama ini menjadi sumber air masyarakat Madinah. Setelah sumur itu dibeli dan diwakafkan oleh Utsman, masyarakat Madinah bebas memakai air tersebut tanpa perlu membayar. Lalu bagaimana kiat yang bisa kita terapkan pada diri kita sendiri? Berikut adalah kiat dari Ustadz Amang:
  1.      Sungguh-sungguh bertobat menjauhi riba. Jika masih ada debu riba dalam urusan finansial kita, segera selesaikan.
  2.      Jangan mudah berutang, pikirkan secara matang sebelum berutang.
  3.      Pupuklah sifat qana’ah dan jauhi keinginan untuk berlebih-lebihan.
  4.      Pilihlah lembaga-lembaga syariah untuk urusan transaksi keuangan maupun kebutuhan finansial kita.

Sumber: Majalah Ummi, Bahasan Utama 3 06-XXVIII Juni 2016
Foto ilustrasi : Google

Sumber : http://www.ummi-online.com/waspadai-debu-riba-pada-harta-kita.html