Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Maret 2017

Amalan Sayidina Umar yang Membawanya ke Surga

Dari Ahmad Mundzir

Sahabat dunia islam, seperti yang di kutip dari NU.or.id Usai Sayyidina Umar wafat, ada salah seorang yang bermimpi bertemu beliau. Ia bertanya “wahai Umar, apa yang dilakukan Allah kepadamu?”

Umar menjawab, “Allah telah mengampuniku”.

“Apakah karena keadilanmu?”

“Bukan”

Padahal sebagaimana kita ketahui, sahabat Umar adalah seorang khalifah yang tegas berprinsip dan adil dalam memberi keputusan.

Namun ternyata beliau masuk surga bukan karena amalnya. Namun beliau justru mengaku, “(aku masuk surga) karena seekor burung”.

Ketika itu ada burung yang dibuat mainan anak kecil. Merasa iba, sahabat Umar lalu membeli burung dari anak kecil itu, setelah terbeli, burung pun dilepas.

Kisah di atas sangat cocok dengan sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Kitab Sunan At-Tirmidzi:

Orang-orang yang berbelas kasih akan dikasihi Allah yang maha pengasih. Maka kasihanilah penduduk yang ada di bumi, niscaya kalian akan dikasihi penduduk langit. (7/3)

semoga kisah dari Amalan Sayidina Umar yang Membawanya ke Surga bisa menjadi contoh bagi kita.

Wallahu a’lam

Amalan Agar Selamat Di Hari Kiamat

Pagi dan sore merupakan waktu di mana warga bumi sibuk. Pagi ialah waktu matahari mengintip. Lazimnya orang-orang mengawali aktivitas. Sementara sore kawanan burung bergegas pulang. Dan orang-orang membawa pulang keletihannya seharian.

tahukah anda Amalan Agar Selamat Di Hari Kiamat. Ada dua waktu yang bisa diisi dengan wiridan singkat yang diharapkan memberikan manfaat besar. Tentu pahala penting.

Bujairimi dalam Hasyiyah alal Iqna’menceritakan pengalaman Imam Hanafi RA yang melihat Allah SWT dalam mimpi. Ketika sudah 99 kali bermimpi melihat Allah, Imam Hanafi RA berencana menanyakan sebuah amal yang menyelamatkan seorang hamba dari siksa dahsyat hari Qiyamah. Allah kemudian menjawab pertanyaan sang Imam RA di mimpinya yang ke-100.

فقال سبحان وتعالى: من قال بالغداة والعشي “سبحان الأبدي الأبد، سبحان الواحد الأحد، سبحان الفرد الصمد، سبحان من رفع السماء بغير عمد، سبحان من بسط الأرض على ماء جمد، سبحان من خلق الخلق وأحصاهم عدد، سبحان من قسم الرزق ولم ينس أحد، سبحان الذي لم يتخذ صاحبة ولا ولد، سبحان الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد” نجا من عذابي. ذكره صاحب معجم الأحباب.

Allah berfirman, “Siapa saja yang membaca di pagi dan sore ‘Subhanal abadiyyil abad, subhanal fardis shomad, subhana man rofa’as sama’a bi ghoiri ‘amad, subhana man basathol ardho ‘ala ma’in jamad, subhana man khalaqol khalqo wa ahshohum ‘adad, subhana man qosamar rizqo wa lam yansa ahad, subhanal ladzi lam yattakhidz shohibatan wa la walad, subhanal ladzi lam yalid wa lam yulad wa lam yaqul lahu kufuwan ahad’, maka akan selamat dari siksa-Ku.” Demikian disebutkan oleh penulis Mu’jamul Ahbab.

Sepadat apapun, kita sebaiknya tidak membiarkan pagi dan sore meluncur tanpa mengucapkan pujian tasbih ini. Untuk menambah manis pagi dan sore, perlu juga menebarkan senyum kepada sesama makhluq. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Sumber : NU.or.id

Senin, 13 Maret 2017

Pahala Jihad untuk yang Menafkahi Janda

Pahala Jihad untuk yang Menafkahi Janda
Pahala Jihad untuk yang Menafkahi Janda
"Orang yang berusaha memenuhi kebutuhan janda dan orang miskin, pahalanya seperti mujahid fi Sabilillah atau seperti orang yang rajin puasa di siang hari dan rajin tahajud di malam hari. (HR. Bukhari 6006 & Muslim 7659)

Sahabat Ummi, ada pahala besar bagi siapa pun yang mau membantu memenuhi kebutuhan janda dan orang miskin, tidak tanggung-tanggung... pahalanya seperti mujahid di jalan Allah atau seperti orang yang rajin berpuasa di siang hari dan rajin tahajud di malam hari, subhanallah...

Akan tetapi perlu digarisbawahi bahwa janda yang dimaksudkan terutama adalah janda tua yang tak lagi memiliki keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Bukankah ada banyak janda-janda tua dalam kondisi harus bekerja, memulung, berdagang berkeliling karena tidak memiliki keluarga yang menafkahinya?

Ibnu Batthal dalam syarh Shahih Bukhari mengatakan,


"Siapa yang tidak mampu berjihad di jalan Allah, tidak mampu rajin tahajud atau puasa di siang hari, hendaknya dia praktekkan hadits ini. Berusaha memenuhi kebutuhan hidup janda dan orang miskin, agar kelak di hari kiamat dikumpulkan bersama para mujahidin fi Sabilillah. Tanpa harus melangkah di medan jihad atau mengeluarkan biaya, atau berhadapan dengan musuh. Atau agar dikumpulkan bersama orang yang rajin puasa dan tahajud." (Syarh Shahih Bukhari – Ibnu Batthal)

Sahabat Ummi, sudah banyak anak yatim yang Anda santuni? Maukah menyantuni pula janda-janda tua yang terabaikan karena tak memiliki keluarga yang dapat melindungi mereka di usia senjanya?

foto ilustrasi: google

Menikah Saat Kuliah? Begini Cara Mengatur Keuangan

Menikah Saat Kuliah? Begini Cara Mengatur Keuangan
Menikah Saat Kuliah? Begini Cara Mengatur Keuangan
Sahabat Ummi, asumsi yang kita gunakan bila kita menikah saat kuliah adalah kita belum memiliki penghasilan tetap dan masih ada biaya tetap (yaitu SPP) yang harus kita tanggung. Untuk itu, kebutuhan-kebutuhan yang harus kita tanggung dan pikirkan biasanya adalah:

1. Dana operasional untuk kehidupan sehari- hari

2. Biaya makan: untuk berhemat, kita bisa memasak sendiri dengan menu sederhana, namun sehat. Puasa, juga menjadi salah satu solusi baik untuk menghemat biaya makan.

3. Biaya transportasi: akan lebih baik bila kita dan pasangan tidak keluar bila tak perlu atau kita dan pasangan bisa berjalan kaki saat pergi ke suatu tempat yang tidak terlalu jauh. Sekaligus olahraga, kan?

4. Biaya senang-senang: sebagai pasangan muda adalah wajar bila kita dan pasangan ingin bersenang- senang. Nah, bagaimana caranya bersenang- senang tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Ada banyak cara tentunya. Salah satunya, mengikuti kuis berhadiah tertentu.

5. Biaya komunikasi: jangan anggap ringan biaya ini karena nyatanya kita sering kedodoran dengan biaya komunikasi. Untuk itu, pastikan kita berkomunikasi untuk hal- hal yang penting. Pun dengan jejaring sosial, akan lebih bermanfaat bila jejaring sosial digunakan untuk menjual barang atau jasa bukan daripada kita gunakan untuk update status tidak jelas.

6. Bayar SPP, buku, dan segala macam yang berhubungan dengan kuliah

Ini adalah biaya tetap (fixed cost) yang harus kita sisihkan di awal. Jelas, kita menikah saat masih kuliah otomatis ada biaya yang harus kita tanggung. Sebaiknya, jangan berspekulasi dengan menggunakan biaya SPP untuk kehidupan sehari- hari. Pentingkan jangka panjang. Jangan hanya karena ingin makan enak, kuliah kita keteteran karena menunggak biaya SPP.

1. Tempat tinggal, dengan asumsi kita dan pasangan ngekos

Untuk melatih kemandirian, seyogyanya kita ngekos atau mengontrak rumah. Tapi, tinggal di rumah mertua atau orang tua tentu tak masalah asalkan ada kesepakatan dan tidak tinggal dalam jangka waktu lama.

2. Investasi, mungkinkah, dan perlukah?

Investasi perlu dilakukan sejak dini dan harus sedikit dipaksa. Bila tidak, kita cenderung akan sembrono dalam menggunakan uang atau tidak berusaha dengan maksimal. Untuk pasangan muda, investasi yang aman adalah LM (Logam Mulia). Investasi ini bisa dikatakan bebas risiko karena emas adalah sumber daya alam yang tak dapat diperbarui sehingga nilainya pasti akan naik dalam jangka panjang bila dikonversi ke mata uang. Bila tidak percaya, coba tanyakan berapa nilai satu gram emas saat ini dengan nilai yang sama sepuluh tahun yang lalu.

Lalu, bagaimana cara menyisihkan uang untuk berinvestasi emas di tengah kondisi yang pas-pasan. Tak perlu berkecil hati, mulailah dari menyisihkan uang setiap hari, terserah berapa jumlahnya, Rp 10.000,00 misalnya. Dalam jangka waktu satu tahun, berapa jumlah uang kita? Rp 3.650.000,00. Dengan uang sejumlah tersebut (minimal) kita sudah bisa mendapatkan LM 5 gram yang nilainya pasti akan terus bertambah di masa depan. Untuk pasangan muda, hal tersebut bisa dikatakan awal yang bagus.

Bila dilihat dari sisi perjuangan, pasangan suami istri yang menikah saat kuliah memang harus “mengayuh” dengan susah payah karena peralatan “tempur” yang dimiliki belum sempurna. Namun, percayalah semua kerja keras tersebut akan terbayar. Hanya yang berani yang mengambil kesempatan emas tersebut.

Referensi:
Aprilina, Prastari dan Miyosi Ariefiansyah. "Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya". 2013. Jakata: Bhuana Ilmu Populer.

Dilamar Pria Perokok, Emosian, Shalat Tidak On time, Diterima atau Tolak?

Dilamar Pria Perokok, Emosian, Shalat Tidak On time, Diterima atau Tolak?
Dilamar Pria Perokok, Emosian, Shalat Tidak On time, Diterima atau Tolak
Saya ingin bertanya. Ada seorang pria yang sangat menginginkan saya menjadi istrinya. Akan tetapi saya masih meragukan karena karakternya. Beliau merokok, mudah emosi/tersinggung, shalatnya belum tepat waktu.

Orangtuanya sudah tahu tentang niat beliau yang bulat ingin menikah dengan saya. Saya katakan yang sebenarnya pada ortunya kalau saya masih kurang sreg apalagi dengan karakter beliau seperti itu. Beliau dan beberapa teman mengatakan begini mungkin dari awal saya yang menuntun dan bisa menjadi ladang pahala, kita tidak pernah tahu masa depan orang.

Mungkin yang sekarang buruk besok bisa jadi malah lebih baik. Nah... apakah sekedar keinginan kuat dari beliau itu saja sudah cukup jadi pertimbangan? Tentang masa depan. Tidak pernah tahu.

Apakah bisa berubah atau malah harus bersabar terus hingga akhir. Jadi bagaimana menurut Ummi? Terimakasih

Jawaban:

Ukhti Shalihah, semoga Allah memudahkan dalam mengambil keputusan. Ingat bahwa pernikahan bisa memberi dampak untuk dunia dan akhirat kita.

“Mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling mulia akhlaknya.”(HR. al-Tirmidzi)

Tentu saja setiap muslimah berharap mendapatkan pasangan hidup yang shalih, akhlaknya bagus, dan tidak menzalimi dirinya dan orang lain, salah satunya dengan meninggalkan rokok. Akan tetapi ketika yang datang ternyata tidak seperti yang diharapkan, pastilah timbul keraguan.

Jauhi rasa khawatir dan ragu, mintalah petunjuk Allah berupa kemantapan hati. Saran Ummi, lakukanlah shalat istikhoroh dengan rutin, minta sungguh-sungguh agar Allah memberi kemantapan untuk mengambil keputusan.

Selain itu, jangan percaya hanya pada kata-kata, keinginan kuat hanyalah omong kosong jika tidak diikuti dengan pembuktian. Minta pada beliau untuk berhenti merokok saat ini juga, dan melakukan shalat tepat waktu berjamaah 5 waktu di masjid. Katakan bahwa Ukhti menginginkan seorang suami yang tidak merokok, tidak mudah emosian, dan juga shalat tepat waktu di masjid.

Jika ia bersungguh-sungguh ingin mengubah dirinya (nyata dibuktikan dengan perbuatan), dan hasil istikhoroh Ukhti merujuk pada dirinya, maka alhamdulillah Ukhti bisa dengan lapang hati menerimanya.

Akan tetapi jika ia menolak untuk berubah, Ummi khawatir menikah dengan orang berakhlak buruk (emosian, merokok) akan membawa pada penyesalan panjang, pikirkan lebih jauh untuk calon anak-anak kita nantinya. Benar bahwa menikah dengan orang seperti itu bisa menjadi ladang pahala, akan tetapi perlu diingat juga bahwa Rasulullah sekalipun tidak bisa memberi hidayah pada orang terdekatnya, semuanya adalah hak Allah untuk memberi hidayah.

Pikirkan masak-masak karena keputusanmu yang akan menjalaninya adalah dirimu sendiri. Bukan orang lain.

Jika memutuskan menerima keinginan pria tersebut, bersiaplah pada konsekuensi terburuk, jika siap menerima konsekuensi tersebut, in syaa Allah Ukhti memang sudah siap berdakwah pada pasangan hidup.

Akan tetapi jika menolak pun, pakailah cara yang paling baik, dan tetap harus terima konsekuensinya, mungkin akan mendapat cibiran dari keluarga dan teman-teman, tetap terimalah karena setiap keputusan memang ada konsekuensinya. Mana konsekuensi yang paling bisa Ukhti terima. Wallaahualam.

Pernikahan yang Tidak Bahagia sama Bahayanya dengan Penyakit Kronis

Pernikahan yang Tidak Bahagia sama Bahayanya dengan Penyakit Kronis
Pernikahan yang Tidak Bahagia sama Bahayanya dengan Penyakit Kronis
Jangan remehkan ketidakbahagiaan dalam pernikahan, karena efeknya tidak jauh beda dengan penyakit kronis: mematikan. Bedanya, yang satu kelihatan dan yang satunya tidak.

Ketidakbahagiaan dalam pernikahan bisa bersumber dari banyak hal. Namun secara garis besar bisa dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Bersumber dari diri sendiri

Sumber ketidakbahagiaan pernikahan yang berasal dari diri sendiri misalnya karena menikah dengan orang yang tidak dicintai & diri sendiri enggak ada usaha untuk belajar mencintai (jadi dari awal emang udah enggak sreg) atau bisa dari sikap diri sendiri yang pada dasarnya emang enggak pernah bersyukur sekalipun sudah memiliki & mendapatkan segalanya.

2. Bersumber dari luar diri

Ketidakbahagiaan yang berasal dari luar diri sendiri bisa terjadi karena diri mendiamkan ketika dibully (bisa karena tidak berdaya atau yang lain) sehingga pihak ketiga pun bisa bebas semaunya. Suami suka main tangan, mertua dan ipar yang jahat, kedatangan pihak ketiga, anak yang tidak bisa diatur, adalah beberapa contoh di antaranya.

Dua penyebab di atas bisa berakibat fatal kalau dibiarkan. Bersikap seolah-olah kuat, sabar, & tabah bukanlah solusi karena pastii akan ada efeknya walau dalam bentuk tidak langsung.

Misal, seorang istri rela dan sabar diperlakukan tidak adil oleh suaminya. Sekilas sikap istri  tersebut seolah bijak padahal ternyata ada efek negatifny. Ketika memiliki menantu perempuan, dia berusaha menjadikan si menantu tsb seperti dirinya dulu dan seolah enggak rela ketika menantunya bahagia bersama anaknya. Nah, bukankah ini juga tidak sehat? Bukankah banyak sekali yang semacam ini? Padahal si menantu perempuan enggak salah apa-apa. Dan kira-kira bagaimana perasaan orangtua si menantu perempuan ketika ibu mertuany memiliki niat seperti itu walau tidak ia sadari.

Ketidakbahagiaan dalam pernikahan juga bisa membuat seseorang sangat tidak suka melihat orang lain bahagia. Seperti kata pepatah hurt people hurt people. Misal, berkata-kata pedas menyakitkan padahal orang lain enggak mengusik ketenangan hidupnya/enggak merebut suaminya:

"Gitu aja dianterin, emang enggak bisa ya berangkat sendiri," padahal sejatinya dia ingin juga diperlakukan seperti itu.

"Kalau aku sih emang pekerja keras ya enggak suka nganggur. Bedalah sama kamu yang di rumah aja," padahal dia juga mau diperlakukan layaknya princes

"Kok gak hamil-hamil ya ntar suamimu nikah lagi lhoh," entah apa untungnya bilang begini. Kenapa bahagianya harus nunggu ketika perasaan orang lain hancur? Na'udzubillah.

Atau keusilan lainnya.

Jika disimpulkan, ketidakbahagiaan dalam pernikahan bisa membuat seorang wanita menyakiti orang lain selain dirinya (ingin membuat orang lain menderita seperti dirinya) atau menyakiti diri sendiri (bunuh diri atau semacamnya).

Adakah wanita yang tidak bahagia dalam pernikahan tapi tidak seperti itu? Kenyataannya ada jika kita mau membuka mata. Wanita tersebut adalah sosok berhati mutiara, yang ikut bahagia melihat orang lain bahagia sekalipun dirinya penuh luka, dan yang tidak ingin orang lain merasakan apa yang ia rasakan. Wanita ini adalah wanita berhati bidadari. Semoga Allah memberikan yang terbaik dengan mengobati luka-luka di hatinya.

Sahabat Ummi, jika kita sudah tahu bahwa efek ketidakbahagiaan dalam pernikahan ini sifatnya domino banget, semoga kita memiliki usaha untuk membuat pernikahan kita bahagia sesuai dengan kondisi masing-masing. Peradaban besar dimulai dari keluarga. Yang itu artinya untuk membentuk peradaban terrbaikk dibutuhkan keluarga-keluarga yang sehat mental dan jiwanya, tidak hanya penampakan fisik saja yang mentereng. Semoga kita bisa mewujudkannya demi dunia yang lebih damai. Aamiin.


Referensi: dari berbagai sumber tulisan tentang pernikahan dan psikologi populer serta pengamatan.

7 Ciri-ciri Orangtua yang Salah Mendidik Anak, Apakah Kita Termasuk?

Sahabat Ummi, apakah kita termasuk orangtua yang salah mendidik anak? Coba kita simak beberapa ciri-ciri berikut ini, semoga bisa menjadi bahan introspeksi karena sejatinya anak adalah titipan Allah yang harus dijaga:

1. Sering mengeluarkan kata-kata sumpah serapah, makian, dan kutukan pada anak

"Anak pelit! Bodoh! Tak tahu diuntung!"

Pernahkah kita mengucap kata makian pada anak kita? Astaghfirullah, kata yang diucap orangtua bisa menjadi doa untuk buah hatinya, apalagi hardikan bisa merusak sel otak anak kita, jangan pernah melakukan hal ini lagi ya Sahabat Ummi, karena sama sekali bukan contoh yang baik untuk anak. Suatu saat mereka akan meniru dan gantian menghujani kita dengan sumpah serapah.

2. Membanding-bandingkan anak, baik dengan saudara kandungnya sendiri maupun dengan anak lain

"Tuh adikmu lebih pintar! Kamu kok gini aja gak bisa sih?"

Mungkin maksudnya ingin menyemangati, tapi percayalah membanding-bandingkan anak dengan orang lain sama sekali bukan cara yang tepat. Justru rasa percaya diri anak atau kepercayaan anak pada diri kita akan menurun jika sering dibanding-bandingkan.

3. Menasihati anak atau memarahinya di depan orang lain

Menasihati anak di depan orang lain bisa membuatnya malu karena tampak bodoh, apalagi kalau sampai orangtua memarahi anak di depan umum. Anak akan merasa kehilangan harga diri, dan kemungkinan orang lain membully dirinya bisa lebih besar. "Ibunya saja memarahi dia, berarti kita pun boleh memarahi dia..." Itulah sinyal yang ditangkap oleh sekitar.

4. 'Menyetir' anak agar menjadi seperti yang orangtua inginkan

Anak diikutsertakan les bahasa Inggris, les biola, les menyanyi, les berhitung, les mengaji, astaghfirullah... kalau anak memang senang dan mengerti mengapa ia perlu mengikuti les, rasanya tidak ada salahnya, apalagi kalau ia menikmati semua les tersebut. Tapi kalau anak justru merasa stres dan bahkan depresi, tolong ayah dan bunda hentikan 'menyetir' anak mengikuti obsesi orangtua.

5. Selalu meminta anak memperoleh nilai terbaik dan tidak mentolerir kegagalan

Orangtua yang bijak akan memberi ruang untuk anak melakukan kesalahan dan membiarkan mereka belajar dari kegagalan yang pernah dialaminya, karena menyadari pentingnya kegagalan untuk mendidik anak lebih kuat dan bersabar. Akan tetapi orangtua yang salah pola didiknya akan menerapkan cara perfeksionis di mana anak tidak boleh gagal sekalipun.

6. Jarang berinteraksi atau mengobrol bebas dengan anak

Hanya sekadar memakaikan anak baju, memandikan, menyuapi, dan meninabobokan tidaklah dapat dikatakan telah berinteraksi dengan anak.
Apakah kita sudah tahu kegiatan kesukaan anak? Pelajaran apa yang mereka anggap sulit? Siapa teman terdekat mereka? Siapa guru yang mereka sukai? Apa yang terjadi hari ini di sekolah mereka?
Kita akan mengetahui banyak hal tentang anak-anak ketika mengobrol bebas dan lepas dengan mereka.

7. Ogah meng-upgrade diri dengan ilmu parenting terkini

Orangtua yang tak mau tahu dengan ilmu parenting terkini berarti tak mengerti tingginya kedudukan ilmu dalam Islam. Banyak yang perlu dipelajari karena hubungan orangtua dengan anak bisa menjadi hubungan yang sangat rumit.

Foto ilustrasi: google

Sumber :umi online